Dokter Pastikan Juliana Marins Meninggal Bukan karena Kelaparan
Sabtu, 28 Juni 2025 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
"Luka-luka yang ditimbulkan hipotermia itu adalah luka pada ujung-ujung jari. Jadi lukanya berwarna kehitaman. Ini tidak ditemukan. Berarti bisa kita katakan bahwa tidak ada hipotermia ya," tambahnya.
Baca Juga: Penyebab Juliana Marins Meninggal Akibat Benturan Benda Tumpul
Di sisi lain, hasil autopsi mengungkap bahwa Juliana meninggal dalam waktu sangat singkat setelah mengalami benturan keras. Alit menyebutkan bahwa cedera serius pada organ dalam dan pendarahan hebat menjadi penyebab utama kematian. Dari analisis medis, diperkirakan Juliana mengembuskan napas terakhir sekitar 20 menit setelah terjatuh.
"Bahwa bukti-bukti menunjukkan kematian itu adalah segera terjadi. Mengapa demikian, karena pendarahan yang begitu luas. Kemudian juga patah tulang, dan luka-luka itu multiple," ujarnya.
"Jadi hampir pada seluruh tubuhnya, termasuk juga organ-organ dalam yang ada di dada dan di perut. Segera itu memang relatif ya. Kita perkirakan itu tidak lebih dari 20 menit setelah trauma terjadi," sambungnya.
Adapun luka paling parah pada tubuh Juliana berada di area punggung bagian belakang. Luka tersebut menyebabkan kerusakan serius pada organ vital, terutama di sekitar rongga dada. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa benturan keras di bagian punggung menjadi faktor utama penyebab kematian Juliana.
Baca Juga: 5 Fakta Mengejutkan Kasus Juliana Marins, Turis Brasil yang Jatuh di Gunung Rinjani
"Jadi kalau kita lihat yang paling terparah, itu adalah yang berhubungan dengan pernapasan. Yaitu luka-luka terutama di daerah dada. Terutama adalah dada bagian belakang, punggung ya. Itu yang merusak organ-organ di dalamnya," ungkapnya.
"Kalau kita lihat pola lukanya, karena luka lecet geser, itu sesuai dengan terjatuh. Tersebar di seluruh tubuh, terutama di daerah punggung, kemudian juga di anggota gerak atas, dan bawah. Di bagian kepala ada," lanjutnya.
Baca Juga: Penyebab Juliana Marins Meninggal Akibat Benturan Benda Tumpul
Di sisi lain, hasil autopsi mengungkap bahwa Juliana meninggal dalam waktu sangat singkat setelah mengalami benturan keras. Alit menyebutkan bahwa cedera serius pada organ dalam dan pendarahan hebat menjadi penyebab utama kematian. Dari analisis medis, diperkirakan Juliana mengembuskan napas terakhir sekitar 20 menit setelah terjatuh.
"Bahwa bukti-bukti menunjukkan kematian itu adalah segera terjadi. Mengapa demikian, karena pendarahan yang begitu luas. Kemudian juga patah tulang, dan luka-luka itu multiple," ujarnya.
"Jadi hampir pada seluruh tubuhnya, termasuk juga organ-organ dalam yang ada di dada dan di perut. Segera itu memang relatif ya. Kita perkirakan itu tidak lebih dari 20 menit setelah trauma terjadi," sambungnya.
Adapun luka paling parah pada tubuh Juliana berada di area punggung bagian belakang. Luka tersebut menyebabkan kerusakan serius pada organ vital, terutama di sekitar rongga dada. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa benturan keras di bagian punggung menjadi faktor utama penyebab kematian Juliana.
Baca Juga: 5 Fakta Mengejutkan Kasus Juliana Marins, Turis Brasil yang Jatuh di Gunung Rinjani
"Jadi kalau kita lihat yang paling terparah, itu adalah yang berhubungan dengan pernapasan. Yaitu luka-luka terutama di daerah dada. Terutama adalah dada bagian belakang, punggung ya. Itu yang merusak organ-organ di dalamnya," ungkapnya.
"Kalau kita lihat pola lukanya, karena luka lecet geser, itu sesuai dengan terjatuh. Tersebar di seluruh tubuh, terutama di daerah punggung, kemudian juga di anggota gerak atas, dan bawah. Di bagian kepala ada," lanjutnya.
Lihat Juga :