Berburu Senja dan Primata Mungil Menggemaskan di Bukit Peramun Belitung
Sabtu, 26 Juli 2025 - 18:00 WIB
loading...
A
A
A
Spot terbaik untuk menikmati senja adalah di gardu pandang yang sudah disiapkan oleh pengelola. Tempat ini memang dirancang untuk memberikan sudut pandang luas tanpa mengganggu keasrian alam sekitarnya. Pada cuaca cerah, siluet bebatuan granit yang tersebar di kejauhan akan terlihat makin dramatis dibalut warna langit oranye keemasan yang begitu memesona.
Namun, wisatawan harus melakukan tracking terlebih dahulu bila ingin menikmati senja dari spot ini. Hanya membutuhkan waktu sekira 30 menit untuk sampai di puncak Bukit Peramun. Oleh karena itu, waktu terbaik untuk berburu senja adalah sekitar pukul 16.30–17.30 WIB. Gunakan alas kaki yang nyaman karena medan cukup berbatu dan licin saat lembap.
Tersedia pula paket dinner di puncak Bukit Peramun bagi wisatawan yang ingin merasakan romantisme bersantap bersama orang tercinta. Paket ini bisa dipesan langsung melalui situs resmi Bukit Peramun, dan biayanya disesuaikan dengan menu yang dipesan.
Selain keindahan lanskapnya, Bukit Peramun juga dikenal sebagai habitat alami Tarsius bancanus saltator, primata kecil bermata besar yang aktif di malam hari. Melihat tarsius di alam liar bukan hal yang mudah, tapi di Bukit Peramun, Anda bisa mengikuti night tour yang dipandu oleh ranger lokal untuk mencoba menyaksikan langsung makhluk mungil ini.
Dengan bantuan senter dan tetap menjaga ketenangan, pemandu akan mengarahkan ke area yang sering menjadi tempat munculnya tarsius. Pengalaman ini bukan sekadar wisata, tapi juga edukasi—pengunjung diajak mengenal lebih dekat perilaku dan pentingnya menjaga kelestarian hewan endemik ini.
Namun ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, salah satunya tetap hormati alam dengan tidak menyalakan flash saat melihat tarsius. Wisatawan bisa memesan paket Afternoon Eco Tour seharga Rp625 ribu per orang.
Menariknya lagi, Bukit Peramun dikelola dengan pendekatan teknologi ramah lingkungan. Terdapat “Digital Forest”, di mana pengunjung bisa memindai barcode pada berbagai jenis tumbuhan untuk mengetahui informasi lengkap tentang flora tersebut melalui smartphone.
Namun, wisatawan harus melakukan tracking terlebih dahulu bila ingin menikmati senja dari spot ini. Hanya membutuhkan waktu sekira 30 menit untuk sampai di puncak Bukit Peramun. Oleh karena itu, waktu terbaik untuk berburu senja adalah sekitar pukul 16.30–17.30 WIB. Gunakan alas kaki yang nyaman karena medan cukup berbatu dan licin saat lembap.
Tersedia pula paket dinner di puncak Bukit Peramun bagi wisatawan yang ingin merasakan romantisme bersantap bersama orang tercinta. Paket ini bisa dipesan langsung melalui situs resmi Bukit Peramun, dan biayanya disesuaikan dengan menu yang dipesan.
Berjumpa dengan tarsius, primata mini misterius
Selain keindahan lanskapnya, Bukit Peramun juga dikenal sebagai habitat alami Tarsius bancanus saltator, primata kecil bermata besar yang aktif di malam hari. Melihat tarsius di alam liar bukan hal yang mudah, tapi di Bukit Peramun, Anda bisa mengikuti night tour yang dipandu oleh ranger lokal untuk mencoba menyaksikan langsung makhluk mungil ini.
Dengan bantuan senter dan tetap menjaga ketenangan, pemandu akan mengarahkan ke area yang sering menjadi tempat munculnya tarsius. Pengalaman ini bukan sekadar wisata, tapi juga edukasi—pengunjung diajak mengenal lebih dekat perilaku dan pentingnya menjaga kelestarian hewan endemik ini.
Namun ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, salah satunya tetap hormati alam dengan tidak menyalakan flash saat melihat tarsius. Wisatawan bisa memesan paket Afternoon Eco Tour seharga Rp625 ribu per orang.
Digital forest dan wisata edukasi
Menariknya lagi, Bukit Peramun dikelola dengan pendekatan teknologi ramah lingkungan. Terdapat “Digital Forest”, di mana pengunjung bisa memindai barcode pada berbagai jenis tumbuhan untuk mengetahui informasi lengkap tentang flora tersebut melalui smartphone.
(nnz)
Lihat Juga :