Viral TKI Meninggal di Jepang Akibat Kentang Bertunas, Ini Bahaya Nyata di Baliknya

Rabu, 11 Juni 2025 - 16:17 WIB
loading...
Viral TKI Meninggal...
Kentang sebenarnya termasuk bahan makanan pokok yang kaya akan nutrisi, mulai dari vitamin C, vitamin B6, hingga serat. Foto/Freepik.
A A A
JAKARTA - Baru-baru ini viral di sosial media X tentang kisah tragis pasangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) , yang dikabarkan meninggal dunia di Jepang setelah mengonsumsi kentang yang sudah bertunas.

Unggahan yang diposting di akun X @tanyarlfes itu menyebutkan, bahwa kentang yang terlalu lama disimpan, terpapar sinar matahari, atau berwarna hijau bisa mengandung senyawa beracun berbahaya yang disebut glikoalkaloid.

"Kentang bertunas se Bahaya itukah? Sumpehhh loh sender syiksyaksyok krna baru tau ngeuri banget yakkk," tulis akun tersebut disertai potret kentang bertunas dan tangkapan layar penjelasan bahaya konsumsi kentang yang tidak layak makan.

Baca juga: 10 Negara dengan Tingkat Obesitas Tertinggi di Dunia, Indonesia Posisi Berapa?

Nah, berikut fakta mengenai bahaya kentang bertunas bagi kesehatan, dilansir dari beberapa sumber, Rabu (11/6/2025).

Kentang sebenarnya termasuk bahan makanan pokok yang kaya akan nutrisi, mulai dari vitamin C, vitamin B6, hingga serat. Namun, kondisi penyimpanan yang tidak tepat bisa membuat kentang berubah menjadi bahan makanan beracun.

Mengutip laman EatingWell, kentang yang bertunas, berubah warna menjadi kehijauan, atau memiliki bintik hijau mengandung senyawa kimia alami yang disebut solanin dan chaconine, bagian dari kelompok glikoalkaloid.

Baca juga: Daun Apa yang Bikin ASI Lancar? Ini 7 Jenis yang Terbukti Berkhasiat untuk Ibu Menyusui

Senyawa ini merupakan mekanisme alami perlindungan tanaman dari serangga dan penyakit. Namun, pada manusia, konsumsi dalam jumlah tinggi bisa menimbulkan efek keracunan serius.

Apa Itu Glikoalkaloid?


Glikoalkaloid adalah senyawa toksik alami yang ada pada tanaman dalam keluarga nightshade (termasuk kentang, tomat, dan terung). Senyawa ini paling banyak terkonsentrasi pada kulit, mata tunas, dan bagian yang berwarna hijau dari kentang.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh National Institutes of Health (NIH), konsumsi glikoalkaloid dalam dosis tinggi dapat menyebabkan berbagai gejala mulai dari mual, muntah, diare, sakit kepala, hingga gangguan sistem saraf seperti kebingungan dan kelumpuhan ringan. Pada kasus yang ekstrem, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Meski belum ada konfirmasi resmi mengenai kebenaran kasus pasangan TKI yang meninggal dunia seperti disebutkan dalam unggahan viral tersebut, kasus keracunan akibat kentang bertunas bukan hal baru.

Pada tahun 2013, sebuah kasus di Inggris mencatat satu keluarga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi sup berbahan dasar kentang tua dan bertunas.

Dua anak dari keluarga tersebut dirawat di rumah sakit dan mengalami gejala neurologis parah, meskipun berhasil pulih setelah mendapat perawatan intensif.

Ciri-Ciri Kentang yang Tidak Aman Dikonsumsi


Dilansir dari EatingWell dan Food Safety Authority, berikut tanda kentang yang sebaiknya dibuang:

Bertunas dan tunasnya cukup besar.
Warna kulit berubah menjadi kehijauan.
Tekstur sudah mulai lembek atau keriput.
Memiliki rasa pahit atau aneh setelah dimasak.

Jika tunas masih kecil dan kentang tidak menunjukkan perubahan warna, tekstur, atau rasa aneh, biasanya kentang masih bisa dikonsumsi dengan catatan tunas dan bagian hijau benar-benar dibuang. Namun, jika ragu, lebih baik buang untuk menghindari risiko keracunan.

Agar kentang tidak cepat bertunas atau berubah warna, simpanlah dengan cara berikut:

Simpan di tempat sejuk, gelap, dan kering (jangan di lemari es).
Hindari sinar matahari langsung.
Jangan menyimpan kentang dekat bawang karena bisa mempercepat pembusukan.
Periksa secara rutin dan buang kentang yang menunjukkan tanda-tanda rusak.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Liburan Terima Beres...
Liburan Terima Beres ke Jepang: Jelajah Fukuoka dan Oita yang Unik
16 Seniman Kontemporer...
16 Seniman Kontemporer Indonesia Boyong Skena Seni Jakarta ke Jepang
Cara Baru Menikmati...
Cara Baru Menikmati Jepang, Lebih Personal dan Fleksibel
Indonesia - Jepang Teken...
Indonesia - Jepang Teken MoC Pariwisata, Perkuat Kerja Sama dan Tingkatkan Kunjungan Wisatawan
Festival Sakura di Fujiyoshida...
Festival Sakura di Fujiyoshida Dibatalkan karena Makin Banyak Turis Tak Tertib
Tak Hanya Jepang, Ini...
Tak Hanya Jepang, Ini 5 Surga Sakura Asia Paling Menawan
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Rekomendasi
Belanda Tersingkir,...
Belanda Tersingkir, Rekor Bersejarah Berakhir
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Kemnaker: Korban PHK...
Kemnaker: Korban PHK Tembus 43.000 Orang, Sektor Manufaktur Terbanyak
Berita Terkini
Sidang Cerai Wardatina...
Sidang Cerai Wardatina Mawa Masuk Tahap Akhir, Ayah Insanul Fahmi Beri Kesaksian
Mengenal Penyakit Lyme,...
Mengenal Penyakit Lyme, Infeksi yang Diidap Bella Hadid hingga Sebabkan Gejala Kronis
Jisoo BLACKPINK Dinobatkan...
Jisoo BLACKPINK Dinobatkan Jadi Artis K-Pop dengan Wajah Tercantik, Aksi Donasinya Ikut Disorot
Betrand Peto Ungkap...
Betrand Peto Ungkap Momen Canggung Ruben Onsu Bertemu Sarwendah Sebelum Berangkat Umrah
Ruben Onsu Siap Daftarkan...
Ruben Onsu Siap Daftarkan Gugatan Hak Asuh Anak Usai Pulang Umrah
Kasus Hanania Group,...
Kasus Hanania Group, Awkarin Tegaskan Kerja Sama Hanya Barter Fasilitas Umrah
Infografis
Waspada! 4 Makanan Ini...
Waspada! 4 Makanan Ini Bisa Picu Kesemutan di Tangan dan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved