Dari Raisa hingga Warga Biasa: Mengapa Kini Lebih Banyak Istri yang Menggugat Cerai?
Senin, 27 Oktober 2025 - 16:01 WIB
loading...
Ilustrasi Foto/cordell & cordell
A
A
A
JAKARTA - Guatan cerai Raisa Andriana ke suaminya Hamish Daud beberapa waktu sangat mengejutkan publik. Sebelumnya beberapa pesohor wanita Indonesia juga menggugat cerai suaminya. Sebut saja Tasya Farasya, Sherina Munaf, dan Acha Septriasa juga melakukan hal yang sama.
Tak hanya di kalangan selebritas saja, fenomena istri menggugat cerai suami juga marak terjadi pada masyarakat biasa.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka perceraian tahun 2024 sebanyak 399.921 kasus. Dari jumlah tersebut,
cerai gugat (diajukan istri) sebanyak 308.956 kasus dan cerai talak (diajukan suami): 85.652 kasus.
Baca Juga : Raisa Gugat Cerai Hamish Daud, Kuasa Hukum: Tolong Jaga Privasi Mereka
Mengapa perempuan lebih banyak memilih untuk bercerai? Bagi sebagian orang, jawabannya adalah soal bagaimana pasangan memenuhi atau tidak memenuhi kebutuhan emosional mereka dalam pernikahan. Namun, bagi yang lain, mungkin ada masalah berat yang jadi penyebabnya.
Seperti dikutip bbc.com berikut ini alasan perempuan menginginkan perceraian:
1. Mandiri Secara Finansial
Heidi Kar, seorang psikolog dan pakar kekerasan dalam rumah tangga di Pusat Pengembangan Pendidikan yang berbasis di AS, mengatakan maraknya perceraian bertepatan dengan era di mana perempuan sadar akan hak dan kemandiriannya.
“Karena kemandirian ekonomi merupakan keharusan sebelum seorang perempuan dapat mencoba meninggalkan pernikahan, baik sendirian maupun dengan anak-anak yang harus dibiayai. Sangatlah sulit bagi perempuan untuk meninggalkan pernikahan kecuali mereka memiliki cara untuk mencari nafkah sendiri,” ujar Kar.Selain itu, karena peran gender perempuan jadi lebih rumit saat dia mulai mencapai kemandirian finansial. Konflik dalam pernikahan pun akan sering muncul.
Baca Juga : Sandra Dewi Keberatan Asetnya Disita, Pakar : Relakan Saja Daripada Jadi Bumerang
2. Faktor Emosional dan Sosial
Bagi banyak perempuan, harapan yang mereka miliki saat memasuki pernikahan mungkin tidak sesuai dengan kenyataan. Para ahli mengatakan bahwa mereka seringkali memiliki harapan yang lebih tinggi tentang bagaimana pasangan akan memenuhi kebutuhan emosional mereka dibandingkan pria, yang dapat menyebabkan kekecewaan pascapernikahan.
Gilza Fort-Martinez, seorang terapis pasangan berlisensi yang berbasis di Florida, AS, yang berspesialisasi dalam resolusi konflik, mengatakan karena pria biasanya disosialisasikan memiliki kecerdasan emosional yang lebih rendah daripada perempuan, hal ini dapat menyebabkan pasangan perempuan merasa tidak didukung dan melakukan banyak beban emosional dalam hubungan.
3. Perubahan Peran dalam Pernikahan
Perubahan peran perempuan di masyarakat yang semakin setara ternyata belum sepenuhnya diikuti dengan perubahan dalam pembagian tugas di dalam rumah tangga.Menurut Michael Rosenfeld, profesor sosiologi di Stanford University, perempuan lebih cenderung mengajukan cerai karena merasa tidak puas dengan peran tradisional dalam pernikahan.
Banyak istri masih diharapkan untuk menangani sebagian besar pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak, bahkan ketika mereka juga bekerja di luar rumah.
Tak hanya di kalangan selebritas saja, fenomena istri menggugat cerai suami juga marak terjadi pada masyarakat biasa.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka perceraian tahun 2024 sebanyak 399.921 kasus. Dari jumlah tersebut,
cerai gugat (diajukan istri) sebanyak 308.956 kasus dan cerai talak (diajukan suami): 85.652 kasus.
Baca Juga : Raisa Gugat Cerai Hamish Daud, Kuasa Hukum: Tolong Jaga Privasi Mereka
Mengapa perempuan lebih banyak memilih untuk bercerai? Bagi sebagian orang, jawabannya adalah soal bagaimana pasangan memenuhi atau tidak memenuhi kebutuhan emosional mereka dalam pernikahan. Namun, bagi yang lain, mungkin ada masalah berat yang jadi penyebabnya.
Seperti dikutip bbc.com berikut ini alasan perempuan menginginkan perceraian:
1. Mandiri Secara Finansial
Heidi Kar, seorang psikolog dan pakar kekerasan dalam rumah tangga di Pusat Pengembangan Pendidikan yang berbasis di AS, mengatakan maraknya perceraian bertepatan dengan era di mana perempuan sadar akan hak dan kemandiriannya.
“Karena kemandirian ekonomi merupakan keharusan sebelum seorang perempuan dapat mencoba meninggalkan pernikahan, baik sendirian maupun dengan anak-anak yang harus dibiayai. Sangatlah sulit bagi perempuan untuk meninggalkan pernikahan kecuali mereka memiliki cara untuk mencari nafkah sendiri,” ujar Kar.Selain itu, karena peran gender perempuan jadi lebih rumit saat dia mulai mencapai kemandirian finansial. Konflik dalam pernikahan pun akan sering muncul.
Baca Juga : Sandra Dewi Keberatan Asetnya Disita, Pakar : Relakan Saja Daripada Jadi Bumerang
2. Faktor Emosional dan Sosial
Bagi banyak perempuan, harapan yang mereka miliki saat memasuki pernikahan mungkin tidak sesuai dengan kenyataan. Para ahli mengatakan bahwa mereka seringkali memiliki harapan yang lebih tinggi tentang bagaimana pasangan akan memenuhi kebutuhan emosional mereka dibandingkan pria, yang dapat menyebabkan kekecewaan pascapernikahan.
Gilza Fort-Martinez, seorang terapis pasangan berlisensi yang berbasis di Florida, AS, yang berspesialisasi dalam resolusi konflik, mengatakan karena pria biasanya disosialisasikan memiliki kecerdasan emosional yang lebih rendah daripada perempuan, hal ini dapat menyebabkan pasangan perempuan merasa tidak didukung dan melakukan banyak beban emosional dalam hubungan.
3. Perubahan Peran dalam Pernikahan
Perubahan peran perempuan di masyarakat yang semakin setara ternyata belum sepenuhnya diikuti dengan perubahan dalam pembagian tugas di dalam rumah tangga.Menurut Michael Rosenfeld, profesor sosiologi di Stanford University, perempuan lebih cenderung mengajukan cerai karena merasa tidak puas dengan peran tradisional dalam pernikahan.
Banyak istri masih diharapkan untuk menangani sebagian besar pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak, bahkan ketika mereka juga bekerja di luar rumah.
(wur)
Lihat Juga :