Lebih dari Sekadar Peran, Reza Rahadian Ungkap Ikatan Batin dengan Habibie dan Ainun
Kamis, 16 Januari 2025 - 19:40 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Aktor Reza Rahadian punya kedekatan secara personal dan emosional dengan BJ Habibie dan Ainun. Aktor ini begitu apik saat memerankan karakter BJ Habibie dalam film Habibie & Ainun.
Hal tersebut diungkapkan saat di momen pembukaan serta peluncuran Wisma Habibie & Ainun (WHA) pada Kamis (16/1/2025). Ia pun ikut mengenang kepribadian, pembelajaran, serta nasihat yang didapat dari Habibie di tempat tersebut.
“Tempat ini memiliki arti sangat besar. Semua bagian, ruangan, hingga patung itu punya arti dan filosofi bagi Eyang Habibie dan ketika dapat kesempatan memerankan beliau, saya cari tahu soal pandangannya, semuanya begitu dipaparkan sangat rinci, selama 3 hari saya ke sini, interaksi sampai 6 jam per hari," ujarnya.
Dia mengungkapkan bahwa wisma ini punya arti dan makna yang begitu luar biasa baginya ketika menyempatkan waktu ketemu eyang di rumah kediaman pribadi dia pun merasa lewat wisma ini tumbuh nilai kebangsaan demokrasi hidup dan cinta yang didapatkan dari wisma Habibie & Ainun ini.
“Saya ingat sekali ketika masuk wisma ditemani eyang ditujukan makna dalam tiap ruang wisma ini misal arti 2 kolam ikan, ada simbol lintas agama dan kebinekaan masuk beberapa pintu dan patung punya arti yang buat saya eyang itu figur spesial dan istimewa yang sering gunakan kata menjadi manusia yang unggul dan dari beliau seingat saya sampaikan ada cinta kepada Tuhan, kepada sesama manusia dan cinta terhadap karya. Jadi secara personal pelajari cara pemikiran eyang,” jelasnya mengisahkan kedekatan dengan mendiang BJ Habibie & Ainun.
“Pengalaman perjumpaan dengan eyang ikut memberikan banyak hal untuk 20 tahun berkarir kalaupun punya kesempatan buat karya film yang terkait eyang itu impian itu nilai yang belum ditujukan dan digali cerita yang suka istilah yang dipakai tetapi itu mimpi saya membuat film tentang eyang Habibie,” sambungnya yang memiliki mimpi membuat film tentang Habibie dan Ainun versinya.
Sementara itu Wisma Habibie & Ainun (WHA), yang adalah rumah pribadi sekaligus kepresidenan dari Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Habibie. WHA rencananya akan dibuka secara eksklusif sebagai sebuah historical yang tentunya bertujuan sebagai bentuk edukasi dan legacy bagi generasi muda tanah air.
Peluncurannya yang dilakukan pada pertengahan Januari 2025 ini menandai pengenalan WHA kepada publik sebagai ruang mengenang perjalanan hidup inspiratif dari Presiden Ke-3 Republik Indonesia dan Ibu Negara tercinta yang mengabadikan nilai-nilai cinta, intelektual, dan demokrasi. WHA, yang berlokasi di Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta, adalah manifestasi dari filosofi hidup Habibie & Ainun yang menjunjung tinggi cinta kepada Tuhan, cinta sesama manusia, dan cinta kepada karya manusia sebagai kompas moral.
Nadia Habibie, sebagai Duta Wisma Habibie & Ainun, menjelaskan bahwa keluarga bersatu untuk menjalankan amanat Eyang Habibie & Eyang Ainun, agar rumah pribadinya bermanfaat untuk rakyat dan bangsa Indonesia.
“Doa dan harapan ini diabadikan dalam sebuah plakat di sebuah sudut tembok di WHA pada saat peresmian bangunan perpustakaan, yang ternyata hari itu, 11 Agustus 2009, adalah hari ulang tahun terakhir Eyang Ainun sebelum wafat pada tahun 2010” , ujar Nadia yang juga merupakan cucu dari Habibie.
Walaupun Wisma ini masih digunakan untuk berbagai kegiatan keluarga, WHA juga memberikan kesempatan eksklusif untuk menggunakannya sebagai tempat diskusi intelektual dan filosofis, serta acara perayaan momen spesial organisasi, keluarga maupun individu, yang sejalan dengan nilai-nilai kehidupan Habibie & Ainun.
Sebagai informasi, Wisma Habibie dan Ainun terletak di samping rumah kediaman keluarga yang selama ini mereka tempati. Di Wisma Habibie dan Ainun terdapat banyak ruangan menarik yang memiliki sejarah dengan kehidupan Habibie dan Ainun.
Bukan sekedar hunian, WHA adalah tempat di mana Habibie dan Ainun berbagi cinta dan pengabdian satu sama lain, hingga menjadi tempat mereka disemayamkan sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
Dalam setiap sudut WHA, tersimpan nilai-nilai mendalam yang tercermin pada karya seni, seperti panel elemen budaya ragam wilayah Nusantara, aneka flora dan fauna khas benua maritim Indonesia, hingga panel simbol agama-agama yang menggambarkan harmoni keyakinan di tanah air ini yang dapat hidup berdampingan.
Setelah memasuki lobi utama wisma, pengunjung akan dihadapkan dengan Jembatan Pencerahan atau Pathway of Enlightenment menuju Perpustakaan Habibie dan Ainun.
Perpustakaan Habibie dan Ainun menampung sekitar 5.000 buku yang merupakan koleksi milik Presiden RI ketiga tersebut. Namun, buku-buku yang kebanyakan tentang budaya dan politik itu tidak boleh disentuh karena sedang dalam proses digitalisasi. Sinergi positif antara budaya dan agama,menghasilkan keyakinan Iman dan Taqwa.
Selanjutnya, ada Aula Pendopo yang kini digunakan sebagai ruang serbaguna. Dulu, Pendopo ini adalah lapangan bulutangkis tempat Habibie dan keluarga menghabiskan waktunya. Namun, Ainun meminta lapangan ini untuk dibongkar dan dijadikan Aula Pendopo. Aula Pendopo ini juga menjadi saksi bisu pertemuan terakhir kabinet Orde Baru.
Tepat di sampingnya, ada Ruang Memorial atau tempat persemayaman jenazah Habibie dan Ainun. Beberapa ornamen serta lukisan di ruangan-ruangan ini masih seperti dulu saat Habibie dan Ainun hidup. Nantinya, akan ada tur untuk umum dengan regulasi khusus dari Wisma Habibie dan Ainun.
Selain itu, tempat ini juga bisa dijadikan alternatif untuk acara pernikahan atau pertunangan dengan maksimal 300 tamu undangan. Untuk harga dan kelengkapan administrasi, bisa dicek melalui akun Instagram resmi Wisma Habibie dan Ainun.
Masyarakat akan memiliki kesempatan untuk mengunjungi ruang-ruang ikonik, seperti Perpustakaan pribadi Habibie, area Pendopo tempat dilangsungkannya pertemuan penting di detik-detik yang menentukan Indonesia, koleksi miniatur pesawat, dan berbagai pengalaman berkesan lainnya.
Hal tersebut diungkapkan saat di momen pembukaan serta peluncuran Wisma Habibie & Ainun (WHA) pada Kamis (16/1/2025). Ia pun ikut mengenang kepribadian, pembelajaran, serta nasihat yang didapat dari Habibie di tempat tersebut.
“Tempat ini memiliki arti sangat besar. Semua bagian, ruangan, hingga patung itu punya arti dan filosofi bagi Eyang Habibie dan ketika dapat kesempatan memerankan beliau, saya cari tahu soal pandangannya, semuanya begitu dipaparkan sangat rinci, selama 3 hari saya ke sini, interaksi sampai 6 jam per hari," ujarnya.
Dia mengungkapkan bahwa wisma ini punya arti dan makna yang begitu luar biasa baginya ketika menyempatkan waktu ketemu eyang di rumah kediaman pribadi dia pun merasa lewat wisma ini tumbuh nilai kebangsaan demokrasi hidup dan cinta yang didapatkan dari wisma Habibie & Ainun ini.
“Saya ingat sekali ketika masuk wisma ditemani eyang ditujukan makna dalam tiap ruang wisma ini misal arti 2 kolam ikan, ada simbol lintas agama dan kebinekaan masuk beberapa pintu dan patung punya arti yang buat saya eyang itu figur spesial dan istimewa yang sering gunakan kata menjadi manusia yang unggul dan dari beliau seingat saya sampaikan ada cinta kepada Tuhan, kepada sesama manusia dan cinta terhadap karya. Jadi secara personal pelajari cara pemikiran eyang,” jelasnya mengisahkan kedekatan dengan mendiang BJ Habibie & Ainun.
“Pengalaman perjumpaan dengan eyang ikut memberikan banyak hal untuk 20 tahun berkarir kalaupun punya kesempatan buat karya film yang terkait eyang itu impian itu nilai yang belum ditujukan dan digali cerita yang suka istilah yang dipakai tetapi itu mimpi saya membuat film tentang eyang Habibie,” sambungnya yang memiliki mimpi membuat film tentang Habibie dan Ainun versinya.
Sementara itu Wisma Habibie & Ainun (WHA), yang adalah rumah pribadi sekaligus kepresidenan dari Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Habibie. WHA rencananya akan dibuka secara eksklusif sebagai sebuah historical yang tentunya bertujuan sebagai bentuk edukasi dan legacy bagi generasi muda tanah air.
Peluncurannya yang dilakukan pada pertengahan Januari 2025 ini menandai pengenalan WHA kepada publik sebagai ruang mengenang perjalanan hidup inspiratif dari Presiden Ke-3 Republik Indonesia dan Ibu Negara tercinta yang mengabadikan nilai-nilai cinta, intelektual, dan demokrasi. WHA, yang berlokasi di Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta, adalah manifestasi dari filosofi hidup Habibie & Ainun yang menjunjung tinggi cinta kepada Tuhan, cinta sesama manusia, dan cinta kepada karya manusia sebagai kompas moral.
Nadia Habibie, sebagai Duta Wisma Habibie & Ainun, menjelaskan bahwa keluarga bersatu untuk menjalankan amanat Eyang Habibie & Eyang Ainun, agar rumah pribadinya bermanfaat untuk rakyat dan bangsa Indonesia.
“Doa dan harapan ini diabadikan dalam sebuah plakat di sebuah sudut tembok di WHA pada saat peresmian bangunan perpustakaan, yang ternyata hari itu, 11 Agustus 2009, adalah hari ulang tahun terakhir Eyang Ainun sebelum wafat pada tahun 2010” , ujar Nadia yang juga merupakan cucu dari Habibie.
Walaupun Wisma ini masih digunakan untuk berbagai kegiatan keluarga, WHA juga memberikan kesempatan eksklusif untuk menggunakannya sebagai tempat diskusi intelektual dan filosofis, serta acara perayaan momen spesial organisasi, keluarga maupun individu, yang sejalan dengan nilai-nilai kehidupan Habibie & Ainun.
Sebagai informasi, Wisma Habibie dan Ainun terletak di samping rumah kediaman keluarga yang selama ini mereka tempati. Di Wisma Habibie dan Ainun terdapat banyak ruangan menarik yang memiliki sejarah dengan kehidupan Habibie dan Ainun.
Bukan sekedar hunian, WHA adalah tempat di mana Habibie dan Ainun berbagi cinta dan pengabdian satu sama lain, hingga menjadi tempat mereka disemayamkan sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
Dalam setiap sudut WHA, tersimpan nilai-nilai mendalam yang tercermin pada karya seni, seperti panel elemen budaya ragam wilayah Nusantara, aneka flora dan fauna khas benua maritim Indonesia, hingga panel simbol agama-agama yang menggambarkan harmoni keyakinan di tanah air ini yang dapat hidup berdampingan.
Setelah memasuki lobi utama wisma, pengunjung akan dihadapkan dengan Jembatan Pencerahan atau Pathway of Enlightenment menuju Perpustakaan Habibie dan Ainun.
Perpustakaan Habibie dan Ainun menampung sekitar 5.000 buku yang merupakan koleksi milik Presiden RI ketiga tersebut. Namun, buku-buku yang kebanyakan tentang budaya dan politik itu tidak boleh disentuh karena sedang dalam proses digitalisasi. Sinergi positif antara budaya dan agama,menghasilkan keyakinan Iman dan Taqwa.
Selanjutnya, ada Aula Pendopo yang kini digunakan sebagai ruang serbaguna. Dulu, Pendopo ini adalah lapangan bulutangkis tempat Habibie dan keluarga menghabiskan waktunya. Namun, Ainun meminta lapangan ini untuk dibongkar dan dijadikan Aula Pendopo. Aula Pendopo ini juga menjadi saksi bisu pertemuan terakhir kabinet Orde Baru.
Tepat di sampingnya, ada Ruang Memorial atau tempat persemayaman jenazah Habibie dan Ainun. Beberapa ornamen serta lukisan di ruangan-ruangan ini masih seperti dulu saat Habibie dan Ainun hidup. Nantinya, akan ada tur untuk umum dengan regulasi khusus dari Wisma Habibie dan Ainun.
Selain itu, tempat ini juga bisa dijadikan alternatif untuk acara pernikahan atau pertunangan dengan maksimal 300 tamu undangan. Untuk harga dan kelengkapan administrasi, bisa dicek melalui akun Instagram resmi Wisma Habibie dan Ainun.
Masyarakat akan memiliki kesempatan untuk mengunjungi ruang-ruang ikonik, seperti Perpustakaan pribadi Habibie, area Pendopo tempat dilangsungkannya pertemuan penting di detik-detik yang menentukan Indonesia, koleksi miniatur pesawat, dan berbagai pengalaman berkesan lainnya.
(tar)
Lihat Juga :