Inovasi PKMK Jadi Terobosan Efektif Pemerintah dalam Percepatan Penurunan Stunting
Senin, 03 November 2025 - 17:45 WIB
loading...
Pentaloka Nasional bertema Layanan Primer Kuat, Indonesia Sehat bahas isu MBG & Penanggulangan Stunting, AIDS-TBC-Malaria (ATM), Hipertensi, Implementasi KTR, Tuberculosis, Dengue, serta Manajemen Risiko Dinkes & Fasyankes. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Upaya percepatan penurunan stunting terus menjadi prioritas nasional. Pemerintah melalui kolaborasi dan gerakan inovasi antar Kementerian, termasuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), memperkuat strategi gizi nasional dengan menghadirkan berbagai kebijakan dan inovasi, salah satunya lewat pemanfaatan Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK).
PKMK merupakan produk pangan yang diformulasikan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi individu dengan kondisi medis tertentu, termasuk anak yang berisiko stunting atau mengalami gangguan pertumbuhan.
Baca juga: Pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK): Antara Budaya dan Data
Produk ini hanya dapat digunakan di bawah pengawasan tenaga kesehatan karena kandungan nutrisinya dirancang secara terukur sesuai kebutuhan klinis. Inovasi ini menjadi salah satu strategi penting untuk memastikan intervensi gizi berjalan efektif, merata, dan berkelanjutan hingga ke tingkat lokal.
Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya, turut menyoroti pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memastikan keberhasilan program penurunan stunting di daerah.
“Ini bukan sekadar program, tapi investasi jangka panjang untuk masa depan manusia Indonesia. Pemerintah daerah harus mampu mencatatkan strategi percepatan penanganan stunting dengan tepat dan memastikan implementasinya di lapangan berjalan efektif. Banyak daerah sudah menunjukkan praktik baik seperti pembentukan tim percepatan dan desa siaga stunting yang perlu terus direplikasi,” ujar Bima Arya, melalui siaran pers, Senin (3/11/2025).
Ketua Umum ADINKES, dr. M. Subuh dalam sambutannya menegaskan komitmen ADINKES dalam memperkuat kapasitas Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program penanganan stunting.
“Kami menyadari Dinas Kesehatan di berbagai daerah tengah berhadapan dengan tantangan yang kompleks. Namun, kami percaya tantangan bukanlah masalah, melainkan peluang untuk berkolaborasi. ADINKES selalu berpendapat bahwa tantangan itu justru harus dijawab dengan sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat,” ujar dr. Subuh.
Lebih lanjut, ia mengatakan dengan dukungan pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat sipil, target penurunan angka stunting, kematian ibu dan anak, serta peningkatan umur harapan hidup dapat tercapai.
Sebagai bentuk apresiasi atas upaya pengendalian stunting di berbagai daerah, ADINKES menghadirkan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) Award 2025, yang diserahkan dalam Pentaloka Nasional sebagai penghargaan bagi daerah dengan capaian dan inisiatif terbaik dalam pengendalian stunting.
Melanjutkan komitmen pemerintah dalam satu dekade terakhir untuk menekan angka stunting, ADINKES menilai pentingnya memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan provinsi, kabupaten, dan kota yang berhasil menunjukkan praktik baik serta capaian signifikan selama periode 2024 hingga Juli 2025.
Wujud nyata kolaborasi lintas sektor tersebut ditandai dengan pemberian apresiasi kepada 64 kota dan kabupaten di Indonesia melalui Generasi Maju Bebas Stunting Awards dan Penanggulangan AIDS, TBC, dan Malaria Awards. Penghargaan ini menjadi simbol dedikasi serta kerja bersama seluruh pihak dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, kuat, dan bebas dari stunting menuju Generasi Emas Indonesia 2045 yang sehat, cerdas, dan tangguh.
Pemberian GMBS Award 2025 diharapkan dapat menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat implementasi program pengendalian stunting di wilayah masing-masing, sekaligus mempercepat terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, unggul, dan bebas stunting pada tahun 2045.
Melengkapi strategi kolaborasi tersebut, Rita Novianti, Healthcare Nutrition Solution Director Sarihusada, menilai kerja sama lintas sektor dari hulu ke hilir menjadi kunci untuk menurunkan prevalensi stunting. “Bersama-sama, kami mengembangkan program kesehatan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak seperti Dinas Kesehatan Kabupaten Kota yang secara aktif merangkul seluruh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan yang terlibat dalam penatalaksanaan stunting di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Rita memaparkan bahwa melalui Gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS), Sarihusada berkomitmen mendukung lahirnya generasi masa depan yang sehat dan berdaya saing. “GMBS adalah langkah awal menuju Indonesia bebas stunting. Kami berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan serta memunculkan semangat baru bagi seluruh pihak yang terlibat dalam menurunkan angka stunting di wilayah masing-masing,” tutup Rita.
PKMK merupakan produk pangan yang diformulasikan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi individu dengan kondisi medis tertentu, termasuk anak yang berisiko stunting atau mengalami gangguan pertumbuhan.
Baca juga: Pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK): Antara Budaya dan Data
Produk ini hanya dapat digunakan di bawah pengawasan tenaga kesehatan karena kandungan nutrisinya dirancang secara terukur sesuai kebutuhan klinis. Inovasi ini menjadi salah satu strategi penting untuk memastikan intervensi gizi berjalan efektif, merata, dan berkelanjutan hingga ke tingkat lokal.
Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya, turut menyoroti pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memastikan keberhasilan program penurunan stunting di daerah.
“Ini bukan sekadar program, tapi investasi jangka panjang untuk masa depan manusia Indonesia. Pemerintah daerah harus mampu mencatatkan strategi percepatan penanganan stunting dengan tepat dan memastikan implementasinya di lapangan berjalan efektif. Banyak daerah sudah menunjukkan praktik baik seperti pembentukan tim percepatan dan desa siaga stunting yang perlu terus direplikasi,” ujar Bima Arya, melalui siaran pers, Senin (3/11/2025).
Ketua Umum ADINKES, dr. M. Subuh dalam sambutannya menegaskan komitmen ADINKES dalam memperkuat kapasitas Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program penanganan stunting.
“Kami menyadari Dinas Kesehatan di berbagai daerah tengah berhadapan dengan tantangan yang kompleks. Namun, kami percaya tantangan bukanlah masalah, melainkan peluang untuk berkolaborasi. ADINKES selalu berpendapat bahwa tantangan itu justru harus dijawab dengan sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat,” ujar dr. Subuh.
Lebih lanjut, ia mengatakan dengan dukungan pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat sipil, target penurunan angka stunting, kematian ibu dan anak, serta peningkatan umur harapan hidup dapat tercapai.
Sebagai bentuk apresiasi atas upaya pengendalian stunting di berbagai daerah, ADINKES menghadirkan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) Award 2025, yang diserahkan dalam Pentaloka Nasional sebagai penghargaan bagi daerah dengan capaian dan inisiatif terbaik dalam pengendalian stunting.
Melanjutkan komitmen pemerintah dalam satu dekade terakhir untuk menekan angka stunting, ADINKES menilai pentingnya memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan provinsi, kabupaten, dan kota yang berhasil menunjukkan praktik baik serta capaian signifikan selama periode 2024 hingga Juli 2025.
Wujud nyata kolaborasi lintas sektor tersebut ditandai dengan pemberian apresiasi kepada 64 kota dan kabupaten di Indonesia melalui Generasi Maju Bebas Stunting Awards dan Penanggulangan AIDS, TBC, dan Malaria Awards. Penghargaan ini menjadi simbol dedikasi serta kerja bersama seluruh pihak dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, kuat, dan bebas dari stunting menuju Generasi Emas Indonesia 2045 yang sehat, cerdas, dan tangguh.
Pemberian GMBS Award 2025 diharapkan dapat menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat implementasi program pengendalian stunting di wilayah masing-masing, sekaligus mempercepat terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, unggul, dan bebas stunting pada tahun 2045.
Melengkapi strategi kolaborasi tersebut, Rita Novianti, Healthcare Nutrition Solution Director Sarihusada, menilai kerja sama lintas sektor dari hulu ke hilir menjadi kunci untuk menurunkan prevalensi stunting. “Bersama-sama, kami mengembangkan program kesehatan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak seperti Dinas Kesehatan Kabupaten Kota yang secara aktif merangkul seluruh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan yang terlibat dalam penatalaksanaan stunting di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Rita memaparkan bahwa melalui Gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS), Sarihusada berkomitmen mendukung lahirnya generasi masa depan yang sehat dan berdaya saing. “GMBS adalah langkah awal menuju Indonesia bebas stunting. Kami berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan serta memunculkan semangat baru bagi seluruh pihak yang terlibat dalam menurunkan angka stunting di wilayah masing-masing,” tutup Rita.
(nnz)
Lihat Juga :