21 Tahun JF3 Menginspirasi, PINTU Incubator Buka Akses Global untuk Desainer Lokal
Senin, 04 Agustus 2025 - 09:28 WIB
loading...
JF3 2025 mengusung tema Recrafted: A New Vision sukses digelar dan memberikan dampak nyata bagi para pelaku industri fesyen, khususnya desainer lokal. Foto/Tuty Ocktavianty.
A
A
A
JAKARTA - Konsistensi Jakarta Fashion & Food Festival (JF3) selama 21 tahun sejak 2004 bukan hanya menghadirkan kemeriahan dunia mode , tetapi menjadi wadah pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. JF3 2025 yang mengusung tema “Recrafted: A New Vision” sukses digelar dan memberikan dampak nyata bagi para pelaku industri fesyen, khususnya desainer lokal.
Pencapaian JF3 yang telah melampaui dua dekade layak mendapat apresiasi. Tak banyak gelaran fesyen di Tanah Air yang mampu diselenggarakan secara konsisten setiap tahun dan bertahan hingga selama ini.
Baca juga: Soerabaia Fashion Trend 2026 Hadirkan Motif Laut hingga Kain Sarung Fashionable
Di balik keberlanjutan itu, ada kerja keras, semangat kolaborasi, dan mimpi besar untuk membawa karya desainer Indonesia menembus panggung dunia. Semangat inilah yang terus menggerakkan JF3 di setiap penyelenggaraannya.
“Tahun ini menandakan penyelenggaraan JF3 ke-21 tahun, yang sekaligus pembuka dekade baru. Dekade ketiga perjalanan JF3 sebagai bagian industri fesyen Indonesia,” ucap Soegianto Nagaria, Chairman JF3 di momen penutupan acara JF3 2025 di Summarecon Mall Serpong, Tangerang, Sabtu (2/8/2025).
Baca juga: Inspirasi Usia Muda: Kisah THENBLANK, dari Ruang Tamu Mungil Meroket Jadi Brand Fesyen Urban Papan Atas dengan Shopee
JF3 2025 digelar di dua lokasi, yakni 24–27 Juli di Summarecon Mall Kelapa Gading, dan 30 Juli–2 Agustus di Summarecon Mall Serpong. Kehadiran JF3, bagi Soegianto, sebagai ruang kolaboratif yang mengedepankan inovasi dan perubahan.
“Recrafted: A New Vision bukan sekadar tema. Ini sebuah gerakan. Waktunya untuk kita bergerak lebih jauh dengan derap langkah yang baru. JF3 mendorong para desainer untuk menembus batas, berinovasi dan bertransformasi tanpa kehilangan akar,” ujarnya.
Sementara itu, Thresia Mareta selaku penasihat JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia mengatakan bahwa fesyen bukan sekadar benda. Fesyen mengandung arti yang sangat luas, mencakup bahasa, warisan, seni, norma, etika, dan ilmu.
Baca juga: Majelis Nasional KAHMI Apresiasi Penyelenggaraan AIFA 2025
“Esensinya terletak pada keterampilan tangan. Namun agar tradisi bisa terpelihara, ia harus terus berkembang. JF3 hadir sebagai ruang kolaboratif yang mengedepankan inovasi dan perubahan, sebuah platform di mana semua pihak bisa bertumbuh bersama dan saling memperkuat,” katanya.
Soal kolaborasi, desainer ternama Susan Budiardjo sangat mengapreasi atas upaya yang dilakukan JF3 dalam memberikan ruang untuk desainer lokal terus berkembang.
“Karena saya di pendidikan, JF3 selalu memberikan peluang. Kita mendapatkan fasilitas yang baik dan JF3 menghargai sekolah-sekolah mode untuk diangkat, terutama soal dana. Saya mengharapkan, besok-besok bisa lebih banyak lagi sekolah yang mendapatkan kesempatan tampil dan menampilkan karyanya,” kata Susan Budihardjo, pendiri sekolah mode ternama di Indonesia kepada SindoNews.com usai perhelatan fashion show.
Bagi Susan, upaya yang dilakukan JF3 sangat berdampak kepada siswa sekolah mode untuk terus berkarya. “Ini jadi rangsangan buat anak-anak ya. Begitu bangganya mereka karena karyanya ditonton oleh banyak orang. Itu akan menjadi kenangan yang tidak bisa dilupakan,” ujarnya.
Hal ini dirasakan juga oleh para siswa Susan Budihardjo Susan Budihardjo Fashion Forward Institute, di antaranya Fania Najelyna Tanudjiwa dan Amih.
“Bisa show di JF3, aku senang banget. Semuanya juga wah dan JF3 berkembang banget. Tahun lalu aku ikut dan nggak ekspektasi stagenya bagus, Insyaallah bisa show di sini lagi. Semoga makin banyak karya siswa ditampilkan di sini,” ucap Fania Najelyna Tanudjiwa kepada SindoNews.com.
Sependapat dengan Fania, Amih juga bangga bisa terlibat di ajang JF3 2025.
“Ini kali kedua aku ikut fashion show di JF3. Makin tahun, makin luar biasa lagi. Keren banget, di luar ekspektasi. Harapannya tahun depan makin berkembang dan melahirkan desainer-desainer muda lagi,” ujarnya.
Gelaran JF3 2025 memberikan dampak yang baik bagi desainer muda di Indonesia untuk mengasah kreativitas dan mengembangkan jejaring. Selama dua pekan penyelenggaraan JF3, desainer Indonesia dan mancanegara bisa menampilkan karya terbaik mereka.
“Kita bisa melihat lahirnya karya-karya kreatif dari para desainer Indonesia maupun dari beberapa negara sahabat. Hal ini memunculkan semangat refleksi akan sebuah mimpi membangun masa depan industri mode Indonesia dengan keberanian berinovasi, kesadaran akan pentingnya budaya, dan kesiapan untuk bersaing di panggung dunia,” ujar Soegianto Nagaria, Chairman JF3.
Soegianto mengatakan, tahun ini JF3 mengambil langkah strategis memperkuat kolaborasi global melalui PINTU Incubator. Ini adalah program inkubasi yang dinisiasi JF3, LAKON Indonesia dan Kedutaan Besar Prancis melalui IFI.
“Kami memperluas kerja sama jangka panjang, membuka ruang perputaran pengetahuan dan pengembangan talenta muda yang berorientasi internasional. Di saat yang sama, kami membuka kerja sama dengan pemerintah Korea Selatan dan Busan Fashion Week,” katanya.
Soegianto kembali menambahkan, “Kami mengirimkan perwakilan desainer Indonesia. Langkah ini menjadi wujud nyata misi kami, melakukan perputaran budaya dan membuka jalan bagi desainer muda Indonesia agar bisa menembus pasar global.”
Memasuki dekade ketiga ini, sambung Soegianto, JF3 fokus pada regenerasi.
“Kami percaya masa depan industri fesyen Indonesia ada di tangan anak-anak muda yang berani bermimpi, bereksperimen, dan melampaui batas. JF3 hadir untuk menyokong langkah mereka, membukakan pintu, dan mendukung mereka menjadi bagian dari ekosistem industri global,” ucapnya.
Sebanyak enam brand lokal mendapatkan binaan oleh Pintu Incubator unjuk koleksi di ajang JF3 Fashion Festival. Mereka adalah Denim It Up, CLV, Dya Sejiwa, Lil Public, Nona Rona, dan Rizkya Batik.
![21 Tahun JF3 Menginspirasi, PINTU Incubator Buka Akses Global untuk Desainer Lokal]()
Mengusung tema ‘Lavanya’, koleksinya terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan Indonesia. Setiap busana dalam koleksi ini membawa bisikan warisan budaya, sulaman yang terperinci layaknya jejak perjalanan hidup, serta motif bunga yang merekah. Bagi Nona Rona, fashion bukan sekadar pakaian, melainkan cara untuk bercerita.
![21 Tahun JF3 Menginspirasi, PINTU Incubator Buka Akses Global untuk Desainer Lokal]()
Denim It Up menghadirkan koleksi bertema “The Revelation” di JF3 2025. Koleksinya menampilkan teknik jahitan split-pattern modern, warna-warna kontras yang berani, serta perpaduan antara kain tradisional seperti songket dan batik yang diinterpretasikan ulang melalui perspektif denim kontemporer.
3. CLV
CLV, label artwear asal Indonesia yang tengah naik daun, tampil perdana di panggung JF3 dengan tema “W.I.P – Work In Progress.” W.I.P adalah potret hidup dari perjuangan kreatif — sebuah penghormatan bagi mereka yang bermimpi, membangun, dan membawa karya mereka ke mana pun mereka pergi. Mulai dari kantong lepas-pasang yang bisa menjadi tas, hingga siluet yang terinspirasi dari ruang kerja dan alat-alat, setiap detail dirancang untuk mendukung para kreator sejati yang selalu bergerak.
![21 Tahun JF3 Menginspirasi, PINTU Incubator Buka Akses Global untuk Desainer Lokal]()
Dya Sejiwa menciptakan koleksi eksklusif bertajuk Merekah. Merekah terinspirasi dari transformasi alam yang paling anggun — mekarnya bunga dan metamorfosis seekor kupu-kupu. Keduanya melambangkan pertumbuhan yang tenang, dari keheningan menuju keindahan, menggambarkan perjalanan Dya Sejiwa yang terus berkembang.
![21 Tahun JF3 Menginspirasi, PINTU Incubator Buka Akses Global untuk Desainer Lokal]()
Lil Public menghadirkan koleksi “Hisashi Series” yang terinspirasi dari novel karya Hisashi, yang mengangkat tema tentang makanan sebagai pemicu kenangan dan emosi. Koleksi ini menampilkan ilustrasi monster unik yang merepresentasikan berbagai makanan ikonik dalam cerita, seperti mackerel, nori-ben, sushi, nabeyaki udon, ten-don, napolitan spaghetti, hingga Christmas cake. Setiap monster tidak hanya mencerminkan bentuk dan warna makanan, tapi juga menggambarkan emosi mendalam tokoh-tokohnya — mulai dari kehangatan keluarga, cinta lama, hingga kerinduan yang tak tersampaikan.
![21 Tahun JF3 Menginspirasi, PINTU Incubator Buka Akses Global untuk Desainer Lokal]()
Rizky Batik mempersembahkan MIMO — koleksi batik modern untuk perempuan aktif, khususnya ibu menyusui. Menggabungkan keindahan batik tulis Solo dengan potongan elegan dan busui friendly, MIMO hadir untuk mendukung peran perempuan tanpa mengorbankan gaya.
Pencapaian JF3 yang telah melampaui dua dekade layak mendapat apresiasi. Tak banyak gelaran fesyen di Tanah Air yang mampu diselenggarakan secara konsisten setiap tahun dan bertahan hingga selama ini.
Baca juga: Soerabaia Fashion Trend 2026 Hadirkan Motif Laut hingga Kain Sarung Fashionable
Di balik keberlanjutan itu, ada kerja keras, semangat kolaborasi, dan mimpi besar untuk membawa karya desainer Indonesia menembus panggung dunia. Semangat inilah yang terus menggerakkan JF3 di setiap penyelenggaraannya.
“Tahun ini menandakan penyelenggaraan JF3 ke-21 tahun, yang sekaligus pembuka dekade baru. Dekade ketiga perjalanan JF3 sebagai bagian industri fesyen Indonesia,” ucap Soegianto Nagaria, Chairman JF3 di momen penutupan acara JF3 2025 di Summarecon Mall Serpong, Tangerang, Sabtu (2/8/2025).
Baca juga: Inspirasi Usia Muda: Kisah THENBLANK, dari Ruang Tamu Mungil Meroket Jadi Brand Fesyen Urban Papan Atas dengan Shopee
JF3 2025 digelar di dua lokasi, yakni 24–27 Juli di Summarecon Mall Kelapa Gading, dan 30 Juli–2 Agustus di Summarecon Mall Serpong. Kehadiran JF3, bagi Soegianto, sebagai ruang kolaboratif yang mengedepankan inovasi dan perubahan.
“Recrafted: A New Vision bukan sekadar tema. Ini sebuah gerakan. Waktunya untuk kita bergerak lebih jauh dengan derap langkah yang baru. JF3 mendorong para desainer untuk menembus batas, berinovasi dan bertransformasi tanpa kehilangan akar,” ujarnya.
Sementara itu, Thresia Mareta selaku penasihat JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia mengatakan bahwa fesyen bukan sekadar benda. Fesyen mengandung arti yang sangat luas, mencakup bahasa, warisan, seni, norma, etika, dan ilmu.
Baca juga: Majelis Nasional KAHMI Apresiasi Penyelenggaraan AIFA 2025
“Esensinya terletak pada keterampilan tangan. Namun agar tradisi bisa terpelihara, ia harus terus berkembang. JF3 hadir sebagai ruang kolaboratif yang mengedepankan inovasi dan perubahan, sebuah platform di mana semua pihak bisa bertumbuh bersama dan saling memperkuat,” katanya.
Soal kolaborasi, desainer ternama Susan Budiardjo sangat mengapreasi atas upaya yang dilakukan JF3 dalam memberikan ruang untuk desainer lokal terus berkembang.
“Karena saya di pendidikan, JF3 selalu memberikan peluang. Kita mendapatkan fasilitas yang baik dan JF3 menghargai sekolah-sekolah mode untuk diangkat, terutama soal dana. Saya mengharapkan, besok-besok bisa lebih banyak lagi sekolah yang mendapatkan kesempatan tampil dan menampilkan karyanya,” kata Susan Budihardjo, pendiri sekolah mode ternama di Indonesia kepada SindoNews.com usai perhelatan fashion show.
Bagi Susan, upaya yang dilakukan JF3 sangat berdampak kepada siswa sekolah mode untuk terus berkarya. “Ini jadi rangsangan buat anak-anak ya. Begitu bangganya mereka karena karyanya ditonton oleh banyak orang. Itu akan menjadi kenangan yang tidak bisa dilupakan,” ujarnya.
Hal ini dirasakan juga oleh para siswa Susan Budihardjo Susan Budihardjo Fashion Forward Institute, di antaranya Fania Najelyna Tanudjiwa dan Amih.
“Bisa show di JF3, aku senang banget. Semuanya juga wah dan JF3 berkembang banget. Tahun lalu aku ikut dan nggak ekspektasi stagenya bagus, Insyaallah bisa show di sini lagi. Semoga makin banyak karya siswa ditampilkan di sini,” ucap Fania Najelyna Tanudjiwa kepada SindoNews.com.
Sependapat dengan Fania, Amih juga bangga bisa terlibat di ajang JF3 2025.
“Ini kali kedua aku ikut fashion show di JF3. Makin tahun, makin luar biasa lagi. Keren banget, di luar ekspektasi. Harapannya tahun depan makin berkembang dan melahirkan desainer-desainer muda lagi,” ujarnya.
PINTU Incubator Buka Peluang Desainer Lokal Go Global
Gelaran JF3 2025 memberikan dampak yang baik bagi desainer muda di Indonesia untuk mengasah kreativitas dan mengembangkan jejaring. Selama dua pekan penyelenggaraan JF3, desainer Indonesia dan mancanegara bisa menampilkan karya terbaik mereka.
“Kita bisa melihat lahirnya karya-karya kreatif dari para desainer Indonesia maupun dari beberapa negara sahabat. Hal ini memunculkan semangat refleksi akan sebuah mimpi membangun masa depan industri mode Indonesia dengan keberanian berinovasi, kesadaran akan pentingnya budaya, dan kesiapan untuk bersaing di panggung dunia,” ujar Soegianto Nagaria, Chairman JF3.
Soegianto mengatakan, tahun ini JF3 mengambil langkah strategis memperkuat kolaborasi global melalui PINTU Incubator. Ini adalah program inkubasi yang dinisiasi JF3, LAKON Indonesia dan Kedutaan Besar Prancis melalui IFI.
“Kami memperluas kerja sama jangka panjang, membuka ruang perputaran pengetahuan dan pengembangan talenta muda yang berorientasi internasional. Di saat yang sama, kami membuka kerja sama dengan pemerintah Korea Selatan dan Busan Fashion Week,” katanya.
Soegianto kembali menambahkan, “Kami mengirimkan perwakilan desainer Indonesia. Langkah ini menjadi wujud nyata misi kami, melakukan perputaran budaya dan membuka jalan bagi desainer muda Indonesia agar bisa menembus pasar global.”
Memasuki dekade ketiga ini, sambung Soegianto, JF3 fokus pada regenerasi.
“Kami percaya masa depan industri fesyen Indonesia ada di tangan anak-anak muda yang berani bermimpi, bereksperimen, dan melampaui batas. JF3 hadir untuk menyokong langkah mereka, membukakan pintu, dan mendukung mereka menjadi bagian dari ekosistem industri global,” ucapnya.
Sebanyak enam brand lokal mendapatkan binaan oleh Pintu Incubator unjuk koleksi di ajang JF3 Fashion Festival. Mereka adalah Denim It Up, CLV, Dya Sejiwa, Lil Public, Nona Rona, dan Rizkya Batik.
1. Nona Rona

Mengusung tema ‘Lavanya’, koleksinya terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan Indonesia. Setiap busana dalam koleksi ini membawa bisikan warisan budaya, sulaman yang terperinci layaknya jejak perjalanan hidup, serta motif bunga yang merekah. Bagi Nona Rona, fashion bukan sekadar pakaian, melainkan cara untuk bercerita.
2. Denim It Up

Denim It Up menghadirkan koleksi bertema “The Revelation” di JF3 2025. Koleksinya menampilkan teknik jahitan split-pattern modern, warna-warna kontras yang berani, serta perpaduan antara kain tradisional seperti songket dan batik yang diinterpretasikan ulang melalui perspektif denim kontemporer.
3. CLV
CLV, label artwear asal Indonesia yang tengah naik daun, tampil perdana di panggung JF3 dengan tema “W.I.P – Work In Progress.” W.I.P adalah potret hidup dari perjuangan kreatif — sebuah penghormatan bagi mereka yang bermimpi, membangun, dan membawa karya mereka ke mana pun mereka pergi. Mulai dari kantong lepas-pasang yang bisa menjadi tas, hingga siluet yang terinspirasi dari ruang kerja dan alat-alat, setiap detail dirancang untuk mendukung para kreator sejati yang selalu bergerak.4. Dya Sejiwa

Dya Sejiwa menciptakan koleksi eksklusif bertajuk Merekah. Merekah terinspirasi dari transformasi alam yang paling anggun — mekarnya bunga dan metamorfosis seekor kupu-kupu. Keduanya melambangkan pertumbuhan yang tenang, dari keheningan menuju keindahan, menggambarkan perjalanan Dya Sejiwa yang terus berkembang.
5. Lil Public

Lil Public menghadirkan koleksi “Hisashi Series” yang terinspirasi dari novel karya Hisashi, yang mengangkat tema tentang makanan sebagai pemicu kenangan dan emosi. Koleksi ini menampilkan ilustrasi monster unik yang merepresentasikan berbagai makanan ikonik dalam cerita, seperti mackerel, nori-ben, sushi, nabeyaki udon, ten-don, napolitan spaghetti, hingga Christmas cake. Setiap monster tidak hanya mencerminkan bentuk dan warna makanan, tapi juga menggambarkan emosi mendalam tokoh-tokohnya — mulai dari kehangatan keluarga, cinta lama, hingga kerinduan yang tak tersampaikan.
6. Rizkya Batik

Rizky Batik mempersembahkan MIMO — koleksi batik modern untuk perempuan aktif, khususnya ibu menyusui. Menggabungkan keindahan batik tulis Solo dengan potongan elegan dan busui friendly, MIMO hadir untuk mendukung peran perempuan tanpa mengorbankan gaya.
(nnz)
Lihat Juga :