alexametrics

Wisata Berlayar di Sri Lanka

loading...
Wisata Berlayar di Sri Lanka
Wisata Berlayar di Sri Lanka. (Istimewa).
A+ A-
SAAT ingin liburan dengan berlayar, terpikir untuk mengunjungi Yunani, Kroasia atau Turki, mungkin Karibia pada musim dingin.

Namun, Sri Lanka dengan beberapa pantai yang paling menakjubkan di dunia, dikelilingi Samudra Hindia yang hangat, bukanlah tujuan berlayar yang terkenal. Tidak banyak yang berpikir atau tahu jika Sri Lanka bisa menjadi destinasi berlayar.

Namun, semua ini berubah setelah tsunami menghantam negara ini pada tahun 2004 silam. Dikutip The Guardian, liburan berlayar di Sri Lanka ini berawal dari bencana tsunami yang dahsyat pada tahun 2004.



Setelah kejadian itu, diplomat Belgia Pierre Pringiers membantu mendirikan Building a Future Foundation dengan sebuah perguruan tinggi yang mengajarkan segala hal tentang berlayar, mulai dari pembuatan kapal, pembuatan perahu untuk navigasi, hingga mekaniknya.

Saat ini Anda pun bisa menikmatinya. Setelah bersinar sepanjang hari, matahari menyelinap di balik tepian awan di barat. Di teluk, tepat di luar Dondra Head, kehidupan berlayar mulai terlihat.

Ini adalah momen santai di tempat berjemur kapal layar Crystal, dalam suasana yang relatif sejuk pada malam hari. Di sekitar pantai selatan Sri Lanka, Anda bisa menikmati pantai-pantai yang dibatasi pohon palem dan cagar alam atau situs UNESCO.

Jika tidak, Anda bisa membaca saja atau melakukan kegiatan lain. Untuk berlayar, Anda bisa bergabung bersama kelompok tur kecil G Adventures berlayar selama tujuh hari di pantai selatan antara November dan April, atau beralih ke pantai timur untuk Juni-Oktober.

Saat ini G Adventures bekerja sama dengan Sail Lanka, sebuah startup yang dibantu yayasan. G Adventures dimulai sebagai perusahaan kesenjangan tahun, dan penekanannya masih pada perjalanan petualangan dengan harga untuk pelanggan muda.

Namun, ketika kita keluar naik tuk-tuk di Pelabuhan Mirissa, lalu naik kereta tiga jam dari Kolombo, kita bisa melihat kapal berlayar Crystal di dermaga. Kapal ini memiliki empat kabin, dua di masing-masing lambung katamaran, berukuran kecil—lobi berfungsi ganda seperti kamar mandi dan toilet—tetapi memiliki tempat tidur besar yang nyaman, jendela atap sembulan dan AC.

Ada juga listrik dari panel surya di dek. Dari kapal, kita juga bisa melihat ikan paus sambil menikmati sarapan pagi. Jika Anda beruntung, bisa melihat ikan paus biru besar yang terus muncul beberapa kali.

Lalu lumbalumba yang bermain di gelombang haluan, berenang di bawah kapal dan muncul kembali. Setelah itu, Anda bisa menikmati tur di Galle Fort, lalu melompat dari geladak untuk berenang sebelum makan malam.

Untuk beraksi, ada kayak dan papan dayung berdiri di dek, sirip, dan snorkeling di loker belakang. Anda bisa snorkeling di karang Kalpitiya, melihat pemakan lebah hijau, elang laut, dan burung merak di cagar alam burung Kalametiya.

Lalu menikmati keindahan pantai yang spektakuler seperti Kudawella, yang memiliki dua pasir sempurna di kedua sisi. Atau jika Anda malas ke mana-mana, Anda bisa menikmati liburan di sekitar kapal layar Crystal.

Anda bisa menikmati matahari terbenam, menonton kelelawar memakan serangga yang mengitari lampu-lampu kapal, dan barbekyu semalam di pantai terpencil. Jika sudah lapar, Chef Indonil, yang telah bekerja di kapal-kapal di seluruh dunia, akan memasak tiga makanan yang bervariasi setiap hari.

Anda bisa memesan apa pun yang Anda suka. Misalkan masakan Meksiko, atau taco ikan, bahkan spageti bolognese. Anda juga bisa merasakan sarapan dengan nasi hasil panen warga setempat yang dimasak dalam susu, kurma dan onion chutney . Lalu kue dan buah-buahan yang khas.

Dari segitiga budayanya hingga taman nasionalnya, Sri Lanka memiliki banyak pemandangan dan keajaiban. Jadi, jangan lewatkan berwisata sembari membantu Nepal bangkit dari terjangan tsunami tahun 2004 itu. (Susi Susanti)


(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak