alexametrics

Jungkir Balik Membangun Kepercayaan Followers

loading...
Jungkir Balik Membangun Kepercayaan Followers
Jungkir Balik Membangun Kepercayaan Followers. (Ilustrasi).
A+ A-
Sepertinya kehidupan seorang infuencer terlihat sangat indah. Bisa mendatangi event-event yang fancy, mendapatkan barang bermerk secara cuma-cuma atau jalan-jalan mewah ke lokasi wisata yang mengagumkan. Sebenarnya kehidupan selebgram maupun influencer tidak jauh berbeda dengan pengguna media sosial lainnya. Mereka tetap beraktivitas seperti orang biasa.

Namun yang membedakan, para influencer tersebut selalu berpikir setiap saat apa saja yang akan dibuat konten pada hari selanjutnya. Jadi mereka selalu siap dengan kamera rekam untuk diposting di feed maupun storyakun Instagram. Seperti yang terjadi pada Ucita Pohan, seorang influencer gaya hidup sekaligus penulis dan penyiar radio.

Kegiatan kesehariannya biasanya menjadi bahan konten yang dia unggah di medsos, khususnya Instagram. Dia menganggapnya sebagai diary yang dipakai sebagai wadah mengungkapkan isi hati, foto-foto OOTD (Outfit of the Day) serta menangkap setiap momen langkahnya. Awalnya dia curhat apapun lewat blog sejak 2009 lalu, terutama tulisan mengenai gaya hidup.



Lalu beralih ke Twitter dan Instagram ketika platform media ini mulai berjaya. Sebagai penyiara radio, dia juga terbiasa untuk membuat skrip untuk bahan siarannya. “Setiap medsos baru apa saja saya ikuti. Dan lagi-lagi kontennya tidak jauh-jauh dari fashion, beauty, travel, art dan lingkup lifestyle lainnya, seperti yang biasa saya geluti,” ujarnya.

Sepertinya, bagi Ucita, tak sulit mendapatkan konten yang menarik karena berasal dari aktivitasnya yang terbilang sibuk. Jadi, dia bisa posting di feed hampir setiap hari, bahkan beberapa kali sehari. Dia memiliki manajemen sendiri, namun tim tersebut hanya menangani masalah endorsement, tidak memutuskan mana konten yang Ucita akan bagikan di medsos.

“Keputusannya tetap ada di tangan saya. Manajemen mengurusi tawaran kerjasama, dokumen dan deal kontrak dengan endorser,” sebutnya. Bicara endorsement, perempuan kelahiran 20 Juni 1986 ini sebenarnya tak pilih-pilih dengan kategori produk, bisa perbankan, makanan, produk kecantikan dan lifestyle atau lainnya. Namun, sebaiknya produk tersebut sebaiknya yang dia pakai dan suka.

“Kadang ada produk kecantikan yang belum terdaftar di BPOM, yang belum terjamin keamanannya, saya pasti tidak mau. Atau krim pemutih misalnya, meskipun brand-nya terkenal atau ada tokonya di mall, kalau saya tidak gunakan sendiri, saya juga tidak mau karena mengganggu image saya,” terang Ucita.

Ucita mengungkapkan, dalam sebulan dia bisa mendapatkan endorsement paling tidak lima produk, karena beberapa brand mengontraknya bisa dalam jangka waktu satu bulan. Sehingga tidak bisa menerima produk dalam kategori yang sama. Ditanya penghasilannya, wanita berambut panjang yang fashionable ini tak bisa menyebutkannya secara detil karena selalu berbeda dalam sebulan.

Bagaimana dengan tingkah laku followers? Ucita bercerita, selama ini pengikutnya yang mencapai 79.300 followers dengan akun bernama @uchiet di Instagram, tak pernah berucap atau berkomentar jahat. Hal ini, menurut dia, karena postingannya selalu ke arah positif dan tidak pernah memancing unggahan yang kontroversial. “Basic saya memang sharing kegiatan sehari-hari. Jadi tak pernah ada sesuatu yang negatif,” katanya.

Influencer lainnya yang juga tengah bersinar adalah Satya Winnie, 27 tahun, yang punya passion besar pada adventure, budaya, alam bebas hingga extreme sport. Tak heran, unggahannya adalah pemandangan alam yang indah yang berlokasi di sejumlah destinasi wisata dunia, terutama Indonesia bagian timur.

Selain sebagai eksistensi diri, dia punya motivasi untuk memperkenalkan destinasi baru wisata yang masih belum dijamah masyarakat. Baru-baru ini Satya mengunjungi daerah Selayar di ujung Sulawesi Selatan. Tidak hanya mengabadikan keindahan wilayah tersebut, dia memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengikutnya.

Contohnya bagaimana cara menuju kesana, cuacanya seperti apa, bagian mana saja yang bisa di-explore atau berapa budget yang diperlukan. “Pulau Komodo di Labuan Bajo sudah saya jelajahi sekitar enam tahun yang lalu. Dan baru beberapa tahun ini booming bagi para pelancong, bahkan banyak travellers yang dari luar negeri,” kata Satya.

Senada dengan Satya, Muhammad Arif Rahman juga dikenal sebagai travel inluencer. Dia awalnya menulis setiap perjalanannya di blog atau buku cerpen, yang sudah menjadi hobinya sejak lama. Setelah platform Twitter dan Instagram muncul, dia pun ikutan bermain. Motivasinya adalah hanya ingin sharing pengalaman dengan teman-teman di dunia maya.

“Biasanya saya jadwalkan satu hari sekali posting atau dua hari. Yang penting selalu berinteraksi dengan followers sehingga mereka tak merasa diabaikan,” tutur pemilik akun @arievrahman di Twitter dan Instagram ini. (Rendra Hanggara)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak