Ambulatory Surgery, Bedah Lutut Modern Tanpa Rawat Inap Siap Diterapkan di Indonesia
Kamis, 30 Oktober 2025 - 20:01 WIB
loading...
Rumah Sakit Siloam Hospital Mampang, Jakarta Selatan siap kembangkan ambulatory surgeri untuk bedah lutut. Foto/Annastasya Rizqa
A
A
A
JAKARTA - Teknik-teknik baru dalam dunia ortopedi terus berkembang dan memudahkan para tenaga medis dan pasien. Salah satunya yang perlu dikembangkan oleh layanan kesehatan Indonesia ialah bedah ambulatori atau ambulatory surgery.
Ambulatory Surgery merupakan prosedur bedah yang tidak memerlukan rawat inap sehingga pasien dapat pulang pada hari yang sama setelah operasi. Cara mutakhir ini juga dapat dilakukan dalam proses knee arthoplasty atau bedah lutut agar pasien tak perlu lagi rawat inap setelah prosedur operasi.
“Jadi biasanya itu kalau kita operasi robotik, itu rata-rata 4 hari. Jadi 4 hari baru pasiennya pulang. Nah itu yang mau kita pelajari, bagaimana sih caranya kalau ambulatory surgery bisa sehari lalu pasiennya pulang,” ungkap Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati, Sp.EM, Direktur Siloam Hospitals Mampang, di kawasan Jakrta Selatan, baru-baru ini.
Baca Juga : Lagi Viral di Indonesia, Inhaler Thailand Hong Thai Ternyata Terkontaminasi Mikroba Berbahaya!
Dalam kesempatan ini, para dokter ortopedi melakukan sharing session global untuk meingkatkan standar klinis di Indonesia bersama Dr. Timothy Alton, Direktur Medis Joint Center dari Valley Medical Center Amerika Serikat.
dr. Wahyuni Dian mengatakan penerapan ambulatory surgery pada bedah lutut ini memerlukan kolaborasi antara dokter anestesi dan dokter bedah ortopedi untuk bisa dilakukan dengan baik hingga pasien tak perlu lagi melakukan rawat inap pasca operasi lutut.
Tak hanya dari teknik, ia juga mengungkap beberapa syarat dari sisi pasien agar ambolatory surgery ini bisa berjalan dengan baik, yakni memerhatikan kondisi kesehatan fisik sebelum melakukan pembedahan lutut.
Baca Juga : Minuman Isotonik Punya Kandungan Gula Tinggi, Awas Jangan Keseringan Dikonsumsi!
“Pasiennya itu bukan cuma masalah usianya, tapi kesehatannya dia. Tadi diungkap dr. Alton, kalau gula darahnya masih tinggi ya harus low-treat dulu dong gula darahnya. Kalau dia BMI-nya tinggi, masih gendut misalnya gitu, ya mau nggak mau harus turun dulu berat badannya,” jelas dr. Wahyuni Dian.
Meski begitu, penerapan pengembangan ambolatory surgery bukan tanpa tantangan. Proses mendalam dan kolaborasi dari dokter anesthesi dan ortopedi ini sangat diperlukan sehingga tak bisa diterapkan secara instan. Screening terhadap kondisi pasien juga memengaruhi dari hasil bedah ambolatori ini untuk bisa diterapkan menjadi one day surgery.
“Mungkin kita nggak langsung bisa ya, kita akan pendekin dulu waktunya jadi 3 hari, 2 hari, sehari sampai bisa one day surgery. Jadi, pagi mungkin pasiennya operasi, sorenya udah bisa pulang. Tapi it takes time ya, jadi butuh waktu,” paparnya.
Ambulatory Surgery merupakan prosedur bedah yang tidak memerlukan rawat inap sehingga pasien dapat pulang pada hari yang sama setelah operasi. Cara mutakhir ini juga dapat dilakukan dalam proses knee arthoplasty atau bedah lutut agar pasien tak perlu lagi rawat inap setelah prosedur operasi.
“Jadi biasanya itu kalau kita operasi robotik, itu rata-rata 4 hari. Jadi 4 hari baru pasiennya pulang. Nah itu yang mau kita pelajari, bagaimana sih caranya kalau ambulatory surgery bisa sehari lalu pasiennya pulang,” ungkap Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati, Sp.EM, Direktur Siloam Hospitals Mampang, di kawasan Jakrta Selatan, baru-baru ini.
Baca Juga : Lagi Viral di Indonesia, Inhaler Thailand Hong Thai Ternyata Terkontaminasi Mikroba Berbahaya!
Dalam kesempatan ini, para dokter ortopedi melakukan sharing session global untuk meingkatkan standar klinis di Indonesia bersama Dr. Timothy Alton, Direktur Medis Joint Center dari Valley Medical Center Amerika Serikat.
dr. Wahyuni Dian mengatakan penerapan ambulatory surgery pada bedah lutut ini memerlukan kolaborasi antara dokter anestesi dan dokter bedah ortopedi untuk bisa dilakukan dengan baik hingga pasien tak perlu lagi melakukan rawat inap pasca operasi lutut.
Tak hanya dari teknik, ia juga mengungkap beberapa syarat dari sisi pasien agar ambolatory surgery ini bisa berjalan dengan baik, yakni memerhatikan kondisi kesehatan fisik sebelum melakukan pembedahan lutut.
Baca Juga : Minuman Isotonik Punya Kandungan Gula Tinggi, Awas Jangan Keseringan Dikonsumsi!
“Pasiennya itu bukan cuma masalah usianya, tapi kesehatannya dia. Tadi diungkap dr. Alton, kalau gula darahnya masih tinggi ya harus low-treat dulu dong gula darahnya. Kalau dia BMI-nya tinggi, masih gendut misalnya gitu, ya mau nggak mau harus turun dulu berat badannya,” jelas dr. Wahyuni Dian.
Meski begitu, penerapan pengembangan ambolatory surgery bukan tanpa tantangan. Proses mendalam dan kolaborasi dari dokter anesthesi dan ortopedi ini sangat diperlukan sehingga tak bisa diterapkan secara instan. Screening terhadap kondisi pasien juga memengaruhi dari hasil bedah ambolatori ini untuk bisa diterapkan menjadi one day surgery.
“Mungkin kita nggak langsung bisa ya, kita akan pendekin dulu waktunya jadi 3 hari, 2 hari, sehari sampai bisa one day surgery. Jadi, pagi mungkin pasiennya operasi, sorenya udah bisa pulang. Tapi it takes time ya, jadi butuh waktu,” paparnya.
(wur)
Lihat Juga :