alexametrics

Ini Penyebab dan Faktor Risiko Gagal Jantung

loading...
Ini Penyebab dan Faktor Risiko Gagal Jantung
Ilustrasi. / Foto: docwirenews.com
A+ A-
JAKARTA - Gagal jantung seperti yang dialami mendiang Presiden Republik Indonesia ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie sering berkembang setelah kondisi lain merusak atau melemahkan jantung. Namun, jantung tidak perlu dilemahkan untuk menyebabkan gagal jantung. Ini juga bisa terjadi jika jantung menjadi terlalu kaku.

Pada gagal jantung, ruang pompa utama jantung (ventrikel) menjadi kaku dan tidak terisi dengan baik di antara detak jantung. Dalam beberapa kasus gagal jantung, otot jantung menjadi rusak dan melemah, dan ventrikel meregang (melebar) ke titik di mana jantung tidak dapat memompa darah secara efisien ke seluruh tubuh.

Seperti dilansir Mayoclinic, seiring waktu, jantung tidak dapat lagi mengikuti tuntutan normal yang diberikan untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Fraksi ejeksi merupakan ukuran penting dari seberapa baik jantung memompa dan digunakan untuk membantu mengklasifikasikan gagal jantung dan memandu pengobatan.



Pada jantung yang sehat, fraksi ejeksi adalah 50 persen atau lebih tinggi. Artinya lebih dari setengah darah yang mengisi ventrikel dipompa keluar dengan setiap denyut. Tetapi gagal jantung dapat terjadi bahkan dengan fraksi ejeksi normal. Ini terjadi jika otot jantung menjadi kaku karena kondisi seperti tekanan darah tinggi.

Gagal jantung dapat melibatkan sisi kiri (ventrikel kiri), sisi kanan (ventrikel kanan) atau kedua sisi jantung. Umumnya, gagal jantung dimulai dengan sisi kiri, khususnya ventrikel kiri, ruang pemompa utama jantung.

Penyakit arteri koroner, serangan jantung, tekanan darah tinggi, katup jantung rusak, kerusakan otot jantung, miokarditis, cacat jantung sejak lahir hingga ritme jantung yang tidak normal merupakan salah satu dari kondisi yang dapat merusak atau melemahkan jantung dan dapat menyebabkan gagal jantung.

Selain itu, satu faktor risiko tunggal cukup untuk menyebabkan gagal jantung. Faktor risiko tersebut meliputi diabetes, beberapa obat diabetes, obat-obatan tertentu, sleep apnea, penyakit jantung valvular, virus, konsumsi alkohol, konsumsi tembakau dan kegemukan.

BJ Habibie tutup usia pada 11 September 2019 pukul 18.05 WIB. BJ Habibie meninggal di usia 83 tahun akibat penyakit gagal jantung yang diidapnya. Sejak 1 September, BJ Habibie mendapatkan perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Selama masa perawatan, BJ Habibie ditangani tim dokter spesialis dengan berbagai bidang keahlian, seperti jantung, penyakit dalam, dan ginjal.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak