Khasiat Jahe Merah, Herbal Asli Indonesia yang Diakui Ilmiah
Selasa, 04 November 2025 - 19:05 WIB
loading...
Jahe merah telah lama dimanfaatkan sebagai obat herbal di Indonesia. Foto/X @Kisanherbal.
A
A
A
JAKARTA - Dengan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun dan kini disempurnakan melalui penelitian ilmiah serta pembentukan ekosistem yang memadai, Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci dalam pengembangan obat herbal modern di dunia. Salah satu herba asli Indonesia yang memiliki potensi besar adalah jahe merah.
Menanggapi hal ini, dalam sebuah siniar yang ditayangkan di YouTube, dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), menyampaikan pandangannya.
“Ribuan tumbuhan sudah dimanfaatkan sebagai pengobatan herbal sejak zaman nenek moyang. Di Indonesia, kita sudah punya farmakope herbal untuk standarisasi produk herba. Ini menunjukkan kita memiliki pengetahuan mendalam terkait proses dan khasiat berbagai tumbuhan untuk pengobatan dan kesehatan. Salah satunya jahe merah yang banyak jadi pilihan orang, apalagi ketika pandemi COVID-19 lalu,” jelas dr. Inggrid, melalui siaran pers, Selasa (4/11/2025).
Baca juga: 5 Obat Herbal Ampuh Atasi Cacingan pada Anak, Bunda Wajib Tahu!
Jahe merah merupakan salah satu herba asli Indonesia yang telah dimanfaatkan sejak lama. Tanaman rimpang berwarna merah gelap ini menjadi bagian dari pengobatan tradisional berbagai masyarakat adat—seperti suku Jawa, Tolitoli, Banjar, Madura, Batak, Dayak, Bugis, dan Sunda—untuk meningkatkan kekebalan dan vitalitas tubuh. Kini, penelitian modern semakin memperkuat pengetahuan lokal tersebut.
Kandungan gingerol, shogaol, dan zingerone dalam jahe merah menjadikannya bersifat antiinflamasi, antioksidan, antiemetik (mengurangi rasa mual), antibakteri, dan antidiabetes. Tidak heran jika jahe merah sering digunakan untuk meredakan mual akibat masuk angin dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Sebuah penelitian di jurnal Phytotherapy Research menunjukkan bahwa jahe merah berpotensi mengurangi gejala arthritis karena sifat antiinflamasinya. Sementara itu, studi yang diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology menemukan bahwa ekstrak jahe merah memiliki efek antidiabetes dan dapat membantu mengontrol kadar gula darah.
Satu jenis herba saja sudah terbukti memiliki banyak manfaat, apalagi ribuan herba lainnya. Pasar obat herbal Indonesia terus berkembang, mulai dari usaha kecil hingga industri berskala besar. Standarisasi obat herbal di Indonesia diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) untuk memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar nasional terkait kualitas, keamanan, dan manfaat bagi konsumen.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Inggrid menjelaskan tiga aspek penting yang harus dipenuhi oleh industri herbal, yakni:
Autentisitas, memastikan bahan yang digunakan benar-benar sesuai, misalnya menggunakan jahe merah asli, bukan jenis lain.
Kemurnian, memastikan bahan tidak terkontaminasi logam berat, mikroba, dan zat berbahaya lainnya.
Mutu, memastikan kandungan zat aktif dalam bahan berada pada kadar yang sesuai standar.
“Ekosistem obat herbal dari hulu sampai hilir diperlukan agar produk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi keamanan, kualitas, dan khasiat,” tutur dr. Inggrid Tania.
Ekosistem terintegrasi ini dimulai dari perbenihan dan budidaya bersama petani binaan, berlanjut ke proses pascapanen, ekstraksi, destilasi, hingga riset dan distribusi produk ke tangan konsumen. Dengan sistem ini, kualitas bahan alami dapat dipastikan, mendukung traceability dan keberlanjutan (sustainability) bisnis yang selaras dengan alam.
Namun, tantangan terbesar industri herbal nasional adalah belum terbentuknya ekosistem terintegrasi di sebagian besar produsen lokal. “Mayoritas industri obat herbal di Indonesia belum memiliki ekosistem. Kita jadi tidak bisa melacak sumber bahan baku, lokasi penanaman, dan potensi pencemaran. Permasalahan ini perlu kita perbaiki bersama pelaku usaha, pemerintah, dan organisasi agar standar produk herbal kita mampu bersaing secara global,” jelas dr. Inggrid.
Pembentukan standarisasi global ini menjadi fokus utama WHO-IRCH dengan membentuk farmakope dari berbagai negara, termasuk Indonesia, menjadi farmakope internasional acuan dunia dalam memproduksi produk herbal. Dengan adanya standarisasi dan jaringan internasional yang kuat melalui Traditional Medicine Strategy, negara-negara bisa mengenalkan produk herbalnya secara global.
Agenda penyusunan ini sudah dilakukan sejak 2024 dan di tahun 2025 ini, Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan WHO–International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) ke-16. Indonesia dapat memamerkan kemajuan riset dan industri yang telah memiliki ekosistem herbal terintegrasi berstandar tinggi, terutama jahe merah sebagai ikon Indonesia yang dengan giat dikembangkan oleh PT Bintang Toedjoe.
Dr. Inggrid pun menunjukkan signifikansi kunjungan ini. “Kedatangan WHO-IRCH ke Indonesia diisi oleh workshop dan kunjungan ke industri-industri terpilih yang sudah memanfaatkan jahe merah yang jadi herba asli Indonesia sebagai benchmark dan percontohan untuk masukan dalam pembuatan farmakope herbal internasional," pungkasnya.
Menanggapi hal ini, dalam sebuah siniar yang ditayangkan di YouTube, dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), menyampaikan pandangannya.
“Ribuan tumbuhan sudah dimanfaatkan sebagai pengobatan herbal sejak zaman nenek moyang. Di Indonesia, kita sudah punya farmakope herbal untuk standarisasi produk herba. Ini menunjukkan kita memiliki pengetahuan mendalam terkait proses dan khasiat berbagai tumbuhan untuk pengobatan dan kesehatan. Salah satunya jahe merah yang banyak jadi pilihan orang, apalagi ketika pandemi COVID-19 lalu,” jelas dr. Inggrid, melalui siaran pers, Selasa (4/11/2025).
Baca juga: 5 Obat Herbal Ampuh Atasi Cacingan pada Anak, Bunda Wajib Tahu!
Jahe merah merupakan salah satu herba asli Indonesia yang telah dimanfaatkan sejak lama. Tanaman rimpang berwarna merah gelap ini menjadi bagian dari pengobatan tradisional berbagai masyarakat adat—seperti suku Jawa, Tolitoli, Banjar, Madura, Batak, Dayak, Bugis, dan Sunda—untuk meningkatkan kekebalan dan vitalitas tubuh. Kini, penelitian modern semakin memperkuat pengetahuan lokal tersebut.
Kandungan gingerol, shogaol, dan zingerone dalam jahe merah menjadikannya bersifat antiinflamasi, antioksidan, antiemetik (mengurangi rasa mual), antibakteri, dan antidiabetes. Tidak heran jika jahe merah sering digunakan untuk meredakan mual akibat masuk angin dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Sebuah penelitian di jurnal Phytotherapy Research menunjukkan bahwa jahe merah berpotensi mengurangi gejala arthritis karena sifat antiinflamasinya. Sementara itu, studi yang diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology menemukan bahwa ekstrak jahe merah memiliki efek antidiabetes dan dapat membantu mengontrol kadar gula darah.
Satu jenis herba saja sudah terbukti memiliki banyak manfaat, apalagi ribuan herba lainnya. Pasar obat herbal Indonesia terus berkembang, mulai dari usaha kecil hingga industri berskala besar. Standarisasi obat herbal di Indonesia diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) untuk memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar nasional terkait kualitas, keamanan, dan manfaat bagi konsumen.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Inggrid menjelaskan tiga aspek penting yang harus dipenuhi oleh industri herbal, yakni:
Autentisitas, memastikan bahan yang digunakan benar-benar sesuai, misalnya menggunakan jahe merah asli, bukan jenis lain.
Kemurnian, memastikan bahan tidak terkontaminasi logam berat, mikroba, dan zat berbahaya lainnya.
Mutu, memastikan kandungan zat aktif dalam bahan berada pada kadar yang sesuai standar.
“Ekosistem obat herbal dari hulu sampai hilir diperlukan agar produk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi keamanan, kualitas, dan khasiat,” tutur dr. Inggrid Tania.
Ekosistem terintegrasi ini dimulai dari perbenihan dan budidaya bersama petani binaan, berlanjut ke proses pascapanen, ekstraksi, destilasi, hingga riset dan distribusi produk ke tangan konsumen. Dengan sistem ini, kualitas bahan alami dapat dipastikan, mendukung traceability dan keberlanjutan (sustainability) bisnis yang selaras dengan alam.
Namun, tantangan terbesar industri herbal nasional adalah belum terbentuknya ekosistem terintegrasi di sebagian besar produsen lokal. “Mayoritas industri obat herbal di Indonesia belum memiliki ekosistem. Kita jadi tidak bisa melacak sumber bahan baku, lokasi penanaman, dan potensi pencemaran. Permasalahan ini perlu kita perbaiki bersama pelaku usaha, pemerintah, dan organisasi agar standar produk herbal kita mampu bersaing secara global,” jelas dr. Inggrid.
Pembentukan standarisasi global ini menjadi fokus utama WHO-IRCH dengan membentuk farmakope dari berbagai negara, termasuk Indonesia, menjadi farmakope internasional acuan dunia dalam memproduksi produk herbal. Dengan adanya standarisasi dan jaringan internasional yang kuat melalui Traditional Medicine Strategy, negara-negara bisa mengenalkan produk herbalnya secara global.
Agenda penyusunan ini sudah dilakukan sejak 2024 dan di tahun 2025 ini, Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan WHO–International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) ke-16. Indonesia dapat memamerkan kemajuan riset dan industri yang telah memiliki ekosistem herbal terintegrasi berstandar tinggi, terutama jahe merah sebagai ikon Indonesia yang dengan giat dikembangkan oleh PT Bintang Toedjoe.
Dr. Inggrid pun menunjukkan signifikansi kunjungan ini. “Kedatangan WHO-IRCH ke Indonesia diisi oleh workshop dan kunjungan ke industri-industri terpilih yang sudah memanfaatkan jahe merah yang jadi herba asli Indonesia sebagai benchmark dan percontohan untuk masukan dalam pembuatan farmakope herbal internasional," pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :