22 Seniman Menggali Kisah Personal di Galeri Neo
Jum'at, 02 Agustus 2024 - 10:04 WIB
loading...
Foto: Istimewa
A
A
A
JAKARTA - 22 seniman yang terpilih dalam proses kurasi mencoba memaparkan amunisi estetiknya lewat gambaran pengalaman unik ambang bawah sadarnya, dalam pameran bersama di Galeri Neo, Jl Tanah Abang IV, No. 23-25, Jakarta Pusat, mulai 6 Agustus-1 September 2024. Pameran ini bertajuk “Speaking The Unspeakable” yang bermakna ziarah batin seniman menuturkan yang tak terkatakan.
baca juga: Hadiahkan Karya Lukis ke Prabowo, SBY: Ini Ada Sejarahnya
Kurator pameran, Bambang Asrini Widjanarko menjelaskan bahwa para seniman yang terlibat dalam pameran ini bekerja secara kolaboratif pun yang individual--, yang sudah senior, madya serta yang masih meniti karir awal, menawarkan berbagai ekspresi seni.
“Seperti pilihan menggunakan visualisasi secara puitik, mewakilkan sosok-sosok figuratif, bernarasi penjelajahan kekacauan visual, juga yang memancarkan euphoria-kegembiraan bahkan sampai yang tak terindera dengan corak abstraktif,” tutur Bambang.
Yang menjadi lebih unik, eksibisi seni ini menampilkan karya kolaborasi seniman senior Arahmaiani dan seniman street art Anagard yang memanggungkan huruf Arab Pegon berjuluk I Love You. Saat sama, di fasad Galeri Neo tertera teks puitik tentang idealisasi seniman tentang dirinya dan relasinya dengan orang lain, lewat puisi Chairil Anwar yang tertera di dinding serta patung kontemplatif milik perupa dan kurator Asmujo Jono Irianto.
“Pameran mengungkap sejumlah etape pengembaraan batin,--dalam fase penjelajahan yang dijuluki yang simbolik dalam psikoanalisa--terutama fase penciptaan karya sebagai sejenis katarsis. Simbol-simbol dan teks visual saling berkelindan dan memberi makna-makna sangat intim bagi perupa,” ujar Bambang.
“Tak heran jika seniman mengalami krisis pada etape tertentu dalam pengalaman hidupnya, justru mereka makin meluap daya artistiknya,” sambung Bambang.
baca juga: Hadiahkan Karya Lukis ke Prabowo, SBY: Ini Ada Sejarahnya
Kurator pameran, Bambang Asrini Widjanarko menjelaskan bahwa para seniman yang terlibat dalam pameran ini bekerja secara kolaboratif pun yang individual--, yang sudah senior, madya serta yang masih meniti karir awal, menawarkan berbagai ekspresi seni.
“Seperti pilihan menggunakan visualisasi secara puitik, mewakilkan sosok-sosok figuratif, bernarasi penjelajahan kekacauan visual, juga yang memancarkan euphoria-kegembiraan bahkan sampai yang tak terindera dengan corak abstraktif,” tutur Bambang.
Yang menjadi lebih unik, eksibisi seni ini menampilkan karya kolaborasi seniman senior Arahmaiani dan seniman street art Anagard yang memanggungkan huruf Arab Pegon berjuluk I Love You. Saat sama, di fasad Galeri Neo tertera teks puitik tentang idealisasi seniman tentang dirinya dan relasinya dengan orang lain, lewat puisi Chairil Anwar yang tertera di dinding serta patung kontemplatif milik perupa dan kurator Asmujo Jono Irianto.
“Pameran mengungkap sejumlah etape pengembaraan batin,--dalam fase penjelajahan yang dijuluki yang simbolik dalam psikoanalisa--terutama fase penciptaan karya sebagai sejenis katarsis. Simbol-simbol dan teks visual saling berkelindan dan memberi makna-makna sangat intim bagi perupa,” ujar Bambang.
“Tak heran jika seniman mengalami krisis pada etape tertentu dalam pengalaman hidupnya, justru mereka makin meluap daya artistiknya,” sambung Bambang.
Lihat Juga :