alexametrics

GAC Kembali Tantang Insan Kreatif Muda Tanah Air

loading...
GAC Kembali Tantang Insan Kreatif Muda Tanah Air
Mengangkat tema Biar Tapi Jadi Bukti, GAC mulai mencari lagi submisi karya awal dari 15 Maret hingga 30 Juni mendatang. / Foto: KoranSINDO/Thomas Manggalla
A+ A-
JAKARTA - Ajang adu kreativitas Go Ahead Challenge (GAC) kembali digelar. Kompetisi yang sudah berjalan selama lima tahun ini mengajak insan kreatif muda Tanah Air agar dapat bebas berekspresi, berani unjuk karya, demi menepis keraguan dan mengubahnya menjadi bukti.

Mengangkat tema "Biar Tapi Jadi Bukti", GAC mulai mencari lagi submisi karya awal dari 15 Maret hingga 30 Juni mendatang. Kali ini, GAC akan mencari insan kreatif yang bergerak di bidang musik, fotografi/film, dan visual art.

Selama perjalanannya, GAC sudah menelurkan sejumlah talenta baru yang mempau memberikan warna serta semangat buat industri seni kreatif Tanah Air, di antaranya Wake Up Iris!, Semiotika, Raditya Bramantya (bramskky), Dylan Amirio (Logiclost), dan banyak lainnya.



Hal tersebut juga diamini oleh Widi Puradiredja, salah satu kurator GAC yang melihat langsung manfaat dari program ini selama menjadi kurator pada edisi sebelumnya. "Selama keterlibatan saya sebagai kurator maupun mentor di GAC, saya bisa mengatakan bahwa kompetisi ini dapat menjadi sebuah 'pintu ke mana saja' bagi mereka yang ingin menekuni bidang seni kreatif," paparnya.

"Apalagi mereka yang selama ini diragukan atau bahkan meragukan diri mereka sendiri untuk bisa berani berkarya. Program ini mampu memberikan kesempatan untuk belajar dan berproses serta memperluas network," tambah Drummer Maliq & D’Essentials tersebut.

Widi pun memberikan satu bukti teranyar dari spirit empowerment yang ada pada GAC, yakni kisah Gabriela, pemenang pada edisi sebelumnya yang baru saja mendapatkan Aspirational Reward berupa perjalanan pengalaman industri kreatif di London. "Menariknya pemenang dari ajang ini Geby bisa melihat di sana belajar ketemu masalah baru gimana cari solusi jadi pelajaran penting secara teknikal," tukasnya.

Selama perjalanan tersebut, Gabriela memperoleh beberapa pengalaman yang dia yakini sebuah pembelajaran penting yang dapat memperkaya diri dan sebagai bekal dalam memasuki industri kreatif yang sesungguhnya. "Ada banyak yang bisa saya catat di jurnal pribadi saya," tandas Geby.

"Mengikuti perjalanan band sebesar Maliq & D’Essentials di studio legendaris sekelas Abbey Road Studio dalam pembuatan album terbarunya, dan mengenal karya-karya seni legendaris dan kontemporer dunia bersama Kendra Ahimsa (Ardneks), tentu menjadi pengalaman yang tidak bisa saya lupakan."

"Tidak berhenti sampai di situ, saya bersama pemenang lainnya Athyo mendapatkan pengalaman untuk tampil membawakan karya saya sendiri di sebuah bar di kota tersebut, dan senangnya pertunjukkan kecil kami mendapatkan respons yang baik dari audiens," Gabriela Fernandez menambahkan.

Sementara itu, usai proses submisi berakhir, GAC akan menentukan nama finalis dalam sebuah proses seleksi karya oleh para kurator. Setelahnya, para finalis akan menjalani Creative Academy intensif selama satu minggu penuh bersama para kurator dan mentor, sebelum nantinya para finalis diharapkan dapat membuat sebuah karya kolaboratif yang akan menjadi penentu siapa yang berhak menjadi pemenang.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak