alexametrics

Metamorfosis Pabrik-pabrik Gula Tua di Indonesia

Lokomotif Tua PG Poerwodadie Jadi Incaran untuk Selfie

loading...
Lokomotif Tua PG Poerwodadie Jadi Incaran untuk Selfie
Pengunjung naik kereta lokomotif yang dulunya digunakan sebagai alat angkut tebu menuju pabrik gula Poerwodadie. Foto/Koran SINDO
A+ A-
MAGETAN - Lampu warna-warni itu begitu menyala cukup terang di malam hari. Tak hanya itu, di rest area ini juga terdapat lampion yang dipasang berjajar di sepanjang jalan. Untuk menambah keseruan berfoto, puluhan payung turut dipasang. Payung warna-warni tersebut dipasang di atas seutas tali. Bagi pengunjung yang datang ke sini, tak akan rela untuk melepas begitu saja kesempatan indah ini.

Keindahan rest area tersebut terdapat di Magetan, tepatnya Siter Agrowisata & Edukasi atau disingkat SAE. Destinasi wisata baru ini berada di area PT Perkebunan Nusantara XI Pabrik Gula (PG) Poerwodadie. Tempat wisata yang masih dalam tahap pengembangan ini sudah mulai melayani pengunjung. Tak sekadar untuk istirahat, fasilitas di rest area SAE ini juga cocok untuk nongkrong. Terdapat pula taman yang cocok untuk memanjakan mata dan bagi yang suka selfie.

Dari sekian fasilitas tersebut, ada yang paling menarik dari SAE PT Poerwodadie, yakni berjalan-jalan dengan naik kereta yang ditarik dengan lokomotif zaman Belanda milik PG Poerwodadie. Setidaknya ada tiga lokomotif buatan tahun 1910 yang masih dioperasikan. Sebelumnya PG yang berada di bawah naungan PTPN XI ini memiliki 18 lokomotif. Lantaran rusak, sebagian ditarik ke Surabaya untuk dimuseumkan. Jarak tempuh lokomotif nomor 16 tersebut tidak terlalu jauh, yaitu kurang dari 1 kilometer (km) dari pos penerimaan tebu menuju pabrik dengan menyeberangi jalan umum.



Biasanya, wisatawan yang naik lokomotif adalah para siswa sekolah. Khususnya siswa sekolah taman kanak-kanak maupun siswa sekolah dasar (SD). Mereka datang secara berombongan dengan ditemani guru masing-masing. Tujuan para siswa ke SAE ini, selain ingin merasakan sensasi naik lokomotif, juga sebagai wahana edukasi. Para siswa di kenalkan sejarah keberadaan lokomotif yang ada di PG Poerwodadie. Selain para siswa, tak jarang SAE ini juga dikunjungi sejumlah keluarga dari daerah setempat.

Manajer Administrasi Keuangan dan Umum PG Poerwodadie Edi Susanto mengatakan, SAE PG Poerwodadie awalnya hanya berupa rest area. Kebetulan jalan di PG Poerwodadie merupakan jalan strategis karena menghubungkan antar kabupaten, yakni Madiun dan Ngawi. Dengan tujuan ingin memanjakan pengguna jalan yang beristirahat, terbesit niatan dari manajemen PG Poerwodadie untuk menambah fasilitas di rest area tersebut.

“Di rest area ini kami ada fasilitas bermain untuk anak-anak, ada juga pujasera. Kami juga ada loko (lokomotif) yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” katanya.

Lokomotif dari PG Poerwodadie, lanjut dia, ini bisa digunakan masyarakat dua bulan sebelum musim giling atau sekitar Maret. Wisatawan yang menggunakan lokomotif ini banyak dari wisatawan lokal, khususnya anak-anak sekolah. “Sebenarnya, kalau SAE PG Poerwodadie disebut destinasi wisata, sih tidak juga. Karena kami tidak ada retribusi dan kami tidak berkontribusi bagi pemerintah daerah. Tujuan utama kami sebenarnya adalah ingin optimalisasi aset. Itu saja,” terang Edi.

Meski begitu, PG Poerwodadie tetap memiliki mimpi agar SAE ke depan bisa menjadi destinasi wisata. Pihaknya sudah menawarkan kepada sejumlah investor. Sayangnya, masih belum ada yang tertarik. Sejauh ini manajemen juga belum secara matang akan menjadikan SAE PG Poerwodadie menjadi destinasi wisata. “Kami akan sangat berterimakasih ketika ada dukungan dari pemerintah agar SAE PG Poerwodadie jadi destinasi wisata.”

PG Poerwodadie didirikanoleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1832 yang saat itubernama Nederlands HendelMaatschapij (NHM). Lokasinya di Desa Pelem, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan. Pada 1959, PG Poerwodadie diambil alih Pemerintah Indonesia.

PG Poerwodadie terletak di Jalan Raya Madiun-Ngawi, tepatnya di Desa Pelem, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. PG ini hanya berjarak 15 km dari Kota Ngawi. Berkunjung ke PG Poerwo dadie setidaknya menjadi alternatif selain beberapa objek wisata di Magetan yang menarik lainnya seperti Telaga Sarangan dan wisata Gunung Lawu. (Lukman Hakim)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak