alexametrics

Akses Cemino Mempercepat Penanganan Pasien Cuci Darah

loading...
Akses Cemino Mempercepat Penanganan Pasien Cuci Darah
Akses cemino dapat mempercepat penanganan pasien gagal ginjan untuk menjalani cuci darah. Sayangnya, masih banyak pasien di Indonesia yang belum melakukannya. Foto/Istimewa.
A+ A-
JAKARTA - Sekitar 95 persen pasien gagal ginjal melakukan perawatan melalui terapi/proses hemodialisis atau cuci darah dengan menggunakan mesin khusus untuk menyaring darah guna menggantikan fungsi ginjal yang rusak. Hal itu diungkap Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Pusat, Tony Samosir.

Cara kerja hemodialisis adalah dengan mengalirkan darah melalui sebuah sirkulasi ke mesin yang berada di luar tubuh untuk membuang toksin dan kelebihan cairan, kemudian mesin mengembalikan darah yang sudah dibersihkan kembali ke dalam tubuh.

Sementara, untuk mengalirkan darah ke mesin khusus tersebut, kata Tony, diperlukan sebuah akses vaskuler dari pembuluh darah yang besar dengan aliran yang cukup kuat.



“Akses untuk hemodialisis ini ada beberapa jenis yang diantaranya dengan Kateter Double Lumen (CDL), AV Fistula/Cimino dan AV Graft,” kata Tony dalam seminar ‘Perawatan Akses Vaskuler pada Pasien Ginjal Kronis’ yang digelar KPCDI bekerja sama dengan Fresenius Medical Care, di Jakarta, Minggu (15/9/2019).

Sementara, konsulen bedah vaskuler, dr. Patrinef, SpB(K)V menyarankan agar dokter meminta pasien membuat akses cemino terlebih dahulu, 3 bulan sebelum pasien gagal ginjal menjalani terapi cuci darah.

“Mau dipakai atau tidak, yang penting pasien sudah punya akses. Ketika sudah saatnya cuci darah, maka pasien cepat tertangani. Sayangnya, praktek di Indonesia tidak demikian. Pasien datang sudah dalam keadaan parah bahkan di ICU, baru dilakukan pemasangan CDL, dan ini memiliki resiko yang sangat tinggi,” jelas dr. Patrianef.

Dia membandingkan pengobatan dengan di luar negeri, dimana pasien akan langsung dibuat AV Fistula terlebih dahulu ketika dokter memvonis mereka mengalami penyakit ginjal kronis. Menurutnya, akses CDL itu bukan yang terbaik dan tidak bertahan lama serta banyak komplikasinya, seperti infeksi, demam dan bekuan darah.

Sementara, CDL merupakan suatu selang steril yang dimasukkan ke dalam vena sentral besar pada sekitar leher dan dada pasien.

“Yang terbaik dan aman bagi pasien tetap menggunakan AV Fistula/Cemino. Ini sangat kecil komplikasinya. Biasanya perlu waktu matang 6 sampai 12 minggu akses Cemino tersebut baru bisa digunakan untuk mengalirkan darah ke mesin,” kata dokter yang sehari-hari berpraktek di RSCM Jakarta ini.

Dijelaskan lebih lanjut, Arteriovenous Fistula (AV Fistula) dibuat dengan menghubungkan sebuah arteri dengan sebuah vena, dan vena ini akan menjadi lebar dan lebih kuat.
(tdy)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak