Kasus Chikungunya di Singapura Melonjak Dua Kali Lipat, Pengawasan Diperketat
Senin, 11 Agustus 2025 - 10:20 WIB
loading...
Singapura tengah menghadapi lonjakan signifikan kasus demam chikungunya dalam beberapa bulan. Penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes ini memicu kekhawatiran. Foto/AFP
A
A
A
SINGAPURA - Singapura tengah menghadapi lonjakan signifikan kasus demam chikungunya dalam beberapa bulan terakhir. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes ini memicu kekhawatiran karena jumlah infeksinya tercatat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan data Badan Penyakit Menular (CDA) yang dirilis pada 7 Agustus 2025, terdapat 17 kasus chikungunya sejak awal tahun hingga 2 Agustus. Angka ini meningkat tajam dibandingkan hanya delapan kasus pada periode yang sama di 2024. Sepanjang tahun lalu, total kasus yang dilaporkan mencapai 15.
Dilansir dari The Straits Times, Senin (11/8/2025), CDA menjelaskan, dari total 17 kasus, 13 di antaranya merupakan infeksi impor dari daerah terdampak di luar negeri. Sementara itu, tiga kasus lainnya adalah penularan lokal yang tidak saling berkaitan.
Tren kenaikan kasus dimulai secara perlahan pada Februari dengan dua laporan, lalu meningkat stabil sekitar dua kasus per bulan hingga mencapai sembilan kasus di akhir Mei. Lonjakan signifikan terjadi pada Juni dengan 13 kasus, disusul 16 kasus pada Juli.
Baca Juga: Wabah Chikungunya di China Infeksi 8.000 Orang, Karantina Massal Diberlakukan
Kondisi ini terjadi di tengah wabah chikungunya global yang kembali mencuat pada 2025. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengeluarkan peringatan darurat pada Juli lalu, mengingatkan potensi terulangnya epidemi yang sempat melanda dunia pada 2004–2005 dan menginfeksi hampir setengah juta orang.
Tahun ini, wabah besar kembali muncul di kepulauan Samudra Hindia seperti La Reunion, Mayotte, dan Mauritius, serta menyebar ke wilayah lain termasuk China. Di mana lebih dari 8.000 kasus dilaporkan dalam empat minggu terakhir, menjadi wabah terbesar sejak virus ini pertama kali terdeteksi di negara tersebut pada 2008.
Dengan keberadaan nyamuk Aedes aegypti di Singapura dan tingginya arus masuk pelancong, CDA menegaskan negara ini berisiko tinggi tertular. Otoritas kesehatan akan meninjau kembali kebijakan pencegahan apabila data menunjukkan peningkatan risiko penularan.
CDA mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah maupun tempat kerja guna mencegah perkembangbiakan nyamuk. Bagi warga yang berencana bepergian ke daerah terdampak, disarankan untuk mengambil langkah pencegahan ekstra.
Baca Juga: Gawat! Wabah Chikungunya Serang Desa Bandung Jombang, Puluhan Warga Terinfeksi
Seperti menggunakan obat nyamuk yang efektif, mengenakan pakaian panjang agar gigitan nyamuk dapat diminimalkan, serta memilih tinggal di ruangan yang dilengkapi dengan kasa penutup pada ventilasi dan jendela untuk menghalangi masuknya serangga.
Wisatawan yang mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri sendi parah, atau ruam setelah bepergian disarankan segera mencari pertolongan medis dan memberitahu riwayat perjalanan mereka.
Berdasarkan data Badan Penyakit Menular (CDA) yang dirilis pada 7 Agustus 2025, terdapat 17 kasus chikungunya sejak awal tahun hingga 2 Agustus. Angka ini meningkat tajam dibandingkan hanya delapan kasus pada periode yang sama di 2024. Sepanjang tahun lalu, total kasus yang dilaporkan mencapai 15.
Mayoritas Kasus dari Pelancong Luar Negeri
Dilansir dari The Straits Times, Senin (11/8/2025), CDA menjelaskan, dari total 17 kasus, 13 di antaranya merupakan infeksi impor dari daerah terdampak di luar negeri. Sementara itu, tiga kasus lainnya adalah penularan lokal yang tidak saling berkaitan.
Tren kenaikan kasus dimulai secara perlahan pada Februari dengan dua laporan, lalu meningkat stabil sekitar dua kasus per bulan hingga mencapai sembilan kasus di akhir Mei. Lonjakan signifikan terjadi pada Juni dengan 13 kasus, disusul 16 kasus pada Juli.
Baca Juga: Wabah Chikungunya di China Infeksi 8.000 Orang, Karantina Massal Diberlakukan
Ancaman Global dan Peringatan WHO
Kondisi ini terjadi di tengah wabah chikungunya global yang kembali mencuat pada 2025. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengeluarkan peringatan darurat pada Juli lalu, mengingatkan potensi terulangnya epidemi yang sempat melanda dunia pada 2004–2005 dan menginfeksi hampir setengah juta orang.
Tahun ini, wabah besar kembali muncul di kepulauan Samudra Hindia seperti La Reunion, Mayotte, dan Mauritius, serta menyebar ke wilayah lain termasuk China. Di mana lebih dari 8.000 kasus dilaporkan dalam empat minggu terakhir, menjadi wabah terbesar sejak virus ini pertama kali terdeteksi di negara tersebut pada 2008.
Risiko Penularan di Singapura
Dengan keberadaan nyamuk Aedes aegypti di Singapura dan tingginya arus masuk pelancong, CDA menegaskan negara ini berisiko tinggi tertular. Otoritas kesehatan akan meninjau kembali kebijakan pencegahan apabila data menunjukkan peningkatan risiko penularan.
Imbauan Pencegahan
CDA mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah maupun tempat kerja guna mencegah perkembangbiakan nyamuk. Bagi warga yang berencana bepergian ke daerah terdampak, disarankan untuk mengambil langkah pencegahan ekstra.
Baca Juga: Gawat! Wabah Chikungunya Serang Desa Bandung Jombang, Puluhan Warga Terinfeksi
Seperti menggunakan obat nyamuk yang efektif, mengenakan pakaian panjang agar gigitan nyamuk dapat diminimalkan, serta memilih tinggal di ruangan yang dilengkapi dengan kasa penutup pada ventilasi dan jendela untuk menghalangi masuknya serangga.
Wisatawan yang mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri sendi parah, atau ruam setelah bepergian disarankan segera mencari pertolongan medis dan memberitahu riwayat perjalanan mereka.
(dra)
Lihat Juga :