alexametrics

Tak Ragu, Hahan Siap Pamerkan The Monument di Soundrenaline 2019

loading...
Tak Ragu, Hahan Siap Pamerkan The Monument di Soundrenaline 2019
Seniman asal Yogyakarta, Uji Handoko bakal menampilkan sebuah karya ikonik di ajang tahunan Soundrenaline ke-17 di Bali pada 78 September 2019. (SINDOnews/Wahyu Nugroho)
A+ A-
YOGYAKARTA - Seniman asal Yogyakarta, Uji Handoko bakal menampilkan sebuah karya ikonik di ajang tahunan Soundrenaline ke-17 di Bali pada 7—8 September 2019. Karya ikonik Handoko yang diberi tajuk The Monument dengan tinggi 10,8 meter turut menghiasi Garuda Wisnu Kencana, yang menjadi lokasi berlangsungnya Soundrenaline 2019.

Handoko mengungkapkan bahwa sempat timbul keraguan dalam dirinya ketika diminta untuk membuat karya ikonik The Monument. "Sejak berkarya dari 2002, saya pribadi juga kerap menemui keraguan, termasuk juga membuat karya ini," ujar pria yang akrab disapa Hahan itu saat ditemui di Royal Ink Studio, Yogyakarta, Sabtu (17/8).

The Monument, menurut Hahan, merupakan representatif dari sesuatu yang mempunyai kekuatan yang cukup besar, dan bisa juga diidentikkan dengan pemerintahan atau hal-hal yang coba direpresentasikan dengan itu.



Lewat proyek instalasi 'Tapi Jadi Epik' The Monument itu, Hahan juga mencoba memvisualisasikan keraguan-keraguan yang kerap ditemuinya, dan itu beranjak dari lingkungan sekitarnya sendiri.

Lebih lanjut, Hahan mengatakan jika dirinya melibatkan sembilan seniman lintas bidang lain yang baru memulai untuk berkarya. Hahan memberikan ruang untuk para sembilan finalis kompetisi kreatif Go Ahead Challenge 2019 tersebut berkolaborasi guna mempersentasikan karyanya di ruang tersebut.

Hahan mencoba untuk memotivasi dan menepis keraguan yang selama ini menggelayuti para seniman, termasuk juga dirinya, untuk berkarya menghasilkan suatu karya yang ikonik.

"The Monument ini bukan sekadar karya obyek yang bisa dilihat, tapi juga bisa dirasakan. Dan implementasinya bisa langsung kepada yang kita tanyain nih keraguan seniman-seniman, 'Kamu ada kesempatan buat bikin karya di sini dengan audiens Soundrenaline yang ribuan’," ujar Hahan, yang juga mendapat undangan untuk menyajikan karya seninya di Dresden, Jerman pada November mendatang.

"Karya ini jadi satu tempat di mana saling berbagi spirit positif. Ini sebagai pembuktian, tidak berhenti di tapi, namun juga bisa menjadi bukti."

Di dalam The Monument terdapat sejumlah figur yang masing-masing memiliki makna tersendiri. "Ada figur bebek tanpa moncong, maknanya kita enggak apa-apa mengekor atau mengikuti orang lain, tapi itu hanya untuk mengukur kemampuan kita," kata alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini.

"Ada juga jempol ke bawah, ini sebagai anggapan bahwa karya (dinilai) jelek, namun karya seni itu masalah jelek atau bagus, relatif ya. Patung-patung yang ditampilkan ini representatif dari keragu-raguan itu," lanjutnya.

Sementara proses pengerjaan 9 karakter The Monument yang diletakkan sebagai ornamen berbentuk monumen ini dibutuhkan waktu selama 4 bulan.

"Proses pengerjaannya, sebenarnya untuk ide sudah ada sejak awal tahun, tapi untuk eksekusi pembuatannya sudah sekitar 4 bulanan. Empat bulan untuk desain dan pembuatan patung," papar Hahan

Sebagaimana yang telah diungkapkan sebelumnya, Hahan menggarap patung ikonik The Monument ini tidak sendiri, dia berbagi dengan seniman-seniman lainnya. "Dan nanti ada sekitar 25 orang lainnya untuk instalasi patungnya. Proyek ini bukan aku saja, aku hanya sebagian kecil saja," tambah seniman yang juga pernah memamerkan karyanya di National Gallery Australia, Canberra.

Sementara itu, dalam gelarannya yang memasuki tahun ke-17, Soundrenaline tetap konsisten untuk mewadahi berbagai kreator Tanah Air dengan beraneka ragam karya unik yang tidak hanya menyajikan musik spektakuler.
(alv)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak