Caviar dari Dapur Zero-Waste: Inovasi Kuliner Unik di Tepi Pantai Bali
Selasa, 22 Juli 2025 - 09:16 WIB
loading...
Bali tak pernah kehabisan cara bikin wisatawan jatuh cinta. Foto/Istimewa.
A
A
A
BALI - Bali tak pernah kehabisan cara bikin wisatawan jatuh cinta. Apabila Anda adalah foodie sejati dan cari sesuatu yang beda dari sekadar pemandangan pantai dan cocktail tropis, Seasalt di Alila Seminyak menjadi destinasi kuliner yang wajib masuk itinerary.
Di sini, kita akan menemukan caviar salt buatan sendiri. Telur ikan hasil tangkapan lokal yang diawetkan dengan teknik halus, diolah jadi bumbu caviar-style yang asin, beraroma laut, dan unapologetically umami. Tapi bukan cuma soal rasa, ini adalah bentuk nyata dari komitmen Alila terhadap zero-waste kitchen. Limbah dapur bisa jadi bintang di atas piring.
Baca juga: 5 Rekomendasi Restoran Teppanyaki di Jakarta yang Asyik untuk Makan Keluarga
“Kami percaya setiap bagian dari bahan bisa punya nilai jika diperlakukan dengan cara yang tepat,” kata Chef Hazwan, Executive Sous Chef Seasalt.
Di dapur resto ini, bagian-bagian yang biasanya dibuang seperti kulit semangka, buah tropis cacat bentuk, bahkan sayuran ‘sisa pasar’ diolah ulang jadi acar segar, selai, atau marmalade. Hasilnya? Pengalaman bersantap yang bukan cuma lezat, tapi juga punya cerita di balik setiap gigitan.
Baca juga: Resmi Dibuka Brawijaya Lounge & Resto, Sajikan Kuliner Nusantara Nan Elegan
Menu di Seasalt bukan hanya mengandalkan produk lokal, tapi juga inspirasi global. Sejak 2023, dapurnya banyak mengadopsi gaya Nikkei yakni perpaduan kuliner Jepang dan Peru yang eksotis dan penuh kejutan rasa. Bayangkan sashimi dengan saus aji amarillo, atau seafood segar yang dimarinasi ala ceviche, tapi disajikan dengan gaya plating modern yang Instagrammable.
Inovasi ini dipimpin langsung oleh Chef Hazwan yang punya visi menghadirkan rasa global, tapi dengan bahan lokal dan teknik berkelanjutan. Semua menu diubah setiap tiga bulan, mengikuti musim, panen, dan hasil laut yang sedang melimpah.
Salah satu elemen yang paling kuat dari pengalaman bersantap di Seasalt adalah penggunaan garam laut kusamba, garam tradisional Bali Timur yang dipanen dengan tangan. Kristalnya lembut, mineralnya kompleks, dan disajikan secara seremonial setiap malam saat pembukaan makan malam. Mereka menyebutnya “Seasalt Ritual yakni ritual menyambut tamu dengan roti hangat dan sejumput rasa laut.
“Kami ingin tamu tak hanya makan, tapi merasakan hubungan langsung dengan daratan dan lautan Bali,” ujar Hazwan.
Beberapa menu yang wajib dicoba adalah crusted kusamba salt barramundi, 72-hour wagyu short rib infinity breakfast dan moonlight BBQ.
Bahan-bahan di Seasalt bersumber dari produsen lokal yang diajak kerja sama jangka panjang mulai dari nelayan di Kedonganan, petani garam Kusamba, hingga pembuat cokelat, keju, dan kopi lokal. Rantai pasoknya dibuat sebersih dan setransparan mungkin, bukan cuma untuk kualitas rasa, tapi juga untuk membangun hubungan berkelanjutan.
Di sini, kita akan menemukan caviar salt buatan sendiri. Telur ikan hasil tangkapan lokal yang diawetkan dengan teknik halus, diolah jadi bumbu caviar-style yang asin, beraroma laut, dan unapologetically umami. Tapi bukan cuma soal rasa, ini adalah bentuk nyata dari komitmen Alila terhadap zero-waste kitchen. Limbah dapur bisa jadi bintang di atas piring.
Baca juga: 5 Rekomendasi Restoran Teppanyaki di Jakarta yang Asyik untuk Makan Keluarga
“Kami percaya setiap bagian dari bahan bisa punya nilai jika diperlakukan dengan cara yang tepat,” kata Chef Hazwan, Executive Sous Chef Seasalt.
Di dapur resto ini, bagian-bagian yang biasanya dibuang seperti kulit semangka, buah tropis cacat bentuk, bahkan sayuran ‘sisa pasar’ diolah ulang jadi acar segar, selai, atau marmalade. Hasilnya? Pengalaman bersantap yang bukan cuma lezat, tapi juga punya cerita di balik setiap gigitan.
Baca juga: Resmi Dibuka Brawijaya Lounge & Resto, Sajikan Kuliner Nusantara Nan Elegan
Menu di Seasalt bukan hanya mengandalkan produk lokal, tapi juga inspirasi global. Sejak 2023, dapurnya banyak mengadopsi gaya Nikkei yakni perpaduan kuliner Jepang dan Peru yang eksotis dan penuh kejutan rasa. Bayangkan sashimi dengan saus aji amarillo, atau seafood segar yang dimarinasi ala ceviche, tapi disajikan dengan gaya plating modern yang Instagrammable.
Inovasi ini dipimpin langsung oleh Chef Hazwan yang punya visi menghadirkan rasa global, tapi dengan bahan lokal dan teknik berkelanjutan. Semua menu diubah setiap tiga bulan, mengikuti musim, panen, dan hasil laut yang sedang melimpah.
Salah satu elemen yang paling kuat dari pengalaman bersantap di Seasalt adalah penggunaan garam laut kusamba, garam tradisional Bali Timur yang dipanen dengan tangan. Kristalnya lembut, mineralnya kompleks, dan disajikan secara seremonial setiap malam saat pembukaan makan malam. Mereka menyebutnya “Seasalt Ritual yakni ritual menyambut tamu dengan roti hangat dan sejumput rasa laut.
“Kami ingin tamu tak hanya makan, tapi merasakan hubungan langsung dengan daratan dan lautan Bali,” ujar Hazwan.
Beberapa menu yang wajib dicoba adalah crusted kusamba salt barramundi, 72-hour wagyu short rib infinity breakfast dan moonlight BBQ.
Bahan-bahan di Seasalt bersumber dari produsen lokal yang diajak kerja sama jangka panjang mulai dari nelayan di Kedonganan, petani garam Kusamba, hingga pembuat cokelat, keju, dan kopi lokal. Rantai pasoknya dibuat sebersih dan setransparan mungkin, bukan cuma untuk kualitas rasa, tapi juga untuk membangun hubungan berkelanjutan.
(nnz)
Lihat Juga :