3 Wisata Religi Favorit di Ponorogo, Cocok Jadi Destinasi saat Ramadan dan Lebaran
Sabtu, 09 Maret 2024 - 15:30 WIB
loading...
A
A
A
Terdapat juga 36 tiang masjid dari kayu jati yang dipasang tanpa menggunakan paku. Terdapat 4 saka guru, 24 saka pinggir, dan 12 saka rawa. Adapun kubah masjid berasal dari tanah liat yang masih bertahan hingga saat ini.
Masjid Jami’ Tegalsari memiliki kegiatan rutin, yaitu Tahlil Kubro dan Ambengan Peringatan Haul Kyai Ageng Mohammad Besari, I’tikaf (Qiyaamu Lailati Ramadhan), Shalat Sunnah Rajab, Shalat Idulfitri, Shalawatan Maulud, Ziarah Makam, Semaan Al-Qur'an Biannadhor, Dzikrul Gholifin, Mujahadah Qiyamul Lail, dan Qodiriyah.
![3 Wisata Religi Favorit di Ponorogo, Cocok Jadi Destinasi saat Ramadan dan Lebaran]()
Foto: Instagram @annisareha
Masjid Agung Ponorogo terletak di jalan Aloon-Aloon Barat Kabupaten Ponorogo. Lokasinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari wilayah gedung atau pendapa Kabupaten Ponorogo.
Masjid ini biasanya menjadi sasaran tempat singgah para pengunjung dari luar Ponorogo untuk salat atau sekadar beristirahat sambil menikmati kemegahan bangunannya.
Masjid Agung Ponorogo didirikan pada 1858 oleh Raden Mas Adipati Aryo Tjokronegoro. Masjid ini memiliki sembilan kubah kecil berwarna hijau sebagai simbol sembilan wali atau walisongo. Proses pembangunan Masjid Agung Ponorogo diawali pada masa penjajahan Belanda yang awalnya hanya sebagai musala.
Musala itu lalu dibangun ulang oleh Adipati Tjokronegoro menggunakan 16 tiang kayu jati sebagai pilar utama. Pembangunannya dipercayai dikerjakan oleh tukang kayu khusus dari kerajaan Solo dengan kondisi suci. Masjid ini juga memiliki dua bangunan utama dengan karakteristik berbeda.
Pemugaran Masjid Agung Ponorogo dilakukan sebanyak tiga kali. Pertama oleh Bupati Soemadi pada 1975, kedua pada 1984 oleh Bupati Soebarkah. Terakhir, pemugaran dilakukan oleh Bupati Markum Singodimedjo pada 1995.
Masjid Jami’ Tegalsari memiliki kegiatan rutin, yaitu Tahlil Kubro dan Ambengan Peringatan Haul Kyai Ageng Mohammad Besari, I’tikaf (Qiyaamu Lailati Ramadhan), Shalat Sunnah Rajab, Shalat Idulfitri, Shalawatan Maulud, Ziarah Makam, Semaan Al-Qur'an Biannadhor, Dzikrul Gholifin, Mujahadah Qiyamul Lail, dan Qodiriyah.
2. Masjid Agung Ponorogo
_annisareha_Instagram.jpg)
Foto: Instagram @annisareha
Masjid Agung Ponorogo terletak di jalan Aloon-Aloon Barat Kabupaten Ponorogo. Lokasinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari wilayah gedung atau pendapa Kabupaten Ponorogo.
Masjid ini biasanya menjadi sasaran tempat singgah para pengunjung dari luar Ponorogo untuk salat atau sekadar beristirahat sambil menikmati kemegahan bangunannya.
Masjid Agung Ponorogo didirikan pada 1858 oleh Raden Mas Adipati Aryo Tjokronegoro. Masjid ini memiliki sembilan kubah kecil berwarna hijau sebagai simbol sembilan wali atau walisongo. Proses pembangunan Masjid Agung Ponorogo diawali pada masa penjajahan Belanda yang awalnya hanya sebagai musala.
Musala itu lalu dibangun ulang oleh Adipati Tjokronegoro menggunakan 16 tiang kayu jati sebagai pilar utama. Pembangunannya dipercayai dikerjakan oleh tukang kayu khusus dari kerajaan Solo dengan kondisi suci. Masjid ini juga memiliki dua bangunan utama dengan karakteristik berbeda.
Pemugaran Masjid Agung Ponorogo dilakukan sebanyak tiga kali. Pertama oleh Bupati Soemadi pada 1975, kedua pada 1984 oleh Bupati Soebarkah. Terakhir, pemugaran dilakukan oleh Bupati Markum Singodimedjo pada 1995.
Lihat Juga :