Anak-Anak Rentan Terjangkit DBD di Musim Hujan, IDAI Sarankan Segera Vaksin
Senin, 03 November 2025 - 13:59 WIB
loading...
Vaksin adalah cara efektif untuk menghindarkan anak-anak dari Demam Berdarah Dengue. Foto/Healthday
A
A
A
JAKARTA - Musim hujan biasa beberapa penyakit mulai datang menyerang dan mengancam kesehatan tubuh. Tak terkecuali anak-anak yang rentan terkena demam berdarah dengue (DBD) akibat nyamuk aedes aegypti yang berkembang biang dengan cepat di musim hujan ini.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa dengue merupakan ancaman yang terus meningkat di Indonesia dan telah menyebar ke seluruh wilayah. Mengingat kondisi cuaca saat ini, risiko penularan dengue berpotensi meningkat, dengan jumlah daerah endemis naik menjadi 471 pada 2025, dan hampir semua kabupaten/kota telah melaporkan kasus.
“Anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan terhadap infeksi dengue dan berisiko tinggi mengalami dengue berat yang berdampak kematian,” ungkap Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dalam acara Urgensi Penanggulangan Dengue, di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (2/11/2025).
Baca Juga : Jaga Imunitas di Musim Hujan: Ini 3 Minuman Alami Penangkal Flu
Pada 28 Oktober 2025, telah dilaporkan 131.393 kasus dan 544 kematian. Data ini menunjukkan bahwa Dengue masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan membutuhkan kewaspadaan yang berkelanjutan.
dr. Hartono mengatakan vaksin atau imunisasi DBD perlu diberikan pada anak-anak dan menjadi prioritas para orangtua. Ia mengungkap anak-anak yang mendapatkan vaksin DBD bisa mengurangi gejala dan rasa sakit sehingga risiko kematian dapat ditekan.
“Kalau terinfeksi kita bisa sakit, bisa terjadi kejang hingga kematian. Kalau anak terimunisasi, bisa mendapat kekebalan dari vaksin tersebut. Tidak sakit, tapi memang ada gejala ringan dan sementara, 1 dan 2 hari hilang,” tambahnya.
Baca Juga : Musim Hujan Tiba, Ini 4 Penyakit yang Perlu Anda Waspadai
Meski begitu, pemberian vaksinasi DBD pada anak ini juga tak bisa sembarang diberikan. dr. Hartono mengatakan kondisi kesehatan anak perlu diperhatikan terlebih dahulu sebelum tindakan pemberian vaksin dan dipastikan tidak menderita penyakit komorbid.
“Kalau anak sudah bergejala seperti demam, itu tidak boleh diberikan. Perlu dicatat juga bahwa vaksin ini tidak boleh diberikan pada anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh,” papar dr. Hartono.
Selain langkah preventif dengan memberikan vaksinasi pada anak-anak, dr. Hartono juga mengimbau adanya pemeliharan lingkungan pada masyarakat dan orangtua. Memerhatikan genangan dan menjaga wilayah rumah dari sampah juga dapat menghindari tempat perkembangbiakan nyamuk.
dr. Hartono menjelaskan agar orangtua memerhatikan tempat penyimpanan air mereka agar selalu terjaga sehingga menghindari adanya jentik-jentik nyamuk.
“Apakah kita mempunyai vas bunga yang airnya selalu diganti, bak mandi, itu juga rentan untuk menjadi tempat perkembang biakan nyamuk,” jelas dr. Hartono.
“Bukan hanya di dalam rumah, tapi juga perhatikan selokan. Lingkungan anak seperti di sekolah juga perlu diperhatikan agar bebas jentik,” tambahnya.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa dengue merupakan ancaman yang terus meningkat di Indonesia dan telah menyebar ke seluruh wilayah. Mengingat kondisi cuaca saat ini, risiko penularan dengue berpotensi meningkat, dengan jumlah daerah endemis naik menjadi 471 pada 2025, dan hampir semua kabupaten/kota telah melaporkan kasus.
“Anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan terhadap infeksi dengue dan berisiko tinggi mengalami dengue berat yang berdampak kematian,” ungkap Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dalam acara Urgensi Penanggulangan Dengue, di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (2/11/2025).
Baca Juga : Jaga Imunitas di Musim Hujan: Ini 3 Minuman Alami Penangkal Flu
Pada 28 Oktober 2025, telah dilaporkan 131.393 kasus dan 544 kematian. Data ini menunjukkan bahwa Dengue masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan membutuhkan kewaspadaan yang berkelanjutan.
dr. Hartono mengatakan vaksin atau imunisasi DBD perlu diberikan pada anak-anak dan menjadi prioritas para orangtua. Ia mengungkap anak-anak yang mendapatkan vaksin DBD bisa mengurangi gejala dan rasa sakit sehingga risiko kematian dapat ditekan.
“Kalau terinfeksi kita bisa sakit, bisa terjadi kejang hingga kematian. Kalau anak terimunisasi, bisa mendapat kekebalan dari vaksin tersebut. Tidak sakit, tapi memang ada gejala ringan dan sementara, 1 dan 2 hari hilang,” tambahnya.
Baca Juga : Musim Hujan Tiba, Ini 4 Penyakit yang Perlu Anda Waspadai
Meski begitu, pemberian vaksinasi DBD pada anak ini juga tak bisa sembarang diberikan. dr. Hartono mengatakan kondisi kesehatan anak perlu diperhatikan terlebih dahulu sebelum tindakan pemberian vaksin dan dipastikan tidak menderita penyakit komorbid.
“Kalau anak sudah bergejala seperti demam, itu tidak boleh diberikan. Perlu dicatat juga bahwa vaksin ini tidak boleh diberikan pada anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh,” papar dr. Hartono.
Selain langkah preventif dengan memberikan vaksinasi pada anak-anak, dr. Hartono juga mengimbau adanya pemeliharan lingkungan pada masyarakat dan orangtua. Memerhatikan genangan dan menjaga wilayah rumah dari sampah juga dapat menghindari tempat perkembangbiakan nyamuk.
dr. Hartono menjelaskan agar orangtua memerhatikan tempat penyimpanan air mereka agar selalu terjaga sehingga menghindari adanya jentik-jentik nyamuk.
“Apakah kita mempunyai vas bunga yang airnya selalu diganti, bak mandi, itu juga rentan untuk menjadi tempat perkembang biakan nyamuk,” jelas dr. Hartono.
“Bukan hanya di dalam rumah, tapi juga perhatikan selokan. Lingkungan anak seperti di sekolah juga perlu diperhatikan agar bebas jentik,” tambahnya.
(wur)
Lihat Juga :