alexametrics

Amber Mark, Wajah Musik Soul Pop Masa Depan

loading...
Amber Mark, Wajah Musik Soul Pop Masa Depan
Amber Mark, Wajah Musik Soul Pop Masa Depan
A+ A-
Banyak orang bertanya-tanya, siapakah Amber Mark? Pasalnya, Amber kerap disebut sebagai “the next face of soul pop”. Suaranya halus namun tajam, dengan diiringi musik yang “kaya”. Hal yang menjadikan Amber enigma sejati adalah kemampuannya untuk melampaui genre hingga membuat musiknya meluas.

Dari kesedihan karena kehilangan ibu yang meninggal dunia sampai cara mengatasi kecemasan yang muncul bersama industri musik, Amber tahu bagaimana mengasah emosi serta menuliskannya ke dalam lagu-lagu R&B yang penuh perasaan. Semua bermula pada sekitar awal 2016. Dikutip dari Vice, kala itu Amber mengunggah lagu pertamanya ke Soundcloud.

Sama seperti banyak seniman yang bercita-cita tinggi, Amber bermimpi dan berharap lagunya bisa didengar serta mampu menghentak telinga para pendengar. Lagu Amber yang berjudul Space menjadi andalan. Lagu tersebut terdengar segar dan klasik. Selang dua bulan setelah dirilis, Space langsung “menancap” di telinga banyak orang. Dari sinilah semuanya berawal.



Produser radio JJ Corsini langsung terpikat. Dia lantas mengirim lagu Space kepada DJ Zane Lowe, yang kemudian memasukkannya ke dalam program Beats 1. Lalu Apple ikut memasukkannya ke beranda iTunes, dengan penghargaan Hot Tracks. Lagu Space milik Amber bersaing dengan karya Justin Bieber, Taylor Swift, Drake, Rihanna, Future, dan Ariana Grande. Lagu tersebut terus bertahan dan mencapai posisi 35 dalam Global Viral Chart Spotify kala itu.

Pada usia 22 tahun, Amber telah memiliki debut global melalui lagu Space yang dicuplik dari album berdananya yang berjudul 3:33 AM. Album ini merupakan proyek yang mengeksplorasi kesedihan Amber ketika sang ibu meninggal dunia dan dia teringat momen yang pernah mereka habiskan bersama di India. Sejak itu, nama Amber mulai menyeruak dan dikenal banyak orang.

Menurut laman Radio Milwaukee, Lose My Cool adalah lagu lain yang menonjol di album perdana Amber yang menampilkan suara indahnya. Bernyanyi memang selalu menjadi bagian dari hidup Amber. Dimulai dari aksinya di biara-biara Buddha Tibet di India Utara hingga acara makan malam keluarga di Kota New York. Kemudian ketika di Berlin, Jerman, sang ibu membelikannya gitar akustik.

Dari sinilah Amber mulai belajar cara bermain gitar dan bernyanyi. Dia pun mulai menyadari bahwa dirinya memiliki hasrat untuk bernyanyi. Kehidupan nomaden yang pernah dialami Amber ikut mempengaruhi lagu dan musiknya. Penyanyi satu ini diketahui sempat tinggal di Jerman, India, Thailand, Brasil, serta kota di Amerika Serikat yaitu Miami dan New York.

Internasionalisme semacam ini tertanam dalam “DNA” musik Amber. “Sebagai anak yang dibesarkan di banyak tempat, saya jadi bisa menyerap berbagai budaya dengan lancar. Hal itu membuka pikiran saya tentang apa yang dunia tawarkan, sekaligus memberi saya kesempatan untuk bekerja di bidang musik,” terang penyanyi kelahiran 1993 ini.

Misalkan saat berada di Berlin, Amber jatuh cinta pada genre musik house/techno. Lalu ketika di New York dia tumbuh dengan musik hip-hop dan R&B, di Brasil mendengarkan ritme bossa nova, serta “mantra Tibet” saat menetap di Nepal.Bahkan album kedua Amber, Conexao, yang dirilis tahun lalu terinspirasi oleh gaya bossa nova khas Negeri Samba.

“Saya benar-benar merasa itu semacam genre romantis dan sensual. Karena saya telah berbicara banyak tentang cinta dan mengalami pasang surut sebuah hubungan, saya merasa (irama) itu nyaris sempurna,” terang Amber kepada majalah Teen Vogue. Dari album kedua tersebut, lagu Love Me Right bisa dikatakan menjadi karya terbaik Amber hingga saat ini.

Akord piano yang bersih serta string minimal berhasil mengangkat lagu itu. Lagu Love Me Right mudah diakses, dapat dihubungkan dengan banyak hal, dan gampang dimengerti. Itulah alasan mengapa Love Me Right menjadi lagu yang paling sering diputar di Spotify. Hebatnya lagi, Amber menulis sekaligus memproduseri musiknya sendiri.

Hampir 90% waktu Amber dihabiskan untuk itu. Meski lebih suka bekerja sendiri, namun Amber tetap mau terlibat dalam sejumlah proyek antara lain untuk album terbaru Chromeo dan Dirty Projectors. Amber juga pernah bekerja sama dengan DRAM dalam lagu Put You On.

Bagi Amber, musik bisa menjadi cara untuk mengingat kembali banyak waktu dan bernostalgia. Termasuk bernostalgia tentang kenangan bersama ibunya, Mia Mark, yang meninggal dunia pada 2013. Mendiang ibunyalah yang memiliki pengaruh terbesar pada kehidupan dan musik Amber. Tak heran, ketika sang ibu wafat, Amber merasa seperti kehilangan pegangan hidup.

Selain ibunya, masa kecil di India juga sangat memengaruhi lagu dan musik Amber. Inspirasi buat Amber juga datang dari penyanyi senior Sade, rapper Q-Tip, dan Beyonce. “Saya rasa etika kerja Beyonce adalah inspirasi bagi saya. Saya kagum pada kerja keras serta usaha-usaha yang dilakukan untuk kariernya. Saya pikir itu luar biasa. Sade juga nama besar. Dari sisi produksi, saya mengagumi Timbaland, Pharell, Q-Tip, dan The Dream,” ujarnya.

Saat awal terjun ke dunia musik, Amber mengaku tidak memiliki banyak informasi tentang musik maupun industri musik. Dulu dia juga mengalami kegugupan tiap kali ingin memulai pekerjaan. Namun, setelah semua berjalan, penyanyi 26 tahun ini makin belajar banyak hal.

“Saya pikir ada banyak perkembangan dalam aspek musik. Saya hanya belajar sebanyak yang saya bisa, dan semakin baik dengan membuat formula tentang bagaimana saya menulis musik dan bisa lebih menerima diri saya,” terangnya.

Jika lagu pertamanya adalah tentang kesedihan dan yang kedua tentang cinta, karya ketiga Amber nanti bakal lebih banyak berkisah tentang rasa tidak aman. “Saya berurusan dengan rasa tidak aman di diri sendiri, di mana saya kerap mempertanyakan apakah saya cukup baik atau tidak. Saya harus selalu membuang pikiran tersebut,” urainya.

Cinta Kesenian Sejak Kecil

Ketika kebanyakan anak kecil lebih suka menonton film kartun, Amber kecil justru lebih gemar menikmati musik. Saat masih berusia empat tahun, Amber sudah menyaksikan konser Michael Jackson dan terobsesi dengan penyanyi terkenal tersebut. Saat itu, Amber dan keluarga masih tinggal di Munich, Jerman.

Sang ibulah yang membelikan dua tiket tur “HIStory World Tour” Michael Jackson pada 1997. “Saya ingat, waktu itu saya banyak menangis setelah pertunjukan. Itu pengalaman yang luar biasa dan tidak akan pernah saya lupakan,” ujarnya. Kendati jatuh cinta pada musik, sebetulnya Amber ingin menjadi penari. Dikutip dari Cools, Amber sempat menonton film Honey dan ingin menari seperti dalam film tersebut.

Keinginan itu semakin kuat setelah Amber mengikuti banyak kegiatan kesenian di sekolah, termasuk paduan suara dan tampil di panggung. Amber merasa inilah yang selalu ingin dilakukannya, yaitu berkecimpung di dunia kesenian. Saat ini Amber juga suka menyaksikan film kartun. Bahkan dia kerap menyedikan banyak stok film kartun untuk menemaninya saat melakukan tur musik.

Amber menyukai film produksi Nickelodeon, Avatar: The Last Airbender, dan The Boondocks. Melalui kartun, dia melihat kenyataan bahkan karakter animasi dapat mengendalikan elemen air, bumi, api, dan udara. “Aku kadang berharap bisa hidup di dalamnya,” ujar dia.

Amber juga menyukai film Star Wars dan apapun yang terkait dengan Star Wars. Selain itu, dia sangat suka segala hal yang terkait dengan makanan. Amber berkarakter sedikit introver dan suka bepergian. Tapi, jika tak ada kesibukan, dia lebih senang tinggal di rumah.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak