Viral! Fenomena Pura-pura Bekerja di Kalangan Anak Muda China Imbas Pengangguran Meningkat
Rabu, 10 September 2025 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A
"Saya memilih berpura-pura bekerja karena dua alasan. Pertama, untuk menjaga jadwal harian yang teratur. Kedua, untuk memberi diri saya tekanan pergi bekerja," kata Xiao.
"Seluruh tubuh saya sakit karenanya. Saat itulah saya benar-benar mengerti apa arti hidup dalam keadaan linglung. Saya merasa tidak berharga sama sekali bagi masyarakat," sambungnya.
Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran kaum muda di China mencapai 17,8 persen pada Juli lalu, angka tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Jumlah lulusan universitas yang terus bertambah memperburuk kompetisi di pasar kerja, sehingga banyak generasi muda tidak kunjung menemukan pekerjaan yang layak.
Para ahli menilai tren berpura-pura bekerja adalah bentuk mekanisme koping untuk mengurangi rasa cemas dan menjaga harga diri di tengah budaya kerja China yang sangat menghargai produktivitas. Dengan tetap berangkat kerja meski tanpa pekerjaan nyata, anak muda merasa lebih berdaya dan tidak kehilangan identitas sosial.
Baca Juga: Viral! Pria China Ketahuan Selingkuh Buntut Gagal Bayar Pil KB, Istri Dihubungi Apotek
Fenomena ini berkembang lebih jauh dengan hadirnya kantor tiruan bernama Pretend to Work Unlimited Company. Kantor yang berlokasi di kota-kota besar seperti Shanghai, Hangzhou, dan Shenzhen ini menawarkan pengalaman bekerja layaknya kantor sungguhan dengan meja, komputer, ruang rapat, hingga printer.
Dengan biaya sekitar 30 yuan atau Rp67 ribu per hari, anak muda bisa menyewa meja, masuk pukul 09.00, bahkan menggunakan lencana perusahaan palsu. Bagi banyak orang, suasana ini membantu mereka merasa produktif, meski tidak memiliki pekerjaan formal.
Bahkan ada yang memanfaatkan ruang ini untuk mengembangkan bisnis kecil, mempersiapkan ujian, hingga mengasah ide startup.
"Seluruh tubuh saya sakit karenanya. Saat itulah saya benar-benar mengerti apa arti hidup dalam keadaan linglung. Saya merasa tidak berharga sama sekali bagi masyarakat," sambungnya.
Lonjakan Pengangguran Jadi Pemicu
Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran kaum muda di China mencapai 17,8 persen pada Juli lalu, angka tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Jumlah lulusan universitas yang terus bertambah memperburuk kompetisi di pasar kerja, sehingga banyak generasi muda tidak kunjung menemukan pekerjaan yang layak.
Para ahli menilai tren berpura-pura bekerja adalah bentuk mekanisme koping untuk mengurangi rasa cemas dan menjaga harga diri di tengah budaya kerja China yang sangat menghargai produktivitas. Dengan tetap berangkat kerja meski tanpa pekerjaan nyata, anak muda merasa lebih berdaya dan tidak kehilangan identitas sosial.
Baca Juga: Viral! Pria China Ketahuan Selingkuh Buntut Gagal Bayar Pil KB, Istri Dihubungi Apotek
Kantor Tiruan Jadi Bisnis Baru
Fenomena ini berkembang lebih jauh dengan hadirnya kantor tiruan bernama Pretend to Work Unlimited Company. Kantor yang berlokasi di kota-kota besar seperti Shanghai, Hangzhou, dan Shenzhen ini menawarkan pengalaman bekerja layaknya kantor sungguhan dengan meja, komputer, ruang rapat, hingga printer.
Dengan biaya sekitar 30 yuan atau Rp67 ribu per hari, anak muda bisa menyewa meja, masuk pukul 09.00, bahkan menggunakan lencana perusahaan palsu. Bagi banyak orang, suasana ini membantu mereka merasa produktif, meski tidak memiliki pekerjaan formal.
Bahkan ada yang memanfaatkan ruang ini untuk mengembangkan bisnis kecil, mempersiapkan ujian, hingga mengasah ide startup.
Lihat Juga :