alexametrics

Ciptakan Kawasan Zero Waste dengan IPS Masaro

loading...
Ciptakan Kawasan Zero Waste dengan IPS Masaro
Melalui IPS Masaro, sampah bisa dimanfaatkan menjadi lebih berguna dan tidak menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir. / Foto: KoranSINDO/Iman Firmansyah
A+ A-
JAKARTA - Sampah merupakan permasalahan yang terus bergelut dalam kehidupan manusia. Masalah seperti tidak pernah ada habisnya. Meskipun begitu, sampah sebenarnya justru bisa memberikan manfaat yang sangat menguntungkan bagi masyarakat jika bisa dikelola dengan baik.

Mencoba membantu masyarakat untuk mengambil manfaat dari sampah, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) menghadirkan fasilitas Industri Pengolahan Sampah Manajemen Sampah Zero (IPS Masaro). Melalui IPS Masaro, sampah bisa dimanfaatkan menjadi lebih berguna dan tidak menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Hadirnya fasilitas tersebut sebagai langkah awal penerapan sistem ekonomi sirkular untuk memperpanjang masa pakai sampah agar dapat dimanfaatkan kembali. Berlokasi di Cilegon, Banten, IPS Masaro mampu mengelola sampah swadaya 1.000 kepala keluarga, didukung sistem pemilahan sampah sesuai kategori yang dilakukan mandiri oleh masyarakat di masing-masing rumah.

Dalam pengaplikasiannya, sampah yang sudah terpilah akan ditukarkan dengan insentif dan diambil IPS Masaro pada jadwal yang sudah ditentukan untuk diproses menjadi produk-yang bernilai ekonomi. Atas partisipasi masyarakat memilah sampahnya, IPS Masaro memberikan insentif berupa voucher belanja disesuaikan dengan jumlah dan jenis sampah yang disetor.

"Melalui IPS Masaro, kami mengajak masyarakat meninggalkan sistem pengelolaan sampah konvensional Kumpul-Angkut-Buang dan berpindah pada sistem Pilah-Angkut-Proses, di mana sampah yang terkumpul dikelola secara menyeluruh untuk didayagunakan dan dikelola tanpa sisa. Jadi fasilitas ini tidak memerlukan lahan untuk Tempat Pembuangan Sampah," ujar Direktur CAP, Suryandi di Cilegon, Banten, Kamis (12/9).

Suryandi juga memaparkan, sampah organik diproses menjadi pupuk cair dan media tanam sedangkan sampah nonorganik yang masih mempunyai nilai ekonomi diproses menjadi bahan daur ulang dan dijual kepada industri daur ulang. "Sisa sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dibakar di insinerator yang panasnya dimanfaatkan untuk pemrosesan plastik menjadi BBM melalui pirolisator," terangnya.

Selain dijual, BBM yang dihasilkan juga digunakan untuk bahan bakar kendaraan pengangkut sampah serta mesin peralatan. Dengan demikian semua sampah yang diangkut ke IPS Masaro dapat dikelola seluruhnya dan tidak ada sampah yang mencemari lingkungan.

Suryandi menuturkan, dari tiga unit mesin pirolisator yang dioperasian IPS Masaro, satu di antaranya merupakan modifikasi mesin berbahan bakar gas dari seorang siswa volunter yang duduk di kelas 11 di Jakarta Intercultural School bernama John Leiman. "Kami menyambut baik dan mengapresiasi antusiasme dan hasil kerja John untuk mesin pirolisis skala kecil ini yang telah berkontribusi langsung dalam pengoperasian fasilitas IPS Masaro," ujarnya.

Dia menambahkan, lewat kemitraan dengan Asosiasi Industri Olefins Aromatik Plastik Indonesia (INAplas), Institut Teknik Bandung (ITB), Pemerintah Daerah serta masyarakat dalam penerapan konsep Masaro ini, CAP bertekad membangun kebiasaan yang baik dalam memilah sampah.

"Di samping itu, Masaro juga bertujuan menciptakan kawasan zero waste sebagai pilot project percontohan yang dapat direplikasi untuk menjadi salah satu solusi permasalahan sampah di Indonesia," papar Suryandi.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak