India Darurat Kasus Amoeba Pemakan Otak, Begini Cara Penyebaran dan Gejalanya
Minggu, 21 September 2025 - 11:00 WIB
loading...
Kasus amoeba pemakan otak atau meningoensefalitis amuba primer (PAM) kini menjadi sorotan setelah India melaporkan lonjakan kasus mematikan di Kerala. Foto/Al Jazeera
A
A
A
INDIA - Kasus amoeba pemakan otak atau meningoensefalitis amuba primer (PAM) kini menjadi sorotan setelah India melaporkan lonjakan kasus mematikan di Kerala. Infeksi langka ini menyerang sistem saraf pusat dengan gejala awal mirip meningitis.
Penyakit ini disebabkan oleh naegleria fowleri, organisme yang populer dengan sebutan amoeba pemakan otak. Otoritas kesehatan Kerala mencatat 69 kasus terkonfirmasi dengan 19 kematian, sebagian besar di antaranya dilaporkan hanya dalam beberapa minggu terakhir.
Dilansir dari NDTV, Minggu (21/9/2025), kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama karena penyakit ini berkembang cepat dan sulit dideteksi pada tahap awal.
Baca Juga: Wabah Amuba Pemakan Otak Tewaskan 19 Orang di India
Menteri Kesehatan Negara Bagian Kerala Veena George, menegaskan bahwa pemerintah daerah tengah menghadapi krisis kesehatan masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Infeksi ini sebelumnya kerap dikaitkan dengan klaster kasus di wilayah tertentu seperti Kozhikode dan Malappuram.
Namun, kali ini kasus muncul secara sporadis di berbagai lokasi, sehingga menyulitkan pelacakan sumber penyebaran. Pasien yang terinfeksi pun berasal dari berbagai rentang usia, mulai dari bayi berusia tiga bulan hingga lansia berusia 91 tahun.
“Tidak seperti tahun lalu, kami tidak melihat klaster yang terkait dengan satu sumber air. Ini adalah kasus tunggal dan terisolasi, dan ini telah mempersulit investigasi epidemiologi kami,” ujarnya.
Menurut dokumen resmi pemerintah Kerala, PAM adalah penyakit langka namun sangat mematikan karena menyerang sistem saraf pusat.
"Infeksi ini menghancurkan jaringan otak, menyebabkan pembengkakan otak parah dan kematian pada sebagian besar kasus. PAM jarang terjadi dan biasanya terjadi pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda yang sehat,” demikian bunyi dokumen tersebut.
Baca Juga: 9 Manfaat Rebusan Daun Beluntas untuk Kesehatan, Menghilangkan Bau Badan hingga Gula Darah
Air tawar hangat yang stagnan menjadi sarana utama berkembangnya amoeba ini. “Portal masuk amuba adalah melalui mukosa olfaktorius dan lempeng cribiformis,” lanjut dokumen tersebut.
Menariknya, menelan air yang terkontaminasi tidak menyebabkan gejala, karena amoeba hanya bisa menyerang lewat jalur hidung. Itulah sebabnya orang yang berenang, menyelam, atau mandi di sumber air tawar hangat berisiko lebih tinggi tertular.
Dokumen yang sama juga mengingatkan bahwa perubahan iklim memperburuk risiko penularan.
“Perubahan iklim yang meningkatkan suhu air dan panas yang mendorong lebih banyak orang menggunakan air untuk rekreasi kemungkinan akan meningkatkan risiko penularan patogen ini,” katanya.
PAM kerap disamakan dengan meningitis bakterial karena gejala awalnya hampir serupa, antara lain sakit kepala, demam, mual, dan muntah. Perbedaan utamanya terletak pada perkembangan penyakit yang sangat cepat.
“Pada saat penyebab meningitis lain yang lebih umum disingkirkan dan diagnosis PAM dipertimbangkan, sering kali sudah terlambat untuk menyelamatkan pasien dari edema serebral yang berkembang dengan cepat dan menyebabkan kematian,” bunyi dokumen tersebut.
Baca Juga: 7 Makanan yang Menyebabkan Pikun, Buruk untuk Kesehatan Otak
Gejala bisa muncul satu hingga sembilan hari setelah terpapar air terkontaminasi, dengan perkembangan akut yang bisa terjadi hanya dalam hitungan jam hingga satu atau dua hari.
“Jalur neuro-olfaktorius memberi N.fowleri akses cepat ke otak dan mengakibatkan gangguan respons imun adaptif, yang menyebabkan perjalanan penyakit yang sangat cepat,” demikian menurut laporan resmi.
Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, tetapi para ahli menekankan bahwa diagnosis dini sangat menentukan peluang selamat.
“Hal ini menunjukkan bahwa diagnosis dini PAM dan pemberian koktail antimikroba yang tepat waktu dapat menyelamatkan nyawa,” demikian bunyi dokumen tersebut.
Menteri Kesehatan Kerala juga menekankan, deteksi dini adalah kuncinya. Sayangnya, kelangkaan kasus, kesulitan diagnosis, dan cepatnya perkembangan penyakit membuat penelitian obat belum menemukan standar terapi yang pasti.
“Secara teori, rejimen obat terbaik harus mencakup obat amebisidal (atau kombinasi obat) dengan aktivitas in vitro yang baik yang mampu melewati sawar darah-otak,” tambah dokumen itu.
Sejak kasus pertama dilaporkan pada 2016, Kerala mencatat jumlah yang relatif rendah. Namun, lonjakan tajam terjadi pada 2023 dengan 36 kasus dan sembilan kematian. Tahun ini, angkanya meningkat hampir dua kali lipat, menjadikan penyakit ini sebagai ancaman kesehatan masyarakat yang nyata.
Pemerintah Kerala mengimbau masyarakat agar berhati-hati ketika beraktivitas di air tawar. Masyarakat diminta untuk menghindari berenang atau mandi di kolam dan danau yang tidak terolah, serta menggunakan penjepit hidung untuk mencegah masuknya amoeba. Selain itu, sumur dan tangki air harus dibersihkan serta diklorinasi secara berkala.
Departemen kesehatan Kerala juga bekerja sama dengan Pusat Pengendalian Penyakit Nasional untuk mengambil sampel lingkungan demi mengidentifikasi potensi sumber kontaminasi. Tujuannya adalah mencegah penyebaran lebih lanjut sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman mematikan ini.
Penyakit ini disebabkan oleh naegleria fowleri, organisme yang populer dengan sebutan amoeba pemakan otak. Otoritas kesehatan Kerala mencatat 69 kasus terkonfirmasi dengan 19 kematian, sebagian besar di antaranya dilaporkan hanya dalam beberapa minggu terakhir.
Dilansir dari NDTV, Minggu (21/9/2025), kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama karena penyakit ini berkembang cepat dan sulit dideteksi pada tahap awal.
India Darurat Kasus Amoeba Pemakan Otak
Baca Juga: Wabah Amuba Pemakan Otak Tewaskan 19 Orang di India
Tantangan Penanganan oleh Pemerintah
Menteri Kesehatan Negara Bagian Kerala Veena George, menegaskan bahwa pemerintah daerah tengah menghadapi krisis kesehatan masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Infeksi ini sebelumnya kerap dikaitkan dengan klaster kasus di wilayah tertentu seperti Kozhikode dan Malappuram.
Namun, kali ini kasus muncul secara sporadis di berbagai lokasi, sehingga menyulitkan pelacakan sumber penyebaran. Pasien yang terinfeksi pun berasal dari berbagai rentang usia, mulai dari bayi berusia tiga bulan hingga lansia berusia 91 tahun.
“Tidak seperti tahun lalu, kami tidak melihat klaster yang terkait dengan satu sumber air. Ini adalah kasus tunggal dan terisolasi, dan ini telah mempersulit investigasi epidemiologi kami,” ujarnya.
Apa Itu PAM dan Bagaimana Infeksi Terjadi?
Menurut dokumen resmi pemerintah Kerala, PAM adalah penyakit langka namun sangat mematikan karena menyerang sistem saraf pusat.
"Infeksi ini menghancurkan jaringan otak, menyebabkan pembengkakan otak parah dan kematian pada sebagian besar kasus. PAM jarang terjadi dan biasanya terjadi pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda yang sehat,” demikian bunyi dokumen tersebut.
Baca Juga: 9 Manfaat Rebusan Daun Beluntas untuk Kesehatan, Menghilangkan Bau Badan hingga Gula Darah
Media Penularan dan Faktor Risiko
Air tawar hangat yang stagnan menjadi sarana utama berkembangnya amoeba ini. “Portal masuk amuba adalah melalui mukosa olfaktorius dan lempeng cribiformis,” lanjut dokumen tersebut.
Menariknya, menelan air yang terkontaminasi tidak menyebabkan gejala, karena amoeba hanya bisa menyerang lewat jalur hidung. Itulah sebabnya orang yang berenang, menyelam, atau mandi di sumber air tawar hangat berisiko lebih tinggi tertular.
Dokumen yang sama juga mengingatkan bahwa perubahan iklim memperburuk risiko penularan.
“Perubahan iklim yang meningkatkan suhu air dan panas yang mendorong lebih banyak orang menggunakan air untuk rekreasi kemungkinan akan meningkatkan risiko penularan patogen ini,” katanya.
Gejala Infeksi PAM
PAM kerap disamakan dengan meningitis bakterial karena gejala awalnya hampir serupa, antara lain sakit kepala, demam, mual, dan muntah. Perbedaan utamanya terletak pada perkembangan penyakit yang sangat cepat.
“Pada saat penyebab meningitis lain yang lebih umum disingkirkan dan diagnosis PAM dipertimbangkan, sering kali sudah terlambat untuk menyelamatkan pasien dari edema serebral yang berkembang dengan cepat dan menyebabkan kematian,” bunyi dokumen tersebut.
Baca Juga: 7 Makanan yang Menyebabkan Pikun, Buruk untuk Kesehatan Otak
Onset Penyakit yang Sangat Cepat
Gejala bisa muncul satu hingga sembilan hari setelah terpapar air terkontaminasi, dengan perkembangan akut yang bisa terjadi hanya dalam hitungan jam hingga satu atau dua hari.
“Jalur neuro-olfaktorius memberi N.fowleri akses cepat ke otak dan mengakibatkan gangguan respons imun adaptif, yang menyebabkan perjalanan penyakit yang sangat cepat,” demikian menurut laporan resmi.
Pengobatan dan Upaya Pencegahan
Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, tetapi para ahli menekankan bahwa diagnosis dini sangat menentukan peluang selamat.
“Hal ini menunjukkan bahwa diagnosis dini PAM dan pemberian koktail antimikroba yang tepat waktu dapat menyelamatkan nyawa,” demikian bunyi dokumen tersebut.
Menteri Kesehatan Kerala juga menekankan, deteksi dini adalah kuncinya. Sayangnya, kelangkaan kasus, kesulitan diagnosis, dan cepatnya perkembangan penyakit membuat penelitian obat belum menemukan standar terapi yang pasti.
“Secara teori, rejimen obat terbaik harus mencakup obat amebisidal (atau kombinasi obat) dengan aktivitas in vitro yang baik yang mampu melewati sawar darah-otak,” tambah dokumen itu.
Situasi Terkini di Kerala
Sejak kasus pertama dilaporkan pada 2016, Kerala mencatat jumlah yang relatif rendah. Namun, lonjakan tajam terjadi pada 2023 dengan 36 kasus dan sembilan kematian. Tahun ini, angkanya meningkat hampir dua kali lipat, menjadikan penyakit ini sebagai ancaman kesehatan masyarakat yang nyata.
Langkah Mitigasi Pemerintah
Pemerintah Kerala mengimbau masyarakat agar berhati-hati ketika beraktivitas di air tawar. Masyarakat diminta untuk menghindari berenang atau mandi di kolam dan danau yang tidak terolah, serta menggunakan penjepit hidung untuk mencegah masuknya amoeba. Selain itu, sumur dan tangki air harus dibersihkan serta diklorinasi secara berkala.
Departemen kesehatan Kerala juga bekerja sama dengan Pusat Pengendalian Penyakit Nasional untuk mengambil sampel lingkungan demi mengidentifikasi potensi sumber kontaminasi. Tujuannya adalah mencegah penyebaran lebih lanjut sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman mematikan ini.
(dra)
Lihat Juga :