alexametrics

Kesehatan Saluran Cerna Pengaruhi Daya Pikir Anak

loading...
Kesehatan Saluran Cerna Pengaruhi Daya Pikir Anak
Kesehatan pencernaan merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi daya pikir anak. Hal itu diungkap Dokter Pakar Nutrisi, Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc. Foto/Istimewa.
A+ A-
JAKARTA - Kesehatan saluran cerna mampu mempengaruhi kemampuan daya pikir dan emosi si Kecil. Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc selaku Dokter Pakar Nutrisi menjelaskan, pada usia di atas satu tahun, kemampuan daya pikir, intelektual, emosi dan sosial anak berkembang sangat pesat.

Masa inilah saat yang tepat bagi orang tua untuk memperhatikan asupan nutrisi anak agar ia dapat tanggap secara intelektual, emosi, dan sosial.

"Kesehatan pencernaan merupakan faktor penting, karena dapat mempengaruhi penyerapan nutrisi optimal yang dibutuhkan oleh si kecil," katanya dalam acara Bebelac Ajak Orang Tua Asah Kebesaran Hati Seiring Kemampuan Daya Pikir Si Kecil.



Pemenuhan nutrisi secara tepat sesuai kebutuhan setiap tahap usia anak akan mendukung berkembangnya daya pikir dan emosi anak. Usus sendiri adalah organ yang kompleks dan penting. Organ ini memiliki 60-70% sel imun, 100 juta neuron dan menghasilkan 95% serotonin tubuh yang memengaruhi mood atau emosi si Kecil.

Oleh karena itu, untuk mendorong anak tanggap secara intelektual dan emosional, anak di atas usia 1 tahun harus terpenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutriennya, termasuk asam lemak esensial (AA, DHA), dan asam amino esensial.

"Tambahan vitamin (vitamin A dan D), mineral (Besi dan Seng) dan prebiotik untuk kesehatan saluran cerna”, jelas Prof. Saptawati.

Terkait empati, Roslina Verauli, M.Psi sebagai Psikolog menekankan bahwa dengan rasa empati si kecil akan mampu merasakan apa yang dirasakan orang Iain, bersimpati, hingga melihat dan berusaha menyelesaikan masalah dari sudut pandang orang Iain.

“Dengan mengembangkan rasa empati, si Kecil mampu memiliki perilaku prososial, yaitu perilaku membantu orang ‘lain tanpa pamrih. Hal inilah yang perlu diasah sejak dini seiring dengan kemampuan daya pikir si Kecil, agar si Kecil mampu menyikapi sebuah permasalahan serta memberikan solusi yang tepat dan penuh empati." jelas Verauli.

Mengasah rasa peduli dapat dilakukan orang tua sejak din’i sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak dengan stimulasi yang bervariasi, dimulai pada usia 1-2 tahun, 3-4 tahun, 5-6 tahun, hingga usia 7 tahun ke atas. Pada usia 3-4 tahun, misalnya, ajak anak untuk membantu atau menolong orang lain, atau saat anak berusia 5-6 tahun, libatkan si kecil dalam ‘emotional talk' dimana mereka bisa menyampaikan apa yang mereka rasakan dan berikan pujian dan penghargaan untuk setiap hal baik yang mereka lakukan.

Lebih jauh, orang tua tentunya telah banyak memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak baik di institusi formal maupun di luar sekolah. Namun, orang tua juga perlu menyadari pentingnya mengembangkan aspek kebesaran hati anak seiring dengan perkembangan daya pikirnya. Kebesaran hati dapat dihubungkan dengan rasa empati yang merupakan awal bagi si Kecil untuk dapat membangun rasa pedulinya.

Berbagai situasi sosial seperti konflik dan perundungan (bullying) yang terjadi di sekitar si Kecil mendorongnya untuk memiliki tidak hanya kemampuan daya pikir, tetapi juga kebesaran hati.

Menyadari bahwa perkembangan otak, emosi dan intelektual anak berkembang pesat di usia satu tahun ke atas, maka penting bagi orang tua untuk mengasah kebesaran hati si kecil sejak dini agar mereka tumbuh dengan melihat permasalahan dari hatinya. Rasa empati dan peduli yang terbentuk akan mendorong daya pikir anak untuk melakukan aksi hebat sesuai nurani mereka.
(tdy)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak