Melihat Tradisi Imlek Peranakan Tionghoa di Indonesia Lewat Kacamata Kreator TikTok Tangerang
Rabu, 29 Januari 2025 - 09:20 WIB
loading...
A
A
A
Setelah Hari Imlek usai, bukan berarti perayaan awal tahun di kalender Tionghoa berakhir. Setiap hari ke-15 setelah Imlek, masyarakat Tionghoa akan merayakan Cap Go Meh, yakni perayaan puncak dari tahun baru Imlek. Biasanya perayaan ini dilakukan dengan arak-arakan meriah di sepanjang jalan, festival lampion, serta pertunjukan Barongsai yang menandakan kesuksesan, keberuntungan dan pengusir hal-hal buruk.
Elsa menceritakan, di Indonesia, Cap Go Meh juga dirayakan dengan meriah oleh masyarakat Tionghoa di beberapa daerah di Indonesia. Sebagai contoh, di Pontianak dan Singkawang, perayaan ini dirayakan dengan pawai Tatung. Tatung sendiri adalah sebutan untuk orang yang dirasuki oleh roh leluhur, yang selanjutnya akan diarak mengelilingi kota dengan tujuan untuk menolak bala (kesialan).
Selain itu, mirip seperti Imlek, Cap Go Meh juga memiliki hidangan khas seperti lontong Cap Go Meh, serta hidangan lainnya yang juga disantap saat Imlek seperti kue keranjang dan jeruk mandarin.
Tradisi Ceng Beng: Bakar 'Emas' hingga 'Mobil' Saat Ziarah
Dua bulan setelah peringatan Imlek, masyarakat Tionghoa-Indonesia biasanya akan merayakan Ceng Beng atau Qing Ming, upacara tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan berziarah ke makam leluhur. Menurut Elsa, tradisi Ceng Beng adalah bentuk penghormatan kepada leluhur yang sudah mengajarkan kita untuk berbakti semasa hidup.
Elsa menjelaskan sebelum Ceng Beng, biasanya masyarakat Tionghoa akan berziarah sekitar 10-14 hari untuk membersihkan makam leluhur. Sebagian orang juga bahkan lebih memilih untuk mudik saat Ceng Beng dibanding Imlek, sebab ziarah ini menunjukkan bakti mereka terhadap para leluhur.
Uniknya, sebelum mengunjungi makam leluhur, anggota keluarga biasanya akan menyiapkan beberapa benda termasuk dupa, lilin, dan seperangkat kebutuhan para leluhur, seperti pakaian, uang, emas, HP, bahkan mobil! Jangan kaget, sebab tentunya benda-benda ini hanya simbolik yang terbuat dari kertas dan nantinya akan dibakar.
Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para leluhur di akhirat. Ketika berziarah, para anggota keluarga akan membersihkan makam dan tak lupa menancapkan kertas tecua di atas tanah makam. Kertas tersebut menjadi penanda bahwa makam para leluhur telah dikunjungi oleh anak-cucu mereka.
Baca Juga: 5 Fakta Kate Middleton Sukses Kuasai Kerajaan Inggris, Siap Geser Ratu Camilla dari Takhta
Elsa menceritakan, di Indonesia, Cap Go Meh juga dirayakan dengan meriah oleh masyarakat Tionghoa di beberapa daerah di Indonesia. Sebagai contoh, di Pontianak dan Singkawang, perayaan ini dirayakan dengan pawai Tatung. Tatung sendiri adalah sebutan untuk orang yang dirasuki oleh roh leluhur, yang selanjutnya akan diarak mengelilingi kota dengan tujuan untuk menolak bala (kesialan).
Selain itu, mirip seperti Imlek, Cap Go Meh juga memiliki hidangan khas seperti lontong Cap Go Meh, serta hidangan lainnya yang juga disantap saat Imlek seperti kue keranjang dan jeruk mandarin.
Tradisi Ceng Beng: Bakar 'Emas' hingga 'Mobil' Saat Ziarah
Dua bulan setelah peringatan Imlek, masyarakat Tionghoa-Indonesia biasanya akan merayakan Ceng Beng atau Qing Ming, upacara tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan berziarah ke makam leluhur. Menurut Elsa, tradisi Ceng Beng adalah bentuk penghormatan kepada leluhur yang sudah mengajarkan kita untuk berbakti semasa hidup.
Elsa menjelaskan sebelum Ceng Beng, biasanya masyarakat Tionghoa akan berziarah sekitar 10-14 hari untuk membersihkan makam leluhur. Sebagian orang juga bahkan lebih memilih untuk mudik saat Ceng Beng dibanding Imlek, sebab ziarah ini menunjukkan bakti mereka terhadap para leluhur.
Uniknya, sebelum mengunjungi makam leluhur, anggota keluarga biasanya akan menyiapkan beberapa benda termasuk dupa, lilin, dan seperangkat kebutuhan para leluhur, seperti pakaian, uang, emas, HP, bahkan mobil! Jangan kaget, sebab tentunya benda-benda ini hanya simbolik yang terbuat dari kertas dan nantinya akan dibakar.
Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para leluhur di akhirat. Ketika berziarah, para anggota keluarga akan membersihkan makam dan tak lupa menancapkan kertas tecua di atas tanah makam. Kertas tersebut menjadi penanda bahwa makam para leluhur telah dikunjungi oleh anak-cucu mereka.
Baca Juga: 5 Fakta Kate Middleton Sukses Kuasai Kerajaan Inggris, Siap Geser Ratu Camilla dari Takhta
Lihat Juga :