Kisah di Balik Film Believe, para Artis Jalani Latihan bak Tentara
Rabu, 23 Juli 2025 - 07:40 WIB
loading...
Salah satu tuntutan seorang aktor ketika berada di depan kamera adalah memperlihatkan kemampuan yang memukau sesuai dengan karakter yang dibangun. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Salah satu tuntutan seorang aktor ketika berada di depan kamera adalah memperlihatkan kemampuan yang memukau sesuai dengan karakter yang dibangun.
Namun, tantangan terasa besar ketika sejumlah artis membintangi filmBelieve- Takdir, Mimpi, Keberanian. Pasalnya, untukmelakoniperan sebagai prajurit dalamperang, parapemeran tidak hanya menghafal dialog, juga harus mendalami bagaimana pergerakan seorang prajurit dalam kontak senjata, bagaimana membongkar senjata, hingga menghafal di mana saja titik-titik ledakan yang harus mereka hindari.
Untuk menguasai semua ini, para pemeran prajurit dalam film ini diharuskanmenjalani bootcamp intensif selama hampir seminggu penuh, layaknya pelatihan militer sungguhan. Dalam bootcamp, setiap aktor diajarkan:
Teknik baris-berbaris dan disiplin komando, cara memegang, membongkar, dan memasang senjata api, latihan menembak, termasuk cara bergerak saat mengeksekusi misi.
Swlianbiru, ada pelatihan medan berat, dengan rintangan fisik seperti merayap di lumpur, membawa beban berat, dan bergerak di medan berbatu.
“Sayagakakan lupagimanakagoknya kita waktu baru datang kebootcamp.Bahkan rasa saat pertama lihat gapuranyaajamasih kebayang-bayang.Gak nyangka aja ternyata latihannya benar-benar bareng prajurit, jadi semua yang kita jalani itu sudah seperti prajurit yang sedang ditempa.Capek banget,”kata Hardi Fadlillah, yang berperan sebagai Baton Damar.
Hardi yang biasanya dikenal melalui film drama komedi mengaku melelahkan, tetapi proses pelatihan ini justru menjadi momen yang tidak terlupakan, apalagi perannya berbeda dengan peran yang biasaiaambil. Ia juga mengakui pelatihan tersebut berguna, karena ternyata proses pengambilan gambar yang sering kali dilakukan di area hutan, memang menuntut kondisi fisik yang prima.
“Ada adegan dimana kita mau menyerang, dan harus merangkak di tanah yang dipenuhi belukar. Sebenarnya udah dibersihkan areanya, tapitetep aja, ada rantinglah yang nusuk,truskerikil menggesek badan.Untung yaudahlatihan,” ungkapnya.
Produser film Believe, Celerina Judisari mengatakan timproduksi memang meminta konsultasi dengan pihak TNI dalam proses persiapan dan pengambilan film.
“Kita singkronisasi dengan mereka, karena yang benar-benar tahu sepertiapamedan perang itu kan cuma mereka, dan kami ingin film ini bisa benar-benar terasa realistis adegan perang dan laganya.Jadi dari awal, kitarequestkonsultasi dengan TNI, dan mereka menyambut dengan baik,” tuturnya.
TNI kemudian mendampingitimproduksi untuk memberikan berbagai masukanmulai darigestur dandialog, sikap tubuh, refleks,dan bahasa militer yang otentik.Semua demi pengadeganan yang otentik oleh para aktor.
Hasilnya terlihat jelas di layar: pemain tampil bukan sekadar “bermain jadiprajurit”, tapi benar-benar menyatu dengan perannya.Itulah dedikasi yang membuat Believe berbeda dari film-film aksi biasa.Ini pun diakui oleh para penontonnya yang beruntung bisa menyaksikan film Believe dalam penayangan khusus di Jakarta.
“Aktor-aktornya tuh keliatan realistis banget, kayak memang beneran prajurit. Aktingnya juga bagus-bagus, jadi meyakinkan,” ujar Frea, salah satu penonton awal film Believe.
Film Believe adalah debut perdana rumah produksi Bahagia Tanpa Drama, diproduseri oleh Celerina Judisari, Sutradara : Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana. Dibintangi oleh : Ajil Ditto, Adinda Thomas, Wafda Saifan, Maudy Koesnaedi dan Marthino Lio, film ini akan tayang di bioskop Indonesia, mulai 24 Juli 2025.
Namun, tantangan terasa besar ketika sejumlah artis membintangi filmBelieve- Takdir, Mimpi, Keberanian. Pasalnya, untukmelakoniperan sebagai prajurit dalamperang, parapemeran tidak hanya menghafal dialog, juga harus mendalami bagaimana pergerakan seorang prajurit dalam kontak senjata, bagaimana membongkar senjata, hingga menghafal di mana saja titik-titik ledakan yang harus mereka hindari.
Untuk menguasai semua ini, para pemeran prajurit dalam film ini diharuskanmenjalani bootcamp intensif selama hampir seminggu penuh, layaknya pelatihan militer sungguhan. Dalam bootcamp, setiap aktor diajarkan:
Teknik baris-berbaris dan disiplin komando, cara memegang, membongkar, dan memasang senjata api, latihan menembak, termasuk cara bergerak saat mengeksekusi misi.
Swlianbiru, ada pelatihan medan berat, dengan rintangan fisik seperti merayap di lumpur, membawa beban berat, dan bergerak di medan berbatu.
“Sayagakakan lupagimanakagoknya kita waktu baru datang kebootcamp.Bahkan rasa saat pertama lihat gapuranyaajamasih kebayang-bayang.Gak nyangka aja ternyata latihannya benar-benar bareng prajurit, jadi semua yang kita jalani itu sudah seperti prajurit yang sedang ditempa.Capek banget,”kata Hardi Fadlillah, yang berperan sebagai Baton Damar.
Hardi yang biasanya dikenal melalui film drama komedi mengaku melelahkan, tetapi proses pelatihan ini justru menjadi momen yang tidak terlupakan, apalagi perannya berbeda dengan peran yang biasaiaambil. Ia juga mengakui pelatihan tersebut berguna, karena ternyata proses pengambilan gambar yang sering kali dilakukan di area hutan, memang menuntut kondisi fisik yang prima.
“Ada adegan dimana kita mau menyerang, dan harus merangkak di tanah yang dipenuhi belukar. Sebenarnya udah dibersihkan areanya, tapitetep aja, ada rantinglah yang nusuk,truskerikil menggesek badan.Untung yaudahlatihan,” ungkapnya.
Produser film Believe, Celerina Judisari mengatakan timproduksi memang meminta konsultasi dengan pihak TNI dalam proses persiapan dan pengambilan film.
“Kita singkronisasi dengan mereka, karena yang benar-benar tahu sepertiapamedan perang itu kan cuma mereka, dan kami ingin film ini bisa benar-benar terasa realistis adegan perang dan laganya.Jadi dari awal, kitarequestkonsultasi dengan TNI, dan mereka menyambut dengan baik,” tuturnya.
TNI kemudian mendampingitimproduksi untuk memberikan berbagai masukanmulai darigestur dandialog, sikap tubuh, refleks,dan bahasa militer yang otentik.Semua demi pengadeganan yang otentik oleh para aktor.
Hasilnya terlihat jelas di layar: pemain tampil bukan sekadar “bermain jadiprajurit”, tapi benar-benar menyatu dengan perannya.Itulah dedikasi yang membuat Believe berbeda dari film-film aksi biasa.Ini pun diakui oleh para penontonnya yang beruntung bisa menyaksikan film Believe dalam penayangan khusus di Jakarta.
“Aktor-aktornya tuh keliatan realistis banget, kayak memang beneran prajurit. Aktingnya juga bagus-bagus, jadi meyakinkan,” ujar Frea, salah satu penonton awal film Believe.
Film Believe adalah debut perdana rumah produksi Bahagia Tanpa Drama, diproduseri oleh Celerina Judisari, Sutradara : Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana. Dibintangi oleh : Ajil Ditto, Adinda Thomas, Wafda Saifan, Maudy Koesnaedi dan Marthino Lio, film ini akan tayang di bioskop Indonesia, mulai 24 Juli 2025.
(dra)
Lihat Juga :