CERMIN: Melihat Dunia Buku Bekerja di Amerika
Sabtu, 02 Maret 2024 - 13:53 WIB
loading...
Film American Fiction menampilkan liku kehidupan seorang penulis di antara idealisme dan nilai komersial. Foto/Amazon MGM Studios
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2015. Dalam wawancaranya dengan Goethe Institut, penulis perempuan Feby Indirani menceritakan kesulitan menjadi penulis buku di negeri yang tingkat melek hurufnya justru sudah mencapai 93%.
Feby yang mantan jurnalis di sebuah stasiun televisi berkisah tentang bagaimana ia dianggap gila ketika meninggalkan pekerjaan mapan untuk bekerja penuh sebagai penulis. Tentu saja menjadi penulis, sebagaimana profesi lainnya, juga punya kesulitannya sendiri.
Buat Feby, salah satu masalah yang dihadapinya dan belum terpecahkan sembilan tahun setelah wawancara itu diterbitkan adalah, bahwa di Indonesia belum ada agen penulis yang mumpuni yang bisa mengurus segala tetek bengek keperluan penulis.
Baca Juga: CERMIN: Betulkah Denis Villeneuve Mereduksi Nilai-Nilai Islam dalam Dune?
Kisah seorang penulis dengan segala likunya berjibaku dengan hidup dan keinginan untuk sukses belum banyak diangkat dalam cerita film atau serial Indonesia. Sementara di Amerika sudah cukup banyak film yang memajang kisah-kisah menarik semacam itu, yang paling baru adalah American Fiction yang baru saja beroleh 5 nomine Oscar.
![CERMIN: Melihat Dunia Buku Bekerja di Amerika]()
Foto: Amazon MGM Studios
American Fiction yang tayang di Prime Video menjadi jendela bagi kita melihat dunia buku bekerja di Amerika. Kita bertemu dengan karakter utamanya, Thelonius “Monk” Ellison, seorang penulis frustasi sekaligus profesor di salah satu universitas, yang baru saja dipecat.
Berbeda dengan Feby, Monk justru sudah punya agen penulis yang mengurus sejak awal kariernya, meskipun belum satu pun buku-buku yang dihasilkannya meraih sukses komersial. Tapi Arthur, sang agen, setia mendampinginya pada saat Monk justru semakin goyah dengan kepercayaannya terhadap diri sendiri.
Begitupun Monk menghadapi masalah yang sama dengan Feby. Rupanya tidak di Amerika, juga di Indonesia, penerbit selalu haus dengan tema-tema populer. Salah satu novel yang dihasilkannya berjudul The Persian meski dipuji kritikus karena dianggap sebagai “pengerjaan ulang yang menarik dari sebuah tragedi Yunani yang masih kabur” itu toh tetap saja tidak menghasilkan uang.
Feby yang mantan jurnalis di sebuah stasiun televisi berkisah tentang bagaimana ia dianggap gila ketika meninggalkan pekerjaan mapan untuk bekerja penuh sebagai penulis. Tentu saja menjadi penulis, sebagaimana profesi lainnya, juga punya kesulitannya sendiri.
Buat Feby, salah satu masalah yang dihadapinya dan belum terpecahkan sembilan tahun setelah wawancara itu diterbitkan adalah, bahwa di Indonesia belum ada agen penulis yang mumpuni yang bisa mengurus segala tetek bengek keperluan penulis.
Baca Juga: CERMIN: Betulkah Denis Villeneuve Mereduksi Nilai-Nilai Islam dalam Dune?
Kisah seorang penulis dengan segala likunya berjibaku dengan hidup dan keinginan untuk sukses belum banyak diangkat dalam cerita film atau serial Indonesia. Sementara di Amerika sudah cukup banyak film yang memajang kisah-kisah menarik semacam itu, yang paling baru adalah American Fiction yang baru saja beroleh 5 nomine Oscar.

Foto: Amazon MGM Studios
American Fiction yang tayang di Prime Video menjadi jendela bagi kita melihat dunia buku bekerja di Amerika. Kita bertemu dengan karakter utamanya, Thelonius “Monk” Ellison, seorang penulis frustasi sekaligus profesor di salah satu universitas, yang baru saja dipecat.
Berbeda dengan Feby, Monk justru sudah punya agen penulis yang mengurus sejak awal kariernya, meskipun belum satu pun buku-buku yang dihasilkannya meraih sukses komersial. Tapi Arthur, sang agen, setia mendampinginya pada saat Monk justru semakin goyah dengan kepercayaannya terhadap diri sendiri.
Begitupun Monk menghadapi masalah yang sama dengan Feby. Rupanya tidak di Amerika, juga di Indonesia, penerbit selalu haus dengan tema-tema populer. Salah satu novel yang dihasilkannya berjudul The Persian meski dipuji kritikus karena dianggap sebagai “pengerjaan ulang yang menarik dari sebuah tragedi Yunani yang masih kabur” itu toh tetap saja tidak menghasilkan uang.
Lihat Juga :