Rekor! Pria Ini Terinfeksi Covid-19 selama 2 Tahun Nonstop
Selasa, 16 September 2025 - 20:20 WIB
loading...
A
A
A
"Infeksi jangka panjang memungkinkan virus menemukan cara untuk menginfeksi sel secara lebih efisien, dan (penelitian ini) menambah bukti bahwa varian yang lebih mudah menular telah muncul dari infeksi semacam itu," kata epidemiolog Universitas Harvard, William Hanage, kepada Sophia Abene di Contagion Live.
Kasus seperti ini dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan masyarakat. Sebab memberi kesempatan virus untuk beradaptasi, bermutasi, bahkan memunculkan varian baru yang lebih sulit dikendalikan.
Tim ahli bioinformatika dari Universitas Boston, yang dipimpin oleh Joseline Velasquez-Reyes, melakukan analisis genetik terhadap sampel virus dari pasien antara Maret 2021 hingga Juli 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mutasi virus pada pasien serupa dengan yang ditemukan pada populasi luas.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa mutasi yang teridentifikasi pada pasien tersebut mirip dengan mutasi yang kemudian muncul pada varian Omicron. Artinya, dalam satu tubuh manusia saja, virus bisa mengalami proses evolusi yang menyerupai perkembangan varian global.
Baca Juga: Varian Covid-19 XFG Stratus Muncul di 38 Negara, Gejalanya Unik
Pasien tersebut diketahui juga menderita HIV-1 stadium lanjut, yang membuat sistem imunnya sangat lemah. Jumlah sel T penolong hanya mencapai 35 sel per mikroliter darah, jauh di bawah kisaran normal 500–1.500 sel per mikroliter.
Selama lebih dari dua tahun, pria ini tidak mendapatkan terapi antiretroviral yang seharusnya dapat memperkuat imunitasnya. Ia mengalami gejala seperti sesak napas, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan berkepanjangan. Kondisi inilah yang memungkinkan virus bertahan begitu lama di dalam tubuhnya.
Kasus seperti ini dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan masyarakat. Sebab memberi kesempatan virus untuk beradaptasi, bermutasi, bahkan memunculkan varian baru yang lebih sulit dikendalikan.
Analisis Genetik: Mutasi Mirip Omicron
Tim ahli bioinformatika dari Universitas Boston, yang dipimpin oleh Joseline Velasquez-Reyes, melakukan analisis genetik terhadap sampel virus dari pasien antara Maret 2021 hingga Juli 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mutasi virus pada pasien serupa dengan yang ditemukan pada populasi luas.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa mutasi yang teridentifikasi pada pasien tersebut mirip dengan mutasi yang kemudian muncul pada varian Omicron. Artinya, dalam satu tubuh manusia saja, virus bisa mengalami proses evolusi yang menyerupai perkembangan varian global.
Baca Juga: Varian Covid-19 XFG Stratus Muncul di 38 Negara, Gejalanya Unik
Kondisi Pasien yang Rentan
Pasien tersebut diketahui juga menderita HIV-1 stadium lanjut, yang membuat sistem imunnya sangat lemah. Jumlah sel T penolong hanya mencapai 35 sel per mikroliter darah, jauh di bawah kisaran normal 500–1.500 sel per mikroliter.
Selama lebih dari dua tahun, pria ini tidak mendapatkan terapi antiretroviral yang seharusnya dapat memperkuat imunitasnya. Ia mengalami gejala seperti sesak napas, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan berkepanjangan. Kondisi inilah yang memungkinkan virus bertahan begitu lama di dalam tubuhnya.
Lihat Juga :