Cegah Leptospirosis, Penyakit Berbahaya yang Mengintai saat Banjir
Sabtu, 13 September 2025 - 05:30 WIB
loading...
Banjir melanda sejumlah wilayah di Pulau Dewata, Bali, dan menjadi perhatian publik. Foto/SINDOnews.
A
A
A
JAKARTA - Banjir melanda sejumlah wilayah di Pulau Dewata, Bali, dan menjadi perhatian publik. Curah hujan tinggi pada September ini membuat beberapa kawasan terendam air. Beredar pula momen warga yang harus menyelamatkan hewan peliharaan hingga barang-barang berharga.
Namun, banjir tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga memicu ancaman kesehatan. Salah satu penyakit yang patut diwaspadai adalah leptospirosis, yang dapat menyerang setelah seseorang kontak dengan air banjir.
Baca juga: Wabah Leptospirosis Melanda Grobogan, 2 Warga Meninggal Dunia
Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Jumat (12/9/2025), leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat hidup di air atau tanah yang terkontaminasi serta memengaruhi hewan maupun manusia.
Meski sering dianggap sepele, leptospirosis bisa menimbulkan gejala serius. Penderita dapat mengalami demam, sesak napas, gangguan hati, hingga berujung pada kematian bila tidak ditangani.
Biasanya, dibutuhkan waktu 2 hingga 30 hari setelah kontak dengan bakteri hingga gejala muncul. Penyakit ini umumnya berkembang dalam dua fase.
Baca juga: Ciri-ciri Penyakit Leptospirosis, Bakteri yang Bisa Menyebabkan Kematian
Fase pertama: penderita mengalami demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, muntah, atau diare.
Setelah sempat membaik, sebagian pasien bisa jatuh sakit kembali.
Fase kedua: kondisi lebih parah, seperti gagal ginjal atau hati, hingga radang selaput otak dan sumsum tulang belakang (meningitis).
Leptospirosis dapat berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu. Tanpa pengobatan, proses pemulihan bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Untuk mencegah penularan, masyarakat yang terkena banjir dianjurkan segera mandi dan membersihkan diri. Gunakan pakaian pelindung seperti alas kaki atau sepatu boot saat melintasi genangan air.
Selain itu, pastikan luka terbuka ditutup dengan perban atau pembalut tahan air sebelum melewati area banjir. Tindakan sederhana ini dapat mengurangi risiko terkena leptospirosis.
Namun, banjir tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga memicu ancaman kesehatan. Salah satu penyakit yang patut diwaspadai adalah leptospirosis, yang dapat menyerang setelah seseorang kontak dengan air banjir.
Baca juga: Wabah Leptospirosis Melanda Grobogan, 2 Warga Meninggal Dunia
Apa Itu Leptospirosis?
Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Jumat (12/9/2025), leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat hidup di air atau tanah yang terkontaminasi serta memengaruhi hewan maupun manusia.
Meski sering dianggap sepele, leptospirosis bisa menimbulkan gejala serius. Penderita dapat mengalami demam, sesak napas, gangguan hati, hingga berujung pada kematian bila tidak ditangani.
Gejala Leptospirosis
Biasanya, dibutuhkan waktu 2 hingga 30 hari setelah kontak dengan bakteri hingga gejala muncul. Penyakit ini umumnya berkembang dalam dua fase.
Baca juga: Ciri-ciri Penyakit Leptospirosis, Bakteri yang Bisa Menyebabkan Kematian
Fase pertama: penderita mengalami demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, muntah, atau diare.
Setelah sempat membaik, sebagian pasien bisa jatuh sakit kembali.
Fase kedua: kondisi lebih parah, seperti gagal ginjal atau hati, hingga radang selaput otak dan sumsum tulang belakang (meningitis).
Leptospirosis dapat berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu. Tanpa pengobatan, proses pemulihan bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Cara Mencegah Leptospirosis
Untuk mencegah penularan, masyarakat yang terkena banjir dianjurkan segera mandi dan membersihkan diri. Gunakan pakaian pelindung seperti alas kaki atau sepatu boot saat melintasi genangan air.
Selain itu, pastikan luka terbuka ditutup dengan perban atau pembalut tahan air sebelum melewati area banjir. Tindakan sederhana ini dapat mengurangi risiko terkena leptospirosis.
(nnz)
Lihat Juga :