Sejarah Munculnya Tiga Budaya Utama di Dunia, Termasuk Budaya Pop
Senin, 24 Agustus 2020 - 22:00 WIB
loading...
A
A
A
Mereka juga tidak bisa mengikuti kebudayaan elite perkotaan karena ternyata mereka tidak punya cukup waktu luang dan kesadaran akan melek huruf dan melek seni.
Kebosanan yang mereka hadapi di perkotaan menimbulkan gejala baru yang disebut kitsch. Kaum proletar yang jumlahnya cukup banyak ini kemudian meniru dan meramu kebudayaan mereka sendiri.
Mereka meniru kebudayaan adiluhung yang sulit mereka raih dengan menyesuaikannya dengan kemampuan dan kebiasaan mereka. Kebudayaan ini kemudian menjadi populer karena diikuti oleh massa.
Berkembang dan meluasnya kebudayaan populer juga menimbulkan sebuah anggapan bahwa kebudayaan populer adalah kebudayaan kelas dua dan tidak layak diperbincangkan secara serius. (Baca Juga: Mengintip Sejarah Lightstick, Identitas Fandom K-pop )
Kebudayaan populer sering dianggap sebagai barang murahan dan vulgar. Kebudayaan ini sebetulnya lebih elok disebut mid browatau 'seni menengah' untuk membedakannya dari yang bisa memenuhi cita rasa tinggi dan rendah.
Putri Melina Febrianti
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Instagram: @putri.melinaf
Kebosanan yang mereka hadapi di perkotaan menimbulkan gejala baru yang disebut kitsch. Kaum proletar yang jumlahnya cukup banyak ini kemudian meniru dan meramu kebudayaan mereka sendiri.
Mereka meniru kebudayaan adiluhung yang sulit mereka raih dengan menyesuaikannya dengan kemampuan dan kebiasaan mereka. Kebudayaan ini kemudian menjadi populer karena diikuti oleh massa.
Berkembang dan meluasnya kebudayaan populer juga menimbulkan sebuah anggapan bahwa kebudayaan populer adalah kebudayaan kelas dua dan tidak layak diperbincangkan secara serius. (Baca Juga: Mengintip Sejarah Lightstick, Identitas Fandom K-pop )
Kebudayaan populer sering dianggap sebagai barang murahan dan vulgar. Kebudayaan ini sebetulnya lebih elok disebut mid browatau 'seni menengah' untuk membedakannya dari yang bisa memenuhi cita rasa tinggi dan rendah.
Putri Melina Febrianti
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Instagram: @putri.melinaf
(it)
Lihat Juga :