alexametrics

Begini Kisah Perjalanan Vidi Membangun Maternal Disaster

loading...
Begini Kisah Perjalanan Vidi Membangun Maternal Disaster
Berawal dari iseng dan kesukaan terhadap musik keras serta film horor, Vidi Nurhadi berhasil membangun brand pakaian dan aksesoris Maternal Disaster. / Foto: SINDOnews/Wahyu Nugroho
A+ A-
BANDUNG - Berawal dari iseng dan ikut-ikutan, siapa menyangka Vidi Nurhadi berhasil membesarkan brand pakaian dan aksesoris Maternal Disaster. Sekitar 2003, karena kecintaannya terhadap hobi musik keras, Vidi seringkali nongkrong di distro untuk berburu merchandise band, seperti CD, kaset, kaos, dll.

Singkat cerita, terbesit dalam pikiran Vidi untuk membuat desain dan menyablonnya sendiri, karena dia merasa kurang puas dengan desain-desain yang ada pada saat itu. Kebetulan juga, teman-teman nongkrongnya di distro banyak yang belajar menyablon untuk membuat stiker dan sejenisnya.

"Jadi karena kita merasa bosan saja sih, membikin produk itu-itu saja. Akhirnya mencoba bikin ini, coba bikin itu, dan ternyata responsnya juga bagus, ya sudah terusin saja. Sampai kita bikin sarung tinju, permen juga ada, dan banyak lainnya," kata Vidi jelang gelaran Magnumotion Tour Slank 2019 di Bandung, belum lama ini.



Sedangkan nama Maternal Disaster muncul juga berkat keisengan salah satu teman Vidi. Terasa terdengar keren dan unik, Maternal pun akhirnya digunakannya sebagai nama brand. "Pada waktu itu juga kita enggak tahu artinya apa. Bikinlah kita dari situ, nah awal mulanya ya dari situ," ungkapnya.

Terkait desain awal, Vidi mengungkapkan bahwa teman-teman yang nongkrong di distro itu memiliki kegemaran yang sama, yakni suka musik seperti musik punk, metal dan juga film-film horor. "Nah, kebentuknya dari situ, karena kesukaan sama itu, jadi kita buat desain juga yang terpengaruh dari itu," ucapnya.

"Horornya bukan yang.... enggak gamblang gitu, misalnya kita mau image horornya bukan kayak pocong. Misalnya kayak pohon ada gagak, itu sudah horor. Jadi ngambil estetika-estetikanya saja. Misalnya gambar peti mati, jadi enggak langsung horor pocong atau tuyul, itu enggak, ntar jadinya malah lucu," papar Vidi.

Vidi juga menegaskan bahwa pada mulanya dirinya tidak kepikiran sama sekali untuk berbisnis, terlebih lagi dirinya bukan dari keluarga pebisnis. "Niat awalnya enggak berbisnis, tadi kan saya bilang cuma ikut-ikutan saja. Kita suka, kita bikin, jadi enggak ada niat jualan sebenarnya," tandasnya.

"Sebelumnya ya gitu saja, jual ke teman dulu, kalau ada yang pakai produk Maternal, pasti saya tahulah. Kalau ada yang naik motor pakai produk Maternal, pasti tahulah kalau itu pasti teman," katanya lagi.

Namun, setelah 10 tahun berjalan, pikiran untuk berbisnis mulai timbul, karena Vidi mendapatkan pinjaman modal dengan jaminan rumah kedua orang tuanya. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang mudah baginya. Pasalnya, dia harus bisa meyakinkan kedua orangtuanya, terlebih lagi dirinya gagal untuk menyelesaikan kuliahnya dan bisnis yang dilakoninya juga masih kurang jelas.

"Mereka (kedua orangtua) enggak kebayang lah, karena orang tua saya juga bukan pebisnis, jadi mereka khawatir. Untungnya pada akhirnya mereka percaya jadi kayak, 'Ya udah sok lah', dipinjemi sertifikat... Sertifikat rumah orang tua saya buat jaminan," ujar Vidi, yang juga sempat bekerja di sebuah perusahaan di Bandung selama lima tahun.

Memperoleh kepercayaan dari orang tuanya ditambah dengan sedikit bekal ilmu ketika masih di dunia kerja, Vidi mencoba menjalankan usahanya tersebut lebih serius. Dari sini, dia sudah mulai fokus untuk berbisnis, dan harus mengembalikan pinjaman. "Kalau sekarang sih sudah lunas itu pinjamannya, sudah enggak ada tanggungan," tegas Vidi sembari tersenyum.

"Dari pas saya kerja saya mendapat ilmu, karena (yang awalnya) saya enggak tahu proses di bank gimana, produksinya gimana, cara marketingnya gimana, dari saya bekerja, di situ saya tahu, jadi banyak ilmu juga," ucap pria 34 tahun itu.

"Jadi dari situ, saya mulai, 'Kalau misalnya saya gini terus', maksudnya enggak berkembang. Jika enggak mantap melangkah lah ya kasarnya, nah enggak akan ke mana-mana," sambung bapak satu anak ini.

Vidi merasa jika dirinya tidak serius dalam menjalankan bisnisnya, maka sangat besar risiko terburuk yang akan menimpanya. "Dari situ akhirnya malah jadi terpacu, karena memang ada tanggungan itu, saya jadi kayak 'Wah ini harus dibalikin nih, kalau ada apa-apa, orang tua saya sekeluarga kegusur'. Jadinya sebenarnya dari situ saya terpacu," ucapnya.

Sementara itu, mengenai segmen dari desain produk-produk Maternal, Vidi bercerita jika pada awalnya menyasar remaja-remaja usia SMA dan kuliah. "Anak-anak SMA, yang kuliah yang suka musik atau film horor. Tapi pada akhirnya produk mencari pasarnya sendiri ya, jadi yang enggak suka dengan film atau musik itu pun pasti tidak akan suka," tuturnya.

Dari kali pertama hadir dengan produk-produk yang terbatas, kini Maternal Disaster bisa memproduksi jaket, topi, sweater dan semua aksesoris hingga 120 artikel. "Kita Maternal dalam setahun ada 6 issue, dalam dua bulan ada satu issue. Dan satu issue-nya itu ada sekitar 120 artikel," kata Vidi.

"Untuk produk, semua ada. Bola basket ada, sarung tinju ada, celana dalam ada, kacamata ada, sepatu ada, sandal ada, kaos kaki ada, segalanya ada," tambahnya.

Dengan hanya sekadar iseng belaka saat mengawali usahanya, kini bisnis yang dijalani Vidi sudah mampu mempekerjakan puluhan karyawan dan memiliki omzet ratusan juta rupiah tiap bulannya. Di samping itu, Vidi bersama Maternal Disaster sudah membuka lima toko. Selain Bandung, store Matternal juga bisa ditemui di Bali, Jogja, Malang, dan Medan.

"Kebanyakan (karyawan) dari teman. Jadi mereka juga belajar, misalnya di kita ada bagian produksi atau marketing, dia enggak tahu marketing itu apa, jadi mereka belajar di situ," kata Vidi.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak