Ruang Cinta Yang Tersisa, Seni dan Kita di JDC
Rabu, 06 November 2024 - 06:49 WIB
loading...
A
A
A
Seperti kita tahu, karyanya tentang menyoal eksistensi filosofis makhluk hidup di antara yang mati dan hidup mengejutkan seni kontemporer global. Dengan mayat ikan hiu yang diawetkan formalin degan juluk The Physical Impossibility of Death in the Mind of Someone Living (1991), dari tangan dingin art dealer Charles Saatchi terjual fantastis pada 2004.
![Ruang Cinta Yang Tersisa, Seni dan Kita di JDC]()
Penulis juga memantik Bincang-Bincang Seni dengan narasi usia belia, tokoh perupa Jepang sohor, Takashi Murakami. Yang di awal usia 20-an telah membuka studio dan tinggal di New York, AS menyiapkan pamerannya di MoMA (Museum of Contemporary Art) PS1. Murakami dikenal dengan seni-pop yang mengeksplorasi komik lokal Jepang, Manga.
Perupa muda kita, Zeta memilih lukisan figur-figur, yang merepresentasikan dirinya sendiri dalam bahasa realis, memberi isyarat tentang gestur-tangan-jari juga tubuh hingga bertumpuk lebih dari dua buah. Sementara buku-buku tersaput layer-layer warna-warna abstraktif bentuk-bentuk lain yang ganjil.
Makhota dan ekspresi paras wajah, menunjukkan Zeta pasti percaya pada masa depan dan proses berkeseniannya yang melibatkan dirinya di sejumlah kompetisi sebagai emerging artist.
Sedangkan Bintang, membangun instalasi dari benda-benda temuan, seperti kaleng-kaleng minuman instan tergantung senar serta sejumlah boneka-boneka kecil yang ditata sedemikian rupa juga kotak-kotak karton yang bertuliskan teks Fragile. Tentunya, hal itu menerbangkan benak kita, usia muda menjadi jalan untuk bertumbuh kembang, dari kerapuhan menjadi matang dan tahan banting kelak.
Kerapuhan dan proses pendewasaan (kematangnan berkarya) terus beriring; kita menyaksikan ini dari dua seniman muda ini, berharap lebih pada mereka berdua di masa depan.
Yang Senior Memberi Makna Kedalaman
Penulis sekarang berupaya mendampingi dan mencoba mengulas dua seniman di usia yang tak muda, dan memilih membincangkan oeuvre (inti berkarya) mereka yang tentunya lebih majemuk serta bisa jadi membawa “cinta” lebih mendalam?
Dalam Bincang-Bincang bersama penulis, mereka tak harus mengetengahkan presentasi karya-karya yang sedang dipamerkan, namun memberi pencerahan sebuah nilai-nilai tentang seni dan energi terdalam konsepsi estetiknya.
Seniman pertama, Yeni Fatmawati, seorang lawyer, yang suntuk berkecimpung pula sebagai impresariat pertunjukan Teater, yang kemudian memilih menekuni juga menjadi perupa total; membawa kita pandangan abstrak ekspresionis miliknya yang sangat personal. Ia memintal pemikiran bahwa secara visual, lukisan-lukisannya adalah abstraksi-abstraksi yang terhubung dengan pengalaman intim dan kontemplatif dalam hidupnya.

Penulis juga memantik Bincang-Bincang Seni dengan narasi usia belia, tokoh perupa Jepang sohor, Takashi Murakami. Yang di awal usia 20-an telah membuka studio dan tinggal di New York, AS menyiapkan pamerannya di MoMA (Museum of Contemporary Art) PS1. Murakami dikenal dengan seni-pop yang mengeksplorasi komik lokal Jepang, Manga.
Perupa muda kita, Zeta memilih lukisan figur-figur, yang merepresentasikan dirinya sendiri dalam bahasa realis, memberi isyarat tentang gestur-tangan-jari juga tubuh hingga bertumpuk lebih dari dua buah. Sementara buku-buku tersaput layer-layer warna-warna abstraktif bentuk-bentuk lain yang ganjil.
Makhota dan ekspresi paras wajah, menunjukkan Zeta pasti percaya pada masa depan dan proses berkeseniannya yang melibatkan dirinya di sejumlah kompetisi sebagai emerging artist.
Sedangkan Bintang, membangun instalasi dari benda-benda temuan, seperti kaleng-kaleng minuman instan tergantung senar serta sejumlah boneka-boneka kecil yang ditata sedemikian rupa juga kotak-kotak karton yang bertuliskan teks Fragile. Tentunya, hal itu menerbangkan benak kita, usia muda menjadi jalan untuk bertumbuh kembang, dari kerapuhan menjadi matang dan tahan banting kelak.
Kerapuhan dan proses pendewasaan (kematangnan berkarya) terus beriring; kita menyaksikan ini dari dua seniman muda ini, berharap lebih pada mereka berdua di masa depan.
Yang Senior Memberi Makna Kedalaman
Penulis sekarang berupaya mendampingi dan mencoba mengulas dua seniman di usia yang tak muda, dan memilih membincangkan oeuvre (inti berkarya) mereka yang tentunya lebih majemuk serta bisa jadi membawa “cinta” lebih mendalam?
Dalam Bincang-Bincang bersama penulis, mereka tak harus mengetengahkan presentasi karya-karya yang sedang dipamerkan, namun memberi pencerahan sebuah nilai-nilai tentang seni dan energi terdalam konsepsi estetiknya.
Seniman pertama, Yeni Fatmawati, seorang lawyer, yang suntuk berkecimpung pula sebagai impresariat pertunjukan Teater, yang kemudian memilih menekuni juga menjadi perupa total; membawa kita pandangan abstrak ekspresionis miliknya yang sangat personal. Ia memintal pemikiran bahwa secara visual, lukisan-lukisannya adalah abstraksi-abstraksi yang terhubung dengan pengalaman intim dan kontemplatif dalam hidupnya.
Lihat Juga :