Kesenian hingga Kuliner Jadi Magnet Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Asing Kembali ke Indonesia
Jum'at, 05 September 2025 - 15:00 WIB
loading...
Beberapa wisatawan asing sempat menunda perjalanan wisata ke Indonesia, terutama ke Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Foto/MNC Media
A
A
A
JAKARTA - Beberapa wisatawan asing sempat menunda perjalanan wisata ke Indonesia, terutama ke Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Ini terkait gelombang demonstrasi yang terjadi pada 25–28 Agustus 2025 lalu.
Sebagian turis yang ingin berpelancong ini khawatir mengunjungi Indonesia dan tentu saja hal ini bisa memengaruhi perekonomian, tidak saja negara juga masyarakat.
Edu Lahar Pragowo, pendiri Java Private Tour, perusahaan yang fokus menyediakan tur privat untuk wisatawan mancanegara mengatakan pihaknya berusaha untuk meyakinkan wisatawan untuk kembali ke Indonesia dengan aman.
Salah satu cara yang dilakukan, mempertemukan wisatawan asing dengan komunitas lokal. Dalam satu perjalanan misalnya, turis bisa membeli batik langsung dari pengrajin, menikmati pertunjukan tari dari sanggar seni desa, atau mencicipi kopi dari petani setempat. Langkah ini menjadi magnet wisatawan kembali ke Indonesia, meski Edu tidak memungkiri, jika ada turis yang masih mempertanyakan keamanan di Tanah Air.
“Banyak tamu kami yang menghubungi lewat email dan WhatsApp, bertanya apakah Indonesia aman untuk dikunjungi? Ada yang sampai menunda keberangkatannya,” kata Edu.
Menurut Edu, sikap para wisatawan ini bukan tanpa alasan. Berita internasional yang memperlihatkan kondisi kurang kondusif di beberapa kota di Indonesia.
“Bagi wisatawan asing, keamanan adalah prioritas utama,” ujarnya.
Edu pun menjelaskan, pariwisata bukan hanya soal perjalanan rekreasi, juga sumber devisa penting bagi negara. Selain itu, aktivitas wisata membawa manfaat ekonomi langsung kepada banyak pihak, mulai perajin batik, seniman tari, pemandu wisata lokal, hingga pedagang kuliner tradisional.
“Kalau turis batal datang, yang paling terdampak justru rakyat kecil. Mereka kehilangan penghasilan harian,” ungkap dia.
Namun, Edu mengatakan, secara pribadi mendukung gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat, yang menyerukan reformasi politik dan ekonomi. Menurutnya, tuntutan ini penting untuk menciptakan stabilitas jangka panjang yang akan menguntungkan semua sektor, termasuk pariwisata.
“Kalau ada ketimpangan ekonomi yang tidak diselesaikan, ujung-ujungnya pasti muncul demonstrasi lagi. Kalau demonstrasi berubah jadi kerusuhan, dampaknya bukan hanya ke pemerintah, tapi juga ke rakyat biasa dan dunia usaha,” tuturnya.
Meski begitu, Edu memastikan bahwa kondisi saat ini sudah kembali kondusif. Lokasi wisata, kata dia, aman untuk dikunjungi, dan kerusuhan tidak menyebar ke area destinasi wisata utama.
“Untuk saat ini, situasi sudah stabil. Kami juga terus memantau perkembangan di lapangan. Para tamu bisa merasa tenang untuk melanjutkan rencana perjalanan mereka,” ujar Edu.
Beberapa turis pun, kata dia, sudah mulai kembali mengonfirmasi jadwal perjalanan mereka. “Kami siap memberikan pengalaman terbaik dan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tetap negara yang ramah dan indah untuk dikunjungi,” kata Edu.
Sebagian turis yang ingin berpelancong ini khawatir mengunjungi Indonesia dan tentu saja hal ini bisa memengaruhi perekonomian, tidak saja negara juga masyarakat.
Edu Lahar Pragowo, pendiri Java Private Tour, perusahaan yang fokus menyediakan tur privat untuk wisatawan mancanegara mengatakan pihaknya berusaha untuk meyakinkan wisatawan untuk kembali ke Indonesia dengan aman.
Salah satu cara yang dilakukan, mempertemukan wisatawan asing dengan komunitas lokal. Dalam satu perjalanan misalnya, turis bisa membeli batik langsung dari pengrajin, menikmati pertunjukan tari dari sanggar seni desa, atau mencicipi kopi dari petani setempat. Langkah ini menjadi magnet wisatawan kembali ke Indonesia, meski Edu tidak memungkiri, jika ada turis yang masih mempertanyakan keamanan di Tanah Air.
“Banyak tamu kami yang menghubungi lewat email dan WhatsApp, bertanya apakah Indonesia aman untuk dikunjungi? Ada yang sampai menunda keberangkatannya,” kata Edu.
Menurut Edu, sikap para wisatawan ini bukan tanpa alasan. Berita internasional yang memperlihatkan kondisi kurang kondusif di beberapa kota di Indonesia.
“Bagi wisatawan asing, keamanan adalah prioritas utama,” ujarnya.
Edu pun menjelaskan, pariwisata bukan hanya soal perjalanan rekreasi, juga sumber devisa penting bagi negara. Selain itu, aktivitas wisata membawa manfaat ekonomi langsung kepada banyak pihak, mulai perajin batik, seniman tari, pemandu wisata lokal, hingga pedagang kuliner tradisional.
“Kalau turis batal datang, yang paling terdampak justru rakyat kecil. Mereka kehilangan penghasilan harian,” ungkap dia.
Namun, Edu mengatakan, secara pribadi mendukung gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat, yang menyerukan reformasi politik dan ekonomi. Menurutnya, tuntutan ini penting untuk menciptakan stabilitas jangka panjang yang akan menguntungkan semua sektor, termasuk pariwisata.
“Kalau ada ketimpangan ekonomi yang tidak diselesaikan, ujung-ujungnya pasti muncul demonstrasi lagi. Kalau demonstrasi berubah jadi kerusuhan, dampaknya bukan hanya ke pemerintah, tapi juga ke rakyat biasa dan dunia usaha,” tuturnya.
Meski begitu, Edu memastikan bahwa kondisi saat ini sudah kembali kondusif. Lokasi wisata, kata dia, aman untuk dikunjungi, dan kerusuhan tidak menyebar ke area destinasi wisata utama.
“Untuk saat ini, situasi sudah stabil. Kami juga terus memantau perkembangan di lapangan. Para tamu bisa merasa tenang untuk melanjutkan rencana perjalanan mereka,” ujar Edu.
Beberapa turis pun, kata dia, sudah mulai kembali mengonfirmasi jadwal perjalanan mereka. “Kami siap memberikan pengalaman terbaik dan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tetap negara yang ramah dan indah untuk dikunjungi,” kata Edu.
(dra)
Lihat Juga :