Peningkatan Pasien Gagal Ginjal Dorong Urgensi Penanganan dan Pencegahan Dini
Kamis, 01 Mei 2025 - 20:20 WIB
loading...
Sepanjang tahun 2024, BPJS mencatat sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani cuci darah, yang menyebabkan biaya pengobatan hingga Rp11 triliun. Foto/The Well by Norhwell
A
A
A
JAKARTA - Sepanjang tahun 2024, BPJS mencatat sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani hemodialisa (cuci darah), yang menyebabkan biaya pengobatan membengkak hingga Rp11 triliun. Lonjakan ini menjadi alarm serius bagi sistem kesehatan Indonesia.
Penyakit Ginjal Kronik (PGK) menyumbang 4,6 persen kematian global pada 2017, dan diperkirakan menjadi penyebab kematian kelima terbanyak di dunia pada 2040. Di Indonesia, prevalensi PGK tercatat 0,38 persen menurut Riskesdas 2018, dan jumlahnya terus meningkat setiap tahun.
Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH menegaskan pentingnya fungsi ginjal dalam tubuh dan menjelaskan bahwa PGK sering kali tidak terdeteksi hingga 90 persen fungsi ginjal telah rusak.
Penyebab utama PGK di Indonesia adalah hipertensi dan diabetes, yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini. Ia juga menekankan pentingnya skrining PGK secara tertarget, karena penanganan sejak awal bisa memperlambat progres penyakit dan menghemat biaya besar untuk terapi pengganti ginjal seperti cuci darah.
"Beban global yang besar pada PGK menyebabkan skrining terhadap PGK penting dilakukan. Skrining tertarget dapat menurunkan biaya akibat PGK," kata Dr. Pringgodigdo.
"Pengobatan PGK secara dini dapat memperlama onset seorang pasien untuk jatuh ke gagal ginjal sehingga penghematan biaya untuk terapi pengganti ginjal akan lebih banyak," tambahnya.
Penyakit Ginjal Kronik (PGK) menyumbang 4,6 persen kematian global pada 2017, dan diperkirakan menjadi penyebab kematian kelima terbanyak di dunia pada 2040. Di Indonesia, prevalensi PGK tercatat 0,38 persen menurut Riskesdas 2018, dan jumlahnya terus meningkat setiap tahun.
Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH menegaskan pentingnya fungsi ginjal dalam tubuh dan menjelaskan bahwa PGK sering kali tidak terdeteksi hingga 90 persen fungsi ginjal telah rusak.
Penyebab utama PGK di Indonesia adalah hipertensi dan diabetes, yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini. Ia juga menekankan pentingnya skrining PGK secara tertarget, karena penanganan sejak awal bisa memperlambat progres penyakit dan menghemat biaya besar untuk terapi pengganti ginjal seperti cuci darah.
"Beban global yang besar pada PGK menyebabkan skrining terhadap PGK penting dilakukan. Skrining tertarget dapat menurunkan biaya akibat PGK," kata Dr. Pringgodigdo.
"Pengobatan PGK secara dini dapat memperlama onset seorang pasien untuk jatuh ke gagal ginjal sehingga penghematan biaya untuk terapi pengganti ginjal akan lebih banyak," tambahnya.
Lihat Juga :