alexametrics

Review Film Crawl: Teror Buaya Raksasa di Tengah Badai Besar

loading...
Review Film Crawl: Teror Buaya Raksasa di Tengah Badai Besar
Crawl adalah tontonan seru yang mengeksplorasi insting dan kekuatan manusia untuk bertahan dari deraan bencana dan menghadapi teror dalam waktu yang bersamaan. (Heaven of Horror)
A+ A-
Sebuah bencana alam tidak akan bertambah buruk jika tidak ada teror lain di dalamnya. Insting untuk bertahan hidup pun harus digunakan. Segala cara pun dilakukan untuk tetap bertahan dari deraan bencana dan teror yang terjadi.

Inilah yang ingin ditampilkan Crawl. Film arahan sutradara Alexandre Aja dan diproduseri Sam Raimi ini menghadirkan sebuah cerita penuh ketegangan di tengah usaha seorang anak untuk menyelamatkan dirinya, ayahnya dan anjing mereka di tengah bencana badai besar di Florida. Di tengah usaha itu, teror pun mengancam yang membuat usaha tersebut jadi lebih sulit.

Crawl mengisahkan tentang Haley (Kara Scodelario), seorang perenang, yang diminta kakaknya, Beth, untuk memeriksa kondisi ayah mereka, Dave (Barry Pepper), sebelum kawasan tempat tinggalnya dihantam badai. Mengabaikan peringatan polisi, Haley nekad pergi ke rumah ayahnya hanya untuk menemukan anjing mereka, Sugar. Tidak ada Dave di rumah tersebut. Haley lantas membawa Sugar ke rumah lama mereka yang terletak tak jauh dari rumah tersebut.



Di rumah itu, Haley menemukan sang ayah terluka di rubanah. Badai pun kian menderu di luar sana. Air mulai meninggi. Ketika Haley sedang berusaha mengevakuasi sang ayah dari rubanah, mereka diserang seekor buaya besar. Haley membawa ayahnya yang terluka ke sebuah sudut rubanah yang terlindungi. Air pun kian meninggi dan teror buaya pun bertambah. Harapan Haley untuk segera mendapatkan bantuan pun tidak kunjung terwujud. Buaya mulai menguasai kawasan di sekitar rumah itu sehingga sulit bagi mereka untuk menyelamatkan diri. Insting dan tekad Haley untuk bertahan hidup sangat dipertaruhkan di sini.

Crawl menyuguhkan tontonan menegangkan yang tidak terburu-buru. Pembangunan ceritanya pun dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak terkesan lebay atau dibuat-buat. Masuknya buaya ke daerah bencana itu pun juga punya dasar tersendiri. Anda harus cermat menyaksikan film ini sejak awal jika tidak mau bertanya-tanya ketika buaya itu tiba-tiba muncul di ruang bawah tanah rumah Haley.

Teror yang disajikan pun terkesan pas. Tidak ada unsur pemaksaan teror itu muncul setiap saat. Namun, kewaspadaan dan kesiagaan Haley dan ayahnya menghadapi bencana dan teror secara bersamaan itulah yang membuat film ini menegangkan. Memang, pada bagian menjelang akhir, film ini nyaris terkesan lebay. Namun, dengan durasi tak sampai 90 menit, kesan dibuat-buat dan lebih tidak masuk akal lagi di film ini pun berhasil terhindarkan.

Para pecinta film genre horor bencana bakal menyukai film ini. Namun, bagi yang tidak, lebih baik dihindari saja. Film ini berdarah-darah dan penuh kekerasan. Sehingga, tidak cocok untuk ditonton anak di bawah usia 17 tahun. Jadi, bijaklah memilih tontonan bersama keluarga. Selain itu, bagi Anda yang punya masalah dengan jantung, lebih baik tidak menontonnya. Ketegangan dan horor film ini cukup mengagetkan.

Crawl adalah suguhan film horor bencana dengan formula yang pas. Seorang yang terdesak untuk mempertahankan hidupnya menggunakan segala cara dan kekuatannya meski risikonya besar. Perjuangan inilah yang disuguhkan dengan cara yang cukup bisa diterima di Crawl. Ya, memang, ada bagian tertentu yang tidak masuk akal, tapi ini adalah film. Semua terjadi atas kehendak sutradara dan penulis naskahnya.

Crawl adalah sebuah tontonan seru yang mengeksplorasi insting dan kekuatan manusia untuk bertahan dari deraan bencana dan menghadapi teror dalam waktu yang bersamaan. Film ini disajikan dengan pas dan didukung visualisasi yang cukup menarik.

Crawl sudah bisa disaksikan di bioskop kesayangan Anda. Selamat menyaksikan!

(alv)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak