alexametrics

Kenapa KLa Project Enggak Pernah Ciptakan Lagu Baru?

loading...
Kenapa KLa Project Enggak Pernah Ciptakan Lagu Baru?
Setelah merilis Exellentia pada 2010, KLa Project tidak pernah lagi membuat album baru. / Foto: KoranSINDO/Thomas Manggalla
A+ A-
JAKARTA - Grup musik legendaris KLa Project terbilang sudah cukup lama tidak lagi menelurkan album. Setelah merilis Exellentia pada 2010, band yang beranggotakan Katon Bagaskara, Adi Adrian dan Romulo Radjadin (Lilo) itu tidak pernah membuat album baru lagi.

Keegganan KLa Project untuk menghasilkan dokumentasi karya terbaru lantaran industri musik di Tanah Air telah bergeser. Selain dilatarbelakangi rata-rata usia personel yang sudah tak muda lagi, kondisinya diperparah dengan keadaan industri yang kurang berpihak pada grup lawas seperti mereka.

Sejak kali pertama berdiri pada 1986, KLa Project termasuk dalam jajaran band paling produktif dalam menelurkan lagu hits dan digemari pecinta musik Tanah Air. Semasa kejayaannya di era 1990-an, KLa Project sukses menghadirkan sederet single populer, mulai dari Yogyakarta (1991) hingga Menjemput Impian (1999).



Cukup lama alpa menelurkan karya anyar, gitaris KLa Project, Lilo akhirnya membeberkan alasan bandnya masih ogah merilis karya baru. "Kenapa kita enggak keluarkan lagu baru? Memang enggak gampang sebenarnya," tandas Lilo saat dijumpai di Jakarta, baru-baru ini.

"Kenapa enggak keluarin album? Itu kalau mau dibahas serius akan panjang. Saya singkatin aja. Kami itu sudah enggak seksi di TV apalagi di radio, makanya kami coba hadirkan lagu lawas kami dengan sentuhan musik baru," paparnya.

Gitaris kelahiran Makassar, 21 September 1964 ini pun menceritakan KLa Project pernah ditolak oleh stasiun televisi karena dianggap sudah tidak muda lagi dan nama grup itu tidak lagi menjual. Alih-alih menelurkan lagu baru, KLa Project lebih memilih mengaransemen ulang semua lagu mereka saat tampil di atas panggung.

"Kali terakhir, kami nonton Rolling Stone juga kami bingung. Lagu-lagunya yang dibawain itu-itu terus dengan aransemen sama. Terus terang, KLa lebih bagus dari Rolling Stone. Mereka aransemennya sama saja. Kami punya KLakustik. Kami punya elektronik, enggak ada tuh Rolling Stone etnik. Tapi ya, kami happy-happy aja," tutur Lilo.

Dalam satu momen, karya KLa Project pernah ditolak stasiun radio, karena sang stasiun radio terpatok pada popularitas lagu yang berdasarkan hasil satu juta kali ditonton di YouTube. Dengan kondisi itu, KLa Project pun pada akhirnya memutuskan untuk sementara waktu tak mengeluarkan karya baru.

"Kami sudah enggak bisa masuk chart radio lagi dan jadi hal menyedihkan. Waktu itu kasih tahu ke orang radio, kami mau keluar lagu baru, itu teman-teman biar tahu. Kata orang radio gini, 'Elu edarin di YouTube deh. Kalau viewers-nya banyak baru gue siarin di radio'. Kalau sudah sejuta kayak Siti Badriah, sudah ilangin tuh radio. Benar enggak? Gue dapat duit lagi dari YouTube. Radio itu kita keluar duit bro. Kenapa gitu ya, aku jadi sedih ngomongnya," keluh Lilo.

Meski demikian, KLa Project tetap bersyukur karena masih aktif dan dari satu panggung ke panggung lain. Malah hampir tiap tahun mereka berhasil menggelar konser tunggal. "Tapi, KLa bersyukur 30 tahun, kami bangga konser kami selalu tiga jam. Dan terus terang, saya belum pernah lihat ada band Indonesia yang konser tiga jam selain Slank," ucap Lilo.

"Dua tahun sekali, kami bikin konser besar. Kami modal sendiri. Kami bersyukur balik modal, dapat untung," timpal Katon.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak