Pemkab Minahasa Utara Gencarkan Langkah Pencegahan DBD demi Lindungi Warga
Jum'at, 25 April 2025 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Cegah DBD, Edukasi 3M Plus Sasar 35 Desa dan Kelurahan di Bali
“Guna mengendalikan angka kasus dengue di Minahasa Utara, serta melindungi warga dari penyebaran virus dengue, kami melihat perlunya menerapkan pendekatan yang lebih terintegrasi dan inovatif, salah satunya melalui vaksinasi. Untuk itu, Dinas Kesehatan akan mengimplementasikan pilot program vaksinasi dengue kepada 500 anak-anak SD/MI di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kalawat dan Kecamatan Dimembe. Kedua kecamatan ini dipilih karena merupakan wilayah endemik dengue dengan kasus tertinggi di Minahasa Utara,” jelas dr. Stella yang ditemui di sela-sela acara ‘Sosialisasi Tatalaksana Skrining Kanker Serviks dan Pencegahan Penyakit Dengue’. Pada 2024, Kecamatan Kalawat tercatat sebanyak 175 kasus (IR=0,6%), dan Kecamatan Dimembe dengan 169 kasus (IR=0,7%) dengan 2 kematian (CFR=1,9%).
dr. Hesty Lestari, SpA, dokter spesialis anak, mengemukakan, “Vaksinasi merupakan salah satu bentuk investasi kesehatan terbaik dalam mencegah dan mengendalikan penyakit menular seperti dengue dan HPV DNA. Untuk dengue, vaksin telah direkomendasikan oleh asosiasi medis di Indonesia dan dapat diberikan kepada kelompok usia 6 hingga 45 tahun. Di Kabupaten Minahasa Utara, program vaksinasi akan difokuskan pada anak-anak usia SD/MI, karena mereka termasuk kelompok yang paling rentan terhadap infeksi dan risiko dengue berat. Penting diketahui bahwa seseorang bisa terinfeksi dengue lebih dari satu kali, dan infeksi berikutnya justru berisiko lebih parah. Itulah mengapa perlindungan sejak dini sangat penting. Namun, untuk mendapatkan manfaat optimal, vaksinasi harus dilakukan sesuai dengan dosis dan jadwal yang dianjurkan oleh dokter.”
dr. Hesty menambahkan bahwa dengue bukanlah penyakit musiman. “Penularan dengue bisa terjadi sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, tempat tinggal, atau gaya hidup seseorang. Karena itu, penting bagi orang tua, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam upaya pencegahan. Memberikan perlindungan sejak dini melalui edukasi, penerapan pola hidup bersih melalui penerapan Gerakan 3M Plus, dan memberikan akses terhadap pilihan pencegahan yang tersedia merupakan langkah nyata untuk menjaga masa depan anak-anak kita,” tutup dr. Hesty.
Sebagai salah satu mitra dalam penyelenggaraan acara sosialisasi ini, dr. Sri Harsi Teteki, M.Kes., Director of Medical, Institutional and Governance Relations Bio Farma, menyatakan, “Sebagai bagian dari upaya aktif memerangi dengue di Indonesia, Bio Farma terus mendorong perluasan akses vaksin dengue, tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga kepada berbagai perangkat negara—termasuk BUMN, BUMD, TNI/Polri, ASN, hingga pemerintah daerah. Kami juga berkomitmen untuk membangun kemitraan yang kuat dan berkelanjutan dengan berbagai pihak guna memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional. Edukasi yang konsisten kepada para pemangku kepentingan merupakan kunci, karena dengue adalah tantangan kesehatan yang nyata dan terus mengintai. Dengan kolaborasi lintas sektor, kami optimistis Indonesia dapat mengambil langkah lebih maju dalam mencegah dan mengendalikan penyakit menular seperti dengue.”
“Guna mengendalikan angka kasus dengue di Minahasa Utara, serta melindungi warga dari penyebaran virus dengue, kami melihat perlunya menerapkan pendekatan yang lebih terintegrasi dan inovatif, salah satunya melalui vaksinasi. Untuk itu, Dinas Kesehatan akan mengimplementasikan pilot program vaksinasi dengue kepada 500 anak-anak SD/MI di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kalawat dan Kecamatan Dimembe. Kedua kecamatan ini dipilih karena merupakan wilayah endemik dengue dengan kasus tertinggi di Minahasa Utara,” jelas dr. Stella yang ditemui di sela-sela acara ‘Sosialisasi Tatalaksana Skrining Kanker Serviks dan Pencegahan Penyakit Dengue’. Pada 2024, Kecamatan Kalawat tercatat sebanyak 175 kasus (IR=0,6%), dan Kecamatan Dimembe dengan 169 kasus (IR=0,7%) dengan 2 kematian (CFR=1,9%).
dr. Hesty Lestari, SpA, dokter spesialis anak, mengemukakan, “Vaksinasi merupakan salah satu bentuk investasi kesehatan terbaik dalam mencegah dan mengendalikan penyakit menular seperti dengue dan HPV DNA. Untuk dengue, vaksin telah direkomendasikan oleh asosiasi medis di Indonesia dan dapat diberikan kepada kelompok usia 6 hingga 45 tahun. Di Kabupaten Minahasa Utara, program vaksinasi akan difokuskan pada anak-anak usia SD/MI, karena mereka termasuk kelompok yang paling rentan terhadap infeksi dan risiko dengue berat. Penting diketahui bahwa seseorang bisa terinfeksi dengue lebih dari satu kali, dan infeksi berikutnya justru berisiko lebih parah. Itulah mengapa perlindungan sejak dini sangat penting. Namun, untuk mendapatkan manfaat optimal, vaksinasi harus dilakukan sesuai dengan dosis dan jadwal yang dianjurkan oleh dokter.”
dr. Hesty menambahkan bahwa dengue bukanlah penyakit musiman. “Penularan dengue bisa terjadi sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, tempat tinggal, atau gaya hidup seseorang. Karena itu, penting bagi orang tua, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam upaya pencegahan. Memberikan perlindungan sejak dini melalui edukasi, penerapan pola hidup bersih melalui penerapan Gerakan 3M Plus, dan memberikan akses terhadap pilihan pencegahan yang tersedia merupakan langkah nyata untuk menjaga masa depan anak-anak kita,” tutup dr. Hesty.
Sebagai salah satu mitra dalam penyelenggaraan acara sosialisasi ini, dr. Sri Harsi Teteki, M.Kes., Director of Medical, Institutional and Governance Relations Bio Farma, menyatakan, “Sebagai bagian dari upaya aktif memerangi dengue di Indonesia, Bio Farma terus mendorong perluasan akses vaksin dengue, tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga kepada berbagai perangkat negara—termasuk BUMN, BUMD, TNI/Polri, ASN, hingga pemerintah daerah. Kami juga berkomitmen untuk membangun kemitraan yang kuat dan berkelanjutan dengan berbagai pihak guna memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional. Edukasi yang konsisten kepada para pemangku kepentingan merupakan kunci, karena dengue adalah tantangan kesehatan yang nyata dan terus mengintai. Dengan kolaborasi lintas sektor, kami optimistis Indonesia dapat mengambil langkah lebih maju dalam mencegah dan mengendalikan penyakit menular seperti dengue.”
Lihat Juga :