alexametrics

Mendongeng Bisa Pulihkan Anak-Anak dari Trauma dan Kecanduan Gawai

loading...
Mendongeng Bisa Pulihkan Anak-Anak dari Trauma dan Kecanduan Gawai
Mendongeng ternyata bukan hanya seru dan menyenangkan, tetapi juga bisa menjadi terapi anak kecanduan gawai, trauma healing pasca bencana, trauma kekerasan. / Foto: ist
A+ A-
JAKARTA - Mendongeng ternyata bukan hanya seru dan menyenangkan. Di balik itu, mendongeng juga bisa menjadi terapi anak kecanduan gawai, trauma healing pasca bencana, trauma kekerasan, hingga trauma pasca perceraian.

"Sebagai contoh, orang terkena musibah banjir besar atau gempa tiba-tiba, menghancurkan perkampungan dan menyebabkan warga untuk tinggal di pengungsian yang menyebabkan anak-anak bahkan orang dewasa mengalami trauma," pemerhati anak dan keluarga yang juga founder Rumah Amalia, Muhammad Agus Syafi'i dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/12).

"Mereka bisa menjadi panik, cemas, takut berlebihan saat melihat langit mulai mendung dan rintik hujan. Atau pun juga seorang anak yang kecanduan gawai, tiba-tiba tidak bisa login di media sosial, lantas dia berteriak-teriak histeris," tambahnya.



Oleh karena itu, mendongeng merupakan terapi yang bisa menghibur, membuat terasa lebih tenang dan senang, sehingga kepanikan dan kecemasannya hilang. Syafi'i pun mengungkapkan, di Rumah Amalia, kegiatan mendongeng dibuat program khusus dengan jadwal yang rutin. "Hal tersebut agar manfaatnya dapat lebih cepat dan lebih besar dirasakan oleh anak," imbuhnya.

Menurutnya, terapi dalam proses trauma healing setiap anak berbeda-beda. Lama waktunya tergantung dari kondisi. Ada yang bisa cepat mengatasi trauma, ada juga butuh waktu lebih panjang. Trauma healing dengan dongeng sesuai dengan kondisi anak.

"Ketika menjadikan dongeng sebagai terapi, kita harus memperhatikan kondisi anak-anak. Jika mereka sudah terlihat lebih tenang dan nyaman, maka pendongeng terapis dengan anak-anak juga sudah terjalin. Kita bisa juga mulai memberikan dongeng, misalnya dengan tema 'Singkirkan HP-mu, bermain yuk'. Sehingga anak-anak bisa meninggalkan gawai dan memilih bermain lari-larian, petak umpet, kena-kenaan, patung Pancoran, tepuk nyamuk, dan lainnya," papar Syafi'i.

Hal tersebut juga diharapkan dapat mempengaruhi pola pikir dan mengubah cara pandang mereka. Diharapkan anak yang mengalami trauma maupun anak yang kecanduan HP bisa kembali pulih, hidup lebih nyaman, lebih bahagia, lebih indah dan menemukan jati dirinya.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak