alexametrics

Review Film X-Men: Dark Phoenix

loading...
Review Film X-Men: Dark Phoenix
X-Men: Dark Phoenix jelas bukanlah film terbaik X-Men, tapi juga bukan yang terburuk. Film ini berjalan datar, tanpa emosi dan juga chemistry yang kurang. (The Sun Daily)
A+ A-
Banyak harapan ketika proyek X-Men: Dark Phoenix diumumkan beberapa tahun lalu. Film ini adalah pemungkas rangkaian franchise X-Men yang dimulai studio Fox pada 20 tahun lalu. Sayang, hasilnya tidak setinggi harapan banyak orang.

Film sepanjang 114 menit ini terasa sangat flat. Bahkan, momen konklusi yang seharusnya menjadi titik emosional, berjalan datar dan tidak ada letupan emosi besar di dalamnya. Padahal, cerita Dark Phoenix ini sebenarnya bagus di versi komiknya.

Dark Phoenix mengisahkan tentang Jean Grey (Sophie Turner) yang terkena serangan kekuatan kosmik, Phoenix Force, saat menjalankan misi bareng X-Men ke antariksa. Kekuatan itu merasuki tubuh Jean dan membuatnya sangat kuat. Bukannya untuk kebaikan, kekuatan itu justru mempengaruhi Jean untuk melakukan kerusakan. Bahkan, Profesor Charles Xavier (James McAvoy) pun susah mengendalikan Jean. Aksi merusak Jean itu memasuki babak baru setelah Mystique/Raven (Jennifer Lawrence) tewas di tangannya.



Kematian Raven membuat Beast (Nicholas Hoult) meradang. Dia menyalahkan Charles atas apa yang terjadi pada X-Men, Jean dan Raven. Dia kemudian pergi menemui Magneto (Michael Fassbender) dan meminta bantuan untuk menemukan Jean. Magneto yang mendengar kabar kematian Raven dari Beast pun jadi marah. Dia bertekad membunuh Jean. Perburuan dimulai. Magneto dan anak buahnya yang bersekutu dengan Beast berusaha mencari Jean untuk membunuhnya, sedangkan Profesor X bersama Cyclops (Tye Sheridan), Storm (Alexandra Shipp) dan Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee) ingin menyelamatkan Jean.

Di sisi lain, Jean bertemu Smith (Jessica Chastain), seorang wanita misterius yang ternyata adalah jelmaan makhluk luar angkasa yang bisa berubah bentuk. Smith berusaha mempengaruhi Jean untuk merebut kekuatan Phoenix dari dalam dirinya. Smith dan anak buahnya datang ke Bumi untuk memburu Phoenix dengan tujuan menggunakan kekuatan itu untuk membunuh umat manusia di Bumi.

Kehadiran alien yang kemudian berubah bentuk sebagai manusia ini akan mengingatkan pada Skrull yang tampil di Captain Marvel. Meskipun Dark Phoenix tidak menyebutkan kata Skrull dan bentuk aliennya berbeda dengan yang ada di Captain Marvel, tapi penggemar komik Marvel pastinya sudah bisa menebak bahwa alien di Dark Phoenix ini adalah Skrull. Bedanya, jika Skrull di Captain Marvel itu baik, maka di Dark Phoenix, Skrull digambarkan sebagai alien jahat. Kemiripan ini sepertinya menjadi alasan bagi sutradara Simon Kinberg untuk melakukan syuting ulang film ini. Selain karena alasan ending yang memang hampir mirip dengan Captain Marvel jika terjadi di antariksa. (Baca juga: Mirip Captain Marvel, Ending X-Men: Dark Phoenix Diubah Total?)

Selain itu, Dark Phoenix seharusnya menjadi konklusi yang emosional bagi 20 tahun perjalanan franchise X-Men di Fox. Sayang, emosi kurang didapatkan dari film ini. Meskipun film ini—sebenarnya—ceritanya sangat sedih karena menggali latar belakang dan masa lalu Jean yang tragis, tapi, efek emosional meledak-ledak tidak muncul. Bahkan, kematian Mystique pun terasa biasa saja. Entah mengapa. Ledakan emosi yang seharusnya ada dalam hubungan Jean dan Cyclops pun terasa hambar. Malahan, chemistry mereka tidak terlalu kuat sebagai pasangan kekasih di film yang kemudian memaksa mereka harus berpisah karena pengaruh kekuatan Phoenix di dalam diri Jean.

Meski begitu, salah satu hal yang menarik di film ini adalah karakter Charles Xavier. Seperti yang pernah disebutkan pemerannya, James McAvoy, dia merasa bahwa Charles sebenarnya adalah tokoh jahat di Dark Phoenix. Ucapan ini tidak berlebihan. Di film ini, Charles memang terasa memiliki ego dan ambisi besar yang membuatnya jadi terlihat jahat. Ketika Mystique memperingatkannya tentang ego, Charles dengan sombong tidak mengindahkannya. Dia bersembunyi di balik tameng bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan. Ketika Mystique mati, Charles pun masih tidak mau mengakui kalau ada kesalahan yang dia perbuat di balik kematian itu. (Baca juga: James McAvoy Merasa Profesor X di X-Men: Dark Phoenix Itu Jahat)

Dark Phoenix mengeksplorasi sisi lain karakter Charles yang selama ini dikenal santun dan baik. Di sinilah, Charles digambarkan sebagai sosok ambisius yang menghalalkan segala cara agar dia bisa dihormati, disegani dan tetap memiliki pengaruh. Namun, pada akhirnya, Charles bisa mengakui kesalahannya, meskipun amat sulit baginya untuk meminta maaf.

X-Men: Dark Phoenix jelas bukanlah film terbaik X-Men, tapi juga bukan yang terburuk. Dari segi cerita, film ini menawarkan keseruan. Sayang, eksekusinya tidak menjawab banyak harapan dari penonton. Film ini berjalan datar, tanpa emosi dan juga chemistry yang tidak sepenuhnya dimiliki para pemainnya.

X-Men: Dark Phoenix akan mulai tayang di bioskop kesayangan Anda pada Jumat (14/6/2019). Selamat menyaksikan!

(alv)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak