alexametrics

Kurang Tepat Mengolah Daging Kurban Bisa Picu Masalah Kesehatan

loading...
Kurang Tepat Mengolah Daging Kurban Bisa Picu Masalah Kesehatan
Tidak semua orang bisa mengolah daging merah. Proses memasak yang kurang tepat, tidak hanya membuat daging menjadi tidak nikmat, pun tidak sehat dikonsumsi. (USA Today)
A+ A-
JAKARTA - Saat Hari Raya Idul Adha, daging kurban biasanya diolah menjadi beragam hidangan. Baik daging Kambing atau daging sapi umumnya dimasak menjadi sate, sop, nasi goreng, tonseng hingga kari.

Meski terasa nikmat, tidak semua orang bisa mengolah daging kambing dan sapi. Pasalnya, proses memasak yang kurang tepat, tidak hanya membuat daging menjadi tidak nikmat tapi juga tidak sehat untuk dikonsumsi. Oleh karena itu banyak hal yang harus diperhatikan saat memasak daging merah.

Seperti halnya suhu. Dilansir dari Healthline, memasak dengan suhu tinggi dapat menimbulkan senyawa tidak sehat seperti heterocyclic amines (HAs), advanced glycation end products (AGEs) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs).



Ketiga senyawa itu umumnya terbentuk karena beberapa nutrisi dalam daging yang bereaksi dengan beberapa komponen lainnya di suhu yang sangat tinggi. Jika dibiarkan, tentunya senyawa tidak sehat ini dapat menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan.

Diantaranya adalah peningkatan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara dan pankreas. Sementara, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, bahwa daging yang diolah merupakan bagian dari ensiklopedi karsinogen dan menyebabkan munculnya zat arsenik juga asbes. Arsenik dan asbes merupakan zat yang paling berpotensi penyebab kanker di dunia.

"Warna merah dan daging olahan berada diantara 940 zat yang ditinjau oleh Badan Internasional untuk Penelitian (IARC). Di sana ditemukan timbulnya beberapa tingkat teoritis bahaya," ungkap presiden North America Meat Institute, Barry Carpenter.

Selain itu, WHO juga masukkan daftar daging merah segar sebagai makanan yang bisa menyebabkan munculnya penyakit kanker. Namun, potensi daging merah lebih sedikit dibandingkan daging olahan.
(alv)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak