Menu Sederhana, Kisah Oseng Endok yang Bawa Cita Rasa Jalanan ke Restoran Modern
Minggu, 19 Oktober 2025 - 20:30 WIB
loading...
A
A
A
Setiap piring disajikan dengan nasi putih atau nasi jeruk beraroma daun jeruk, dilengkapi jukut goreng, telur krispi, dan pilihan sambal—baik sambal hijau maupun sambal iris.
Menariknya, semua menu menggunakan alas daun jati, bukan daun pisang seperti umumnya. “Kami riset, dan ternyata daun jati punya aroma khas yang memberi karakter tersendiri, sekaligus jarang digunakan di restoran modern,” ujar Ello.
"Dulu konsepnya gerobakan, sekarang kami bikin menjadi restoran yang lebih nyaman dengan ruangan ber-AC, tapi tetap membawa suasana rumahan,” kata Ello.
Selain menu utama, restoran ini juga menghadirkan berbagai inovasi lauk khas rakyat yang jarang ditemui di tempat lain. Ada usus yang dianyam jadi bola, koyor empuk seperti di warung bakso, hingga gembus yakni ampas tahu yang teksturnya lembut di antara tahu dan tempe. Tak ketinggalan, ada martabak bandeng dan berbagi sate-satean lainnya mulai dari sate telur puyuh, usus, kikil, udang, hingga kulit ayam yang dijual mulai dari Rp4.000 per tusuk. Semua jenis sate-satean disajikan dengan sambal Aye yang pedas gurih.
Sebagai pelengkap menu terdapat kerupuk, puding cup, buah potong segar, hingga martabak bandeng.
Walau tampil lebih modern, Oseng Endok tetap mempertahankan harga yang ramah di kantong. Menu nasi telur dibanderol mulai Rp13 ribu saja bahkan lebih murah dibanding versi gerobaknya dulu.
Bagi Ello, kuncinya bukan cuma soal rasa, tapi juga kepuasan pelanggan. “Aku ingin orang makan di sini bisa kalap tapi tetap puas. Jadi mereka bisa ambil nasi, sate, martabak, semua dengan harga yang masuk akal,” katanya.
Tagline restoran ini pun menggambarkan kepercayaan dirinya terhadap kualitas rasa,
“Pasti balik lagi.”
Dari Street Food ke Restoran Modern
Menariknya, semua menu menggunakan alas daun jati, bukan daun pisang seperti umumnya. “Kami riset, dan ternyata daun jati punya aroma khas yang memberi karakter tersendiri, sekaligus jarang digunakan di restoran modern,” ujar Ello.
"Dulu konsepnya gerobakan, sekarang kami bikin menjadi restoran yang lebih nyaman dengan ruangan ber-AC, tapi tetap membawa suasana rumahan,” kata Ello.
Selain menu utama, restoran ini juga menghadirkan berbagai inovasi lauk khas rakyat yang jarang ditemui di tempat lain. Ada usus yang dianyam jadi bola, koyor empuk seperti di warung bakso, hingga gembus yakni ampas tahu yang teksturnya lembut di antara tahu dan tempe. Tak ketinggalan, ada martabak bandeng dan berbagi sate-satean lainnya mulai dari sate telur puyuh, usus, kikil, udang, hingga kulit ayam yang dijual mulai dari Rp4.000 per tusuk. Semua jenis sate-satean disajikan dengan sambal Aye yang pedas gurih.
Sebagai pelengkap menu terdapat kerupuk, puding cup, buah potong segar, hingga martabak bandeng.
Walau tampil lebih modern, Oseng Endok tetap mempertahankan harga yang ramah di kantong. Menu nasi telur dibanderol mulai Rp13 ribu saja bahkan lebih murah dibanding versi gerobaknya dulu.
Bagi Ello, kuncinya bukan cuma soal rasa, tapi juga kepuasan pelanggan. “Aku ingin orang makan di sini bisa kalap tapi tetap puas. Jadi mereka bisa ambil nasi, sate, martabak, semua dengan harga yang masuk akal,” katanya.
Tagline restoran ini pun menggambarkan kepercayaan dirinya terhadap kualitas rasa,
“Pasti balik lagi.”
Dari Street Food ke Restoran Modern
Lihat Juga :