alexametrics

Ini Perbedaan Antara Sakit Kepala Sebelah dan Migrain

loading...
Ini Perbedaan Antara Sakit Kepala Sebelah dan Migrain
Orang biasanya menganggap migrain dan sakit kepala sebelah adalah hal yang sama. Padahal, keduanya berbeda dari gejala umum dan juga mayoritas penderitanya. (kevinmd.com)
A+ A-
JAKARTA - Sakit kepala adalah keluhan yang sangat umum. Hampir semua orang pernah mengalami sakit kepala dengan keluhan dan tingkat keparahan yang berbeda. Sakit kepala bisa dirasakan di satu sisi kepala atau dua sisi kepala. Durasi dan frekuensinya juga bervariasi, tergantung pada jenis dan penyebabnya.

Salah satu jenis sakit kepala adalah sakit kepala sebelah. Orang yang menderita sakit kepala jenis ini biasanya merasakan sakit di satu bagian kepalanya. Namun, sakit kepala jenis ini sering kali dianggap sama dengan migrain. Padahal, kedua jenis sakit kepala ini berbeda.

Menurut Alodokter, sakit kepala sebelah atau cluster headache adalah serangan sakit kepala yang terjadi berulang selama periode waktu tertentu (mingguan atau bulanan), dan berpusat pada area mata atau sekitarnya. Nyerinya bersifat tajam dan digambarkan seperti rasa tertusuk pada bola mata.



Ini berbeda dengan migrain. Serangan migrain menyebabkan sakit kepala yang disertai nyeri yang berdenyut. Intesitas serangannya bisa sedang hingga berat dan disertai gejala mual, muntah, sensitif terhadap cahaya atau suara. Rasa nyeri yang diderita bisa berlangsung selama 4—72 jam.

Biasanya rasa sakit muncul pada salah satu sisi kepala saja, misalnya pada pelipis, belakang mata, wajah, rahang, atau leher. Ini yang menyebabkan migrain sering dianggap sama dengan sakit kepala sebelah. Meski begitu, sakit kepala pada migrain juga bisa saja dirasakan pada kedua sisi kepala.

Rasa sakit memburuk jika penderita melakukan aktivitas, melihat cahaya, atau mendengar suara. Penderita migrain akan cenderung mencari tempat yang tenang dan gelap untuk beristirahat saat serangan sakit kepala terjadi.

Migrain bukanlah serangan sakit kepala yang tiba-tiba terjadi. Menurut dr Irene Cindy Sunur dari Alodokter, ada gejala awal—prodromonal yang terjadi beberapa jam atau beberapa hari sebelum serangan migrain terjadi. Gejala itu seperti pusing, leher kaku, gelisah, nafsu makan meningkat, atau depresi. Migrain juga lebih sering dialami wanita.

Serangan migrain juga bisa disertai gejala gangguan saraf atau aura. Gejalanya bisa seperti munculnya cahaya, garis, atau titik abnormal pada penglihatan atau bisa juga berupa hilangnya penglihatan untuk sementara. Selain itu, penderita migrain dengan aura juga dapat mengalami kesulitan bicara atau merasa kesemutan.

Sementara, pada sakit kepala sebelah, serangan bisa terjadi 1—8 kali sehari dan berulang selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Namun, setiap serangan hanya terjadi selama 15—180 menit, lalu menghilang. Hal ini berbeda dengan serangan migrain yang dapat berlangsung hingga beberapa hari.

Serangan hanya terjadi pada satu sisi kepala saja, terutama di area mata dan sekitarnya. Penderita tidak mengalami keluhan sensitif terhadap suara atau cahaya, mual, dan muntah seperti pada penderita migrain. Gejala yang dapat muncul adalah mata merah, serta mata dan hidung berair pada satu sisi.

Sakit kepala sebelah ini lebih sering dialami pria. Mereka yang mengalaminya akan merasa gelisah dan sulit duduk diam saat serangan muncul. Pada sakit kepala ini, tidak ada gejala awal dan tidak ada aura.
(alv)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak