Film-film India yang Mengingatkan Kita pada Kebesaran Industri Film Bollywood
Selasa, 18 Agustus 2020 - 21:47 WIB
loading...
A
A
A
2. KABHI KUSHI KABHIE GHAM
![Film-film India yang Mengingatkan Kita pada Kebesaran Industri Film Bollywood]()
Foto: Yash Raj Films
Chemistry Kajol dan Shahrukh Khan emang udah gak perlu dipertanyakan lagi. "Kabhi Kushi Kabhie Gham" adalah film kesekian yang dibintangi keduanya, setelah "Dilwale Dulhania Le Jayenge", "Kuch Kuch Hota Hai", lalu dilanjutkan dengan film-film lain seperti "Dilwale" dan "My Name is Khan". (Baca Juga: Sosoknya Sempurna, Ini Deretan Anak seleb Bollywood yang Ikuti Jejak Karier Ayahnya )
"Kabhi Kushi Kabhie Gham" bukan film roman biasa. Film ini mengangkat banyak sekali nilai penting mengenai toleransi, keberagaman, dan pentingnya empati dalam kehidupan manusia. Konflik yang ditonjolkan adalah bagaimana perbedaan kelas sosial –banyak disebut juga dengan istilah ‘si kaya’ dan ‘si miskin’ – bikin banyak orang menumpulkan rasa kemanusiaannya terhadap orang yang berasal dari golongan berbeda dengan dirinya.
Itulah yang dirasakan tokoh utama saat ayahnya, yang berasal dari golongan kelas atas, menentang hubungan dirinya dengan perempuan pilihannya. Alasan penolakan sang ayah gak lain dan gak bukan adalah karena perempuan itu gak “sederajat” dengan keluarga mereka. Tapi kesabaran dan kegigihan keduanya akhirnya berhasil menyadarkan kita bahwa latar belakang keluarga dan kekayaan bukanlah faktor tunggal yang menentukan nilai dan harga diri seorang manusia.
3. PK
![Film-film India yang Mengingatkan Kita pada Kebesaran Industri Film Bollywood]()
Foto: UTV Motion Pictures
PK adalah film yang sangat “kaya”, dalam artian, ia mengajarkan kita banyak nilai penting soal kehidupan di tengah masyarakat multikultural yang tentunya erat banget dengan kehidupan kita hari ini. Film ini menyoroti perjalanan seorang alien yang tersesat di bumi dalam mendefinisikan bagaimana agama, budaya, dan latar belakang manusia, seharusnya menjadi nilai yang mengajarkan pada kebaikan, alih-alih mengkotak-kotakkan dan memecah belah mereka.
Sayangnya, di tengah perjalanan, dia menemukan banyak sekali jenis manusia yang menjual dan menjadikan agama dan atau kebudayaannya sebagai alat untuk semata mendapatkan keuntungan material yang menguntungkan diri dan kelompoknya sendiri dan mengecilkan kelompok lain, dan itu semua dilakukan dengan mengesampingkan hingga mengubah ajaran itu sendiri.

Foto: Yash Raj Films
Chemistry Kajol dan Shahrukh Khan emang udah gak perlu dipertanyakan lagi. "Kabhi Kushi Kabhie Gham" adalah film kesekian yang dibintangi keduanya, setelah "Dilwale Dulhania Le Jayenge", "Kuch Kuch Hota Hai", lalu dilanjutkan dengan film-film lain seperti "Dilwale" dan "My Name is Khan". (Baca Juga: Sosoknya Sempurna, Ini Deretan Anak seleb Bollywood yang Ikuti Jejak Karier Ayahnya )
"Kabhi Kushi Kabhie Gham" bukan film roman biasa. Film ini mengangkat banyak sekali nilai penting mengenai toleransi, keberagaman, dan pentingnya empati dalam kehidupan manusia. Konflik yang ditonjolkan adalah bagaimana perbedaan kelas sosial –banyak disebut juga dengan istilah ‘si kaya’ dan ‘si miskin’ – bikin banyak orang menumpulkan rasa kemanusiaannya terhadap orang yang berasal dari golongan berbeda dengan dirinya.
Itulah yang dirasakan tokoh utama saat ayahnya, yang berasal dari golongan kelas atas, menentang hubungan dirinya dengan perempuan pilihannya. Alasan penolakan sang ayah gak lain dan gak bukan adalah karena perempuan itu gak “sederajat” dengan keluarga mereka. Tapi kesabaran dan kegigihan keduanya akhirnya berhasil menyadarkan kita bahwa latar belakang keluarga dan kekayaan bukanlah faktor tunggal yang menentukan nilai dan harga diri seorang manusia.
3. PK

Foto: UTV Motion Pictures
PK adalah film yang sangat “kaya”, dalam artian, ia mengajarkan kita banyak nilai penting soal kehidupan di tengah masyarakat multikultural yang tentunya erat banget dengan kehidupan kita hari ini. Film ini menyoroti perjalanan seorang alien yang tersesat di bumi dalam mendefinisikan bagaimana agama, budaya, dan latar belakang manusia, seharusnya menjadi nilai yang mengajarkan pada kebaikan, alih-alih mengkotak-kotakkan dan memecah belah mereka.
Sayangnya, di tengah perjalanan, dia menemukan banyak sekali jenis manusia yang menjual dan menjadikan agama dan atau kebudayaannya sebagai alat untuk semata mendapatkan keuntungan material yang menguntungkan diri dan kelompoknya sendiri dan mengecilkan kelompok lain, dan itu semua dilakukan dengan mengesampingkan hingga mengubah ajaran itu sendiri.
Lihat Juga :