Film Animasi Merah Putih One For All Tayang di 16 Layar Bioskop
Rabu, 13 Agustus 2025 - 14:20 WIB
loading...
Film animasi Indonesia Merah Putih One For All ternyata hanya mendapatkan jatah tayang di 16 layar bioskop. Sutradara sekaligus produser mengungkap fakta ini. Foto/IMDb
A
A
A
JAKARTA - Film animasi Indonesia Merah Putih One For All ternyata hanya mendapatkan jatah tayang di 16 layar bioskop di seluruh Indonesia. Sutradara sekaligus produser, Endiarto, mengungkap fakta ini sebagai bentuk transparansi kepada publik sekaligus apresiasi kepada pihak yang sudah mendukung.
Menurutnya, keterbatasan jumlah layar bukan karena minimnya minat penonton Merah Putih One For All atau permintaan dari jaringan bioskop. Melainkan keterbatasan kemampuan produksi dalam memenuhi permintaan tersebut.
"Kita cuma 16 layar (tayang di bioskop)," kata Endiarto di kawasan Rasuna Said, Jakarta pada Selasa, 12 Agustus 2025.
Endiarto menjelaskan, sejumlah jaringan bioskop independen seperti CGV, Cineplex, Cinepolis, hingga Flix sebenarnya memberikan penawaran untuk memutar film ini di lebih banyak layar. Namun, pihaknya harus menolak karena keterbatasan sumber daya dan logistik yang dimiliki.
Baca Juga: Sutradara Film Animasi Merah Putih One For All Pastikan Tidak Terima Dana Produksi dari Pemerintah
![Film Animasi Merah Putih One For All Tayang di 16 Layar Bioskop]()
Foto/IMDb
Ia menegaskan bahwa meski penawaran tersebut sangat menggiurkan, realitas kemampuan tim produksinya memaksa mereka untuk membatasi penayangan. Langkah ini diambil agar distribusi film tetap terkelola dengan baik dan tidak mengorbankan kualitas pengalaman penonton.
"Padahal permintaan banyak. CGV, Cineplex, Cinepolis, Flix itu independennya minta banyak. Cuma kami kan nggak mampu," jelasnya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang besar kepada jaringan bioskop XXI yang telah memberikan kesempatan bagi Merah Putih One For All untuk tayang di layar mereka.
Endiarto menduga, keputusan XXI untuk memutar film ini meskipun dalam jumlah terbatas bukan semata-mata alasan bisnis. Tetapi juga bentuk dukungan terhadap karya anak bangsa, apalagi film ini dirilis menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca Juga: Disebut Habiskan Rp6,7 Miliar, Sutradara Film Animasi Merah Putih One For All Angkat Bicara
Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa ada kepedulian nyata dari industri hiburan untuk ikut memeriahkan momentum nasional melalui karya seni.
"Kami sangat mengapresiasi pihak XXI mau memberi kesempatan Merah Putih. Kemungkinan pertimbangan mereka juga mereka seperti kami kali," ujarnya.
"Melihat momen ini, mereka ikut berpartisipasi, berkontribusi secara aktif mewarnai kemeriahan ini. Dengan cara apa? ya, XXI domainnya film ya, dia memberikan layarnya walaupun terbatas," lanjutnya.
Pada kesempatan yang sama, Endiarto mengungkapkan bahwa seluruh proses produksi film ini dilakukan secara mandiri tanpa menerima dana sepeser pun dari pihak pemerintah maupun sponsor besar. Ia menjelaskan, seluruh pembiayaan berasal dari urunan tim produksi, termasuk tenaga, pikiran, dan waktu yang diberikan secara sukarela oleh para animator, asisten, dan kru.
Baca Juga: 5 Fakta Film Animasi Merah Putih One For All, Anggaran Rp6,8 Miliar Banjir Kritik
Sistem gotong royong ini menjadi kekuatan utama di balik terciptanya Merah Putih One For All, meskipun di sisi lain juga menjadi alasan mengapa mereka harus realistis dalam hal distribusi.
"Kalau ada biaya seperti itu, saya sangat bersyukur. Tetapi, kami ini nggak ada biaya satu peser pun tidak ada. Jadi kami ini sifatnya gotong royong, mandiri, urunan," tandasnya.
Film ini mengisahkan petualangan delapan anak dari berbagai latar budaya Indonesia. Mulai dari Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, hingga China.
Cerita dimulai ketika bendera merah putih, simbol persatuan dan kebanggaan bangsa, hilang secara misterius tiga hari sebelum upacara kemerdekaan. Delapan anak tersebut pun bersatu dalam misi heroik untuk menemukan kembali bendera tersebut.
Menurutnya, keterbatasan jumlah layar bukan karena minimnya minat penonton Merah Putih One For All atau permintaan dari jaringan bioskop. Melainkan keterbatasan kemampuan produksi dalam memenuhi permintaan tersebut.
"Kita cuma 16 layar (tayang di bioskop)," kata Endiarto di kawasan Rasuna Said, Jakarta pada Selasa, 12 Agustus 2025.
Endiarto menjelaskan, sejumlah jaringan bioskop independen seperti CGV, Cineplex, Cinepolis, hingga Flix sebenarnya memberikan penawaran untuk memutar film ini di lebih banyak layar. Namun, pihaknya harus menolak karena keterbatasan sumber daya dan logistik yang dimiliki.
Baca Juga: Sutradara Film Animasi Merah Putih One For All Pastikan Tidak Terima Dana Produksi dari Pemerintah

Foto/IMDb
Ia menegaskan bahwa meski penawaran tersebut sangat menggiurkan, realitas kemampuan tim produksinya memaksa mereka untuk membatasi penayangan. Langkah ini diambil agar distribusi film tetap terkelola dengan baik dan tidak mengorbankan kualitas pengalaman penonton.
"Padahal permintaan banyak. CGV, Cineplex, Cinepolis, Flix itu independennya minta banyak. Cuma kami kan nggak mampu," jelasnya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang besar kepada jaringan bioskop XXI yang telah memberikan kesempatan bagi Merah Putih One For All untuk tayang di layar mereka.
Endiarto menduga, keputusan XXI untuk memutar film ini meskipun dalam jumlah terbatas bukan semata-mata alasan bisnis. Tetapi juga bentuk dukungan terhadap karya anak bangsa, apalagi film ini dirilis menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca Juga: Disebut Habiskan Rp6,7 Miliar, Sutradara Film Animasi Merah Putih One For All Angkat Bicara
Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa ada kepedulian nyata dari industri hiburan untuk ikut memeriahkan momentum nasional melalui karya seni.
"Kami sangat mengapresiasi pihak XXI mau memberi kesempatan Merah Putih. Kemungkinan pertimbangan mereka juga mereka seperti kami kali," ujarnya.
"Melihat momen ini, mereka ikut berpartisipasi, berkontribusi secara aktif mewarnai kemeriahan ini. Dengan cara apa? ya, XXI domainnya film ya, dia memberikan layarnya walaupun terbatas," lanjutnya.
Pada kesempatan yang sama, Endiarto mengungkapkan bahwa seluruh proses produksi film ini dilakukan secara mandiri tanpa menerima dana sepeser pun dari pihak pemerintah maupun sponsor besar. Ia menjelaskan, seluruh pembiayaan berasal dari urunan tim produksi, termasuk tenaga, pikiran, dan waktu yang diberikan secara sukarela oleh para animator, asisten, dan kru.
Baca Juga: 5 Fakta Film Animasi Merah Putih One For All, Anggaran Rp6,8 Miliar Banjir Kritik
Sistem gotong royong ini menjadi kekuatan utama di balik terciptanya Merah Putih One For All, meskipun di sisi lain juga menjadi alasan mengapa mereka harus realistis dalam hal distribusi.
"Kalau ada biaya seperti itu, saya sangat bersyukur. Tetapi, kami ini nggak ada biaya satu peser pun tidak ada. Jadi kami ini sifatnya gotong royong, mandiri, urunan," tandasnya.
Sinopsis Merah Putih One For All
Film ini mengisahkan petualangan delapan anak dari berbagai latar budaya Indonesia. Mulai dari Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, hingga China.
Cerita dimulai ketika bendera merah putih, simbol persatuan dan kebanggaan bangsa, hilang secara misterius tiga hari sebelum upacara kemerdekaan. Delapan anak tersebut pun bersatu dalam misi heroik untuk menemukan kembali bendera tersebut.
(dra)
Lihat Juga :