Sastra Melayu Tionghoa, Asing di Negeri Sendiri

Selasa, 25 Agustus 2020 - 22:05 WIB
loading...
Sastra Melayu Tionghoa,...
Sastra Melayu Tionghoa memakai bahasa yang dianggap rendah dibanding melayu tinggi yang jadi cikal bakal bahasa Indonesia. Foto/epnri.indonesiaheritage.org
A A A
JAKARTA - Sastra Melayu Tionghoa sempat membuat pusing Balai Pustaka, karena bahasanya dinilai rendah dan tidak menggambarkan citra baik Belanda.

"Sinar mata-hari kapan waktoe sedeng gilang-goemilang,
Antero boeroeng samboet dengen penoeh rasa girang,
Tapi itoe kegirangan gampang beroebah dan tenggelem,
Bila di sabelah koelon mata-hari pergi boeat silem"

Kapan Sampe Di Poetjaknja (1930) ditulis oleh Dahlia (Tan Lam Nio).

Potongan syair di atas mungkin terasa asing di mata pembaca Indonesia sekarang. Dari segi bahasa sudah terlihat dengan jelas bahwa potongan syair tersebut menggunakan ejaan lama. Ejaan yang sudah lama sekali kita tinggalkan.

Potongan tulisan tersebut merupakan novel yang dikarang oleh Tan Lam Nio atau yang dikenal dengan nama pena Dahlia. Ia merupakan seorang penyair peranakan Tionghoa dan menjadi salah satu sastrawan dalam kancah Kesusastraan Melayu-Tionghoa.

Sastra Melayu Tionghoa, Asing di Negeri Sendiri

Foto: epnri.indonesiaheritage.org

Dahlia merupakan seorang penulis yang produktif. Sejak pertama menerbitkan bukunya pada 1931, dalam waktu tiga tahun saja, setidaknya dia menerbitkan lima buah roman dan beberapa cerita pendek dan syair, juga puisi.

Dalam karangannya, Dahlia menuliskan dan menyarikan cerita-cerita kehidupannya. Dalam karyanya itu dia juga membahas mengenai dinamika sosial dan politik. (Baca Juga: Sejarah Munculnya Tiga Budaya Utama di Dunia, Termasuk Budaya Pop )

Dalam buku "Kesusastraan Melayu Tionghoa Jilid 1" terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2000, yang disebut peranakan Tionghoa adalah mereka yang merupakan hasil kawin campur antara orang-orang Tionghoa dan masyarakat setempat.

Karya sastra Melayu Tionghoa diperkirakan muncul pada abad ke-19 dan populer pada abad ke-20. Sastra Melayu Tionghoa menurut Nio Joe Lan telah berakhir pada 1962.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Puncak Kalpasastra 2026,...
Puncak Kalpasastra 2026, BEMP Sastra Indonesia UNJ Hadirkan Salman Aristo
MaxNovel Award 2025,...
MaxNovel Award 2025, Kemenbud: Sastra adalah Ingatan Kolektif Bangsa
Okky Madasari Berbagi...
Okky Madasari Berbagi Kisah Inspiratif di Gelar Wicara Kalpasastra 2025
Rekomendasi
DPN IARMI: Kritik Harus...
DPN IARMI: Kritik Harus Objektif, Jangan Giring Opini Menyesatkan
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
Kortas Tipidkor Sebut...
Kortas Tipidkor Sebut Bukti Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Segera Dilimpahkan ke Kejagung
Berita Terkini
Jarwo Kwat Kenang Temon:...
Jarwo Kwat Kenang Temon: Pelawak yang Tak Pernah Marah dan Selalu Menghibur
Datang Melayat, Bedu...
Datang Melayat, Bedu Ungkap Kenangan Terakhir Bersama Temon
Festival Dessert Terbesar...
Festival Dessert Terbesar Siap Maniskan Jakarta selama Tiga Pekan
Kronologi Temon Meninggal...
Kronologi Temon Meninggal Dunia, Anak Ungkap Riwayat Penyakit hingga Pesan Terakhir Sang Ayah
Komedian Temon Meninggal...
Komedian Temon Meninggal Dunia, Rumah Duka Dipenuhi Pelayat dan Rekan Artis
Viral! Lagu MBG Mas...
Viral! Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' Muncul di Film Cek Khodam, Ternyata Ini Ceritanya
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved