Pewarna Rambut dan Catokan Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Payudara
Kamis, 06 November 2025 - 15:40 WIB
loading...
Pewarna rambut dan catokan bisa tingkatkan risiko kanker payudara. Foto/hair salon
A
A
A
JAKARTA - Gonta ganti warna rambut jadi salah satu pilihan cara untuk tampil beda. Namun ternyata mewarnai rambut juga bisa berdampak terhadap kesehatan, salah satunya peningkatan risiko kanker , terutama kanker payudara.
Ahli onkologi radiasi Chirag Shah, MD mengatakan bahwa dalam cat rambut terdapat lebih dari 5.000 bahan kimia agar pewarna rambut berfungsi dengan baik.
Di antara zat tersebut ada zat karsinogen yang diketahuidapat menyebabkan kanker. Dr. Shah mengatakan bahwa bahan kimia ini dapat mengganggu kerja dan kadar hormon dalam tubuh Anda serta meningkatkan risiko kanker.Bahan kimia yang perlu diperhatikan antara lain amina aromatik, 3-amino-4-metoksianilin, 2-nitro-4-aminoanilin, dan 3-nitro-4-hidroksianilin.
Baca Juga : Tak Harus Keramas Setiap Hari, Ini 4 Cara Cegah Rambut Lepek
Pewarna rambut permanen, yang menguasai sekitar 80% pangsa pasar, biasanya mengandung lebih banyak bahan kimia daripada pewarna rambut semi-permanen dan sementara. Pewarna rambut yang lebih gelap seringkali juga mengandung konsentrasi bahan kimia dan karsinogen yang lebih tinggi.
Yang mengkhawatirkan adalah apabila orang-orang mengaplikasikan pewarna rambut ke kulit kepala mereka. Karena diketahui bahwa pewarna rambut tersebut mengandung bahan kimia. Itulah mengapa ada begitu banyak penelitian.
Namun secara keseluruhan, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan bahwa penggunaan pewarna rambut untuk keperluan pribadi "tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan karsinogenisitasnya terhadap manusia."
Baca Juga : Cahaya Gawai Ternyata Bisa Tembus Lapisan Kulit, Ini Pentingnya Pakai Sunscreen
Namun, perlu dicatat bahwa IARC menemukan peningkatan risiko bagi penata rambut atau tukang cukur yang lebih sering bersentuhan dengan pewarna rambut. Badan tersebut mencantumkan paparan semacam itu di tempat kerja sebagai "kemungkinan karsinogenik."
Pewarna rambut ini erat dikaitkan dengan kanker payudara dibandingkan kanker lain.Sebuah studi yang relatif besar dari National Institutes of Health pada tahun 2019 meneliti hubungan antara kanker payudara dan penggunaan pewarna rambut serta pelurus rambut kimia. Study melibatkan lebih dari 45.000 perempuan.
Orang yang menggunakan pewarna rambut permanen secara teratur memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara dibandingkan mereka yang tidak.
Perempuan kulit hitam mungkin berisiko lebih tinggi dibandingkan perempuan kulit putih. Terdapat peningkatan risiko sebesar 45% pada perempuan kulit hitam dibandingkan dengan peningkatan risiko sebesar 7% pada perempuan kulit putih.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pewarna rambut semi-permanen juga dapat memengaruhi risiko kanker payudara. Menariknya, studi menunjukkan hasil yang beragam terkait penggunaan.
Meskipun pewarna rambut semi-permanen tidak dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi secara keseluruhan, mereka yang menggunakan pewarna rambut semi-permanen sendiri—tanpa bantuan penata rambut profesional memiliki hubungan dengan risiko kanker payudara.
Bagaimana dengan obat untuk pelurus rambut? Studi menemukan adanya peningkatan risiko kanker payudara. (Beberapa catokan rambut ini mengandung formaldehida, suatu karsinogen yang diketahui.)
Penggunaan catokan rambut dalam 12 bulan sebelum pendaftaran dalam penelitian ini dikaitkan dengan risiko kanker payudara 18% lebih tinggi. Penggunaan yang lebih sering juga meningkatkan risiko. Misalnya, mereka yang menggunakan catokan rambut setiap lima hingga delapan minggu memiliki risiko kanker payudara 31% lebih tinggi.
Ahli onkologi radiasi Chirag Shah, MD mengatakan bahwa dalam cat rambut terdapat lebih dari 5.000 bahan kimia agar pewarna rambut berfungsi dengan baik.
Di antara zat tersebut ada zat karsinogen yang diketahuidapat menyebabkan kanker. Dr. Shah mengatakan bahwa bahan kimia ini dapat mengganggu kerja dan kadar hormon dalam tubuh Anda serta meningkatkan risiko kanker.Bahan kimia yang perlu diperhatikan antara lain amina aromatik, 3-amino-4-metoksianilin, 2-nitro-4-aminoanilin, dan 3-nitro-4-hidroksianilin.
Baca Juga : Tak Harus Keramas Setiap Hari, Ini 4 Cara Cegah Rambut Lepek
Pewarna rambut permanen, yang menguasai sekitar 80% pangsa pasar, biasanya mengandung lebih banyak bahan kimia daripada pewarna rambut semi-permanen dan sementara. Pewarna rambut yang lebih gelap seringkali juga mengandung konsentrasi bahan kimia dan karsinogen yang lebih tinggi.
Yang mengkhawatirkan adalah apabila orang-orang mengaplikasikan pewarna rambut ke kulit kepala mereka. Karena diketahui bahwa pewarna rambut tersebut mengandung bahan kimia. Itulah mengapa ada begitu banyak penelitian.
Namun secara keseluruhan, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan bahwa penggunaan pewarna rambut untuk keperluan pribadi "tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan karsinogenisitasnya terhadap manusia."
Baca Juga : Cahaya Gawai Ternyata Bisa Tembus Lapisan Kulit, Ini Pentingnya Pakai Sunscreen
Namun, perlu dicatat bahwa IARC menemukan peningkatan risiko bagi penata rambut atau tukang cukur yang lebih sering bersentuhan dengan pewarna rambut. Badan tersebut mencantumkan paparan semacam itu di tempat kerja sebagai "kemungkinan karsinogenik."
Pewarna rambut ini erat dikaitkan dengan kanker payudara dibandingkan kanker lain.Sebuah studi yang relatif besar dari National Institutes of Health pada tahun 2019 meneliti hubungan antara kanker payudara dan penggunaan pewarna rambut serta pelurus rambut kimia. Study melibatkan lebih dari 45.000 perempuan.
Orang yang menggunakan pewarna rambut permanen secara teratur memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara dibandingkan mereka yang tidak.
Perempuan kulit hitam mungkin berisiko lebih tinggi dibandingkan perempuan kulit putih. Terdapat peningkatan risiko sebesar 45% pada perempuan kulit hitam dibandingkan dengan peningkatan risiko sebesar 7% pada perempuan kulit putih.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pewarna rambut semi-permanen juga dapat memengaruhi risiko kanker payudara. Menariknya, studi menunjukkan hasil yang beragam terkait penggunaan.
Meskipun pewarna rambut semi-permanen tidak dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi secara keseluruhan, mereka yang menggunakan pewarna rambut semi-permanen sendiri—tanpa bantuan penata rambut profesional memiliki hubungan dengan risiko kanker payudara.
Bagaimana dengan obat untuk pelurus rambut? Studi menemukan adanya peningkatan risiko kanker payudara. (Beberapa catokan rambut ini mengandung formaldehida, suatu karsinogen yang diketahui.)
Penggunaan catokan rambut dalam 12 bulan sebelum pendaftaran dalam penelitian ini dikaitkan dengan risiko kanker payudara 18% lebih tinggi. Penggunaan yang lebih sering juga meningkatkan risiko. Misalnya, mereka yang menggunakan catokan rambut setiap lima hingga delapan minggu memiliki risiko kanker payudara 31% lebih tinggi.
(wur)
Lihat Juga :