alexametrics

Bunga untuk Mira, Legenda Rakyat yang Dipoles dengan Gaya Broadway

loading...
Bunga untuk Mira, Legenda Rakyat yang Dipoles dengan Gaya Broadway
Sutradara seni pertunjukan Mhya Johannes mendapat tantangan tersendiri saat menggarap Bunga untuk Mira. / Foto: KoranSINDO/Thomas Manggalla
A+ A-
JAKARTA - Terinspirasi dari cerita rakyat "Bawang Merah dan Bawang Putih", sutradara seni pertunjukan Mhya Johannes menggelar pertunjukan pop musikal berjudul "Bunga untuk Mira" pada 22 dan 23 Desember mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Selepas kesuksesan pagelaran kultural bertajuk "Colors of Indonesia" di Garuda Wisnu Kencana, Bali, pekerja seni yang akrab disapa Mhyajo itu seperti tak bisa menghentikan geliat kreativitasnya. Dengan enerji yang masih ada, dia langsung mengalihkan konsentrasinya kepada "Bunga untuk Mira".

Berpengalaman menakhodai sebuah pementasan kolosal yang melibatkan 1.586 pekerja seni, Mhyajo justru merasa tertantang saat menggarap teater yang melibatkan 43 pekerja seni tersebut.



"Bunga untuk Mira" merupakan karya kedua Mhyajo di tahun ini. Pagelaran berjenis pop musikal ini ditulis selepas Mhyajo pulang dari New York, Amerika Serikat, pertengahan tahun lalu.

Mhya menjelaskan, Bunga untuk Mira berbeda dengan teater musikal pada umumnya. Tidak hanya sekadar mengadaptasi cerita, Mhya juga menyajikan teater musikal dengan berbagai konflik, mulai dari cinta, ambisi sampai kematian yang akan dibalut dalam kemasan kekinian.

"Adaptasi legenda dari Bawang Merah dan Bawang Putih ini adalah adaptasi bebas yang saya balut dalam imajinasi fiksi ilmiah. Saya pun mengganti nama dua tokoh utama menjadi Mira dan Puti. Meskipun diadaptasi secara bebas, agar bisa diterima banyak orang, saya juga akan mengaitkan benang merah kisah yang sama dengan cerita aslinya," jelas Mhya saat ditemui SINDO usai jumpa pers di Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Demi merealisasikan ide cemerlangnya itu, Mia menggandeng sejumlah seniman, yang telah terbiasa wara-wiri di berbagai konser dan seni pertunjukan. Sebut saja musisi muda Mondo Gascaro, yang akan menangani musik. Menurut Mhya, Mondo adalah salah satu musisi yang memiliki ide dan mampu membuat karya-karya yang cerdas.

Bahkan, untuk menggarap proyek ini, Mondo berusaha membuat lagu-lagu dan aransemen musik baru bersama rekannya Indra Prakarsa. Diketahui, pembuatan musik dimulai dari April lalu, dan masih terus berkembang sampai akhir November ini.

"Nantinya pertunjukan akan berlangsung live orkestra, begitu pula dengan nyanyian dari pemain. Untuk menggarap pertunjukan ini, saya ingin menghadirkan tradisi musikal broadway. Saya dibebaskan memberikan sentuhan apapun, mulai dari modern, pop dan sampai dark. Saya pun menyebutnya, jazz fantasi," terangnya.

Menurut Mondo, musisi yang terlibat dalam pementasan teater ini, karya tersebut nantinya akan sangat kental dengan nada-nada jazz. Lebih dari itu, dia yakin dapat membuat komposisi yang akan menggelitik hearing sense dari para penonton, karena berbau nada-nada minor yang dia tuangkan di setiap karyanya.

Sedangkan untuk koreografer, Mhya juga memilih orang tepat untuk menangani pertunjukan ini. Dia adalah koreografer muda bernama, Ufa Sofura, yang belum lama ini berkesempatan menjajal pula pentas di Broadway, New York. Ufa mengecap pengalaman berharga, yakni menerima pengarahan langsung dari direktur musik kenamaan, Seth Weinstein.

"Setelah pulang dari New York saya memiliki lebih banyak imajinasi. Di sana saya belajar, bagaimana belajar banyak, salah satunya membuat teknik tari yang simpel dan mudah, tetapi terlihat menawan dan bisa dinikmati oleh penonton. Nanti, teknik itu juga yang akan saya terapkan di pertunjukan ini," papar Ufa.

Meski tampak sempurna, Mhya juga sempat mengalami hambatan ketika menggarap "Bunga untuk Mira" ini. Pasalnya, Indonesia kekurangan sumber daya yang komplit full pacakage dalam pertunjukan teater, sehingga dia kesulitan menentukan pemain yang bisa terlibat dalam produksi teater ini.

"Kendalanya mungkin paling berat itu mencari cast yang pas untuk masing-masing karakter yang sudah saya buat, jadi memang kesulitan itu karena di Indonesia musical cast sangat jarang. Sulit, ada yang bisa nyanyi tapi enggak bisa akting, begitu pula sebaliknya bisa akting tapi enggak bisa nyanyi. Belum lagi menarinya kaku jadi gak ada yang tampil dengan paket lengkap tapi kalau proses kreatif enggak ada kendala," jelas Mhya.

Mhya, Mondo dan Ufa pun memperoleh tantangan untuk mendapatkan pemain yang diharapkan, karena seperti diungkapkan tadi, para pemain yang terpilih haruslah orang-orang yang memiliki paket lengkap. Dari proses penelusurannya, akhirnya mereka memilih setidaknya delapan pemain yang terdiri dari beragam profesi, antara lain Sheryl Geting atau yang dikenal Shae (penyanyi), Daniel Adnan, Dea Panendra, dan Johan Yanuar.
(nug)
preload video
loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak