Ternyata Ini Penyebab Maraknya Aksi Bullying di Lingkungan PPDS
Rabu, 21 Agustus 2024 - 19:19 WIB
loading...
Ikatan Dokter indonesia (IDI) menyoroti kasus bullying atau perundungan yang terjadi di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Foto Ilustrasi/Shutterstock
A
A
A
JAKARTA - Ikatan Dokter indonesia (IDI) menyoroti kasus bullying atau perundungan yang terjadi di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).
Ketua Junior Doctors Network IDI (Official JDN yang diakui World Medical Association), Dr Tommy Dharmawan, SpBTKV, PhD membeberkan penyebab terjadinya bullying di lingkungan PPDS.
Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah peserta PPDS tidak diberikan gaji. Menurutnya, PPDS tidak digaji menjadi masalah yang ada di Indonesia. Gaji sangat berpengaruh pada kasus bullying, sehingga beberapa oknum senior minta diberikan makan, minta diantar, hingga minta diberikan pelayanan di luar akademis.
Baca Juga: Kemenkes Bertindak di Bullying PPDS, Nama Pelaku Perundungan akan Ditandai!
“Kalau PPDS diberi gaji, minimal mereka bisa beli makan sendiri. Atau ketika anak sakit, bayangkan peserta PPDS rentang usai 27 sampai 35 tahun, mereka harusnya udah punya gaji di usia itu dan berkeluarga. Bayangkan kalau anaknya sakit, keluarganya sakit, tidak ada gaji sama sekali. Bagaimana selama ini mereka menghidupi diri sendiri,” tutur dr Tommy dalam Media Briefing mengenai Bullying PPDS bersama PB IDI & JDN IDI, Rabu (21/8/2024).
Dokter Tommy menuturkan, di luar negeri seperti Malaysia, peserta PPDS digaji senilai Rp15 juta. Sementara itu, saat pengalamannya training di Singapura, dr Tommy digaji 2.650 dolar Singapura atau kurang lebih Rp31,4 juta. Sedangkan di Indonesia, peserta PPDS tidak digaji sama sekali.
“Ini harus jadi poin oleh Kemenkes ataupun Kemendikbud dan rumah sakit vertikalnya. Utamanya untuk memberikan gaji pada PPDS,” tandasnya.
Ketua Junior Doctors Network IDI (Official JDN yang diakui World Medical Association), Dr Tommy Dharmawan, SpBTKV, PhD membeberkan penyebab terjadinya bullying di lingkungan PPDS.
Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah peserta PPDS tidak diberikan gaji. Menurutnya, PPDS tidak digaji menjadi masalah yang ada di Indonesia. Gaji sangat berpengaruh pada kasus bullying, sehingga beberapa oknum senior minta diberikan makan, minta diantar, hingga minta diberikan pelayanan di luar akademis.
Baca Juga: Kemenkes Bertindak di Bullying PPDS, Nama Pelaku Perundungan akan Ditandai!
“Kalau PPDS diberi gaji, minimal mereka bisa beli makan sendiri. Atau ketika anak sakit, bayangkan peserta PPDS rentang usai 27 sampai 35 tahun, mereka harusnya udah punya gaji di usia itu dan berkeluarga. Bayangkan kalau anaknya sakit, keluarganya sakit, tidak ada gaji sama sekali. Bagaimana selama ini mereka menghidupi diri sendiri,” tutur dr Tommy dalam Media Briefing mengenai Bullying PPDS bersama PB IDI & JDN IDI, Rabu (21/8/2024).
Dokter Tommy menuturkan, di luar negeri seperti Malaysia, peserta PPDS digaji senilai Rp15 juta. Sementara itu, saat pengalamannya training di Singapura, dr Tommy digaji 2.650 dolar Singapura atau kurang lebih Rp31,4 juta. Sedangkan di Indonesia, peserta PPDS tidak digaji sama sekali.
“Ini harus jadi poin oleh Kemenkes ataupun Kemendikbud dan rumah sakit vertikalnya. Utamanya untuk memberikan gaji pada PPDS,” tandasnya.
Lihat Juga :